"Tidurlah kata-kata. Kita bangkit nanti"

Film adalah salah satu media untuk menceritakan tentang sejarah. Begitu pula dengan sejarah yang berhubungan dengan perkembangan bangsa Indonesia ketika menjelang runtuhnya rezim Soeharto. Ya, sosok Wiji Thukul lah yang sangat menarik perhatian di waktu itu hingga kini. Seorang aktivis yang memiliki peran penting pada masa pra reformasi. Ketertarikan akan sosok Wiji Thukul itulah yang membuat Anggi Noen, sutradara asal Yogyakarta membuat sebuah film yang menceritakan tentang kisah haru dan perjuangan Wiji Thukul dalam sebuah film berjudul “Istirahatlah Kata-Kata (Solo, Solitude)”.

Menuai kesuksesan di festival film International di Festival Film Locarno di Switzerland, “Istirahatlah Kata-Kata” kini siap memanjakan penonton film di Indonesia. Setelah beberapa waktu lalu ditayangkan di Jogja Asian-NETPAC Film Festival ke-11 pada tanggal 1 Desember 2016 di Empire XXI Yogyakarta, “Istirahatlah Kata-Kata” akan tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia direncanakan pada awal tahun 2017.

“Istirahatlah Kata-Kata” menceritakan sosok Wiji Thukul, seorang aktivis asal Solo, Jawa Tengah, yang terkenal sangat berani dan vocal. Jasa seorang Wiji Thukul dinilai besar karena ia sangat berperan penting dalam perkembangan demokrasi Indonesia, tepatnya saat menjelang runtuhnya rezim Soeharto pada masa awal reformasi. Ia melarikan diri ke Pontianak pada 27 Juli 1996, hingga akhirnya ia dinyatakan hilang pada tahun 1998 bersama 12 aktivis lainnya. Istrinya yang bernama Sipon menunggu kepulangan Wiji dengan segala kecemasan dan cibiran tetangganya. Hingga kini Wiji Thukul dinyatakan hilang tanpa diketahui keberadaan dan penyebabnya.

Film yang dikemas kurang lebih 90 menit ini menimbulkan berbagai argumen bagi penonton yang sudah dan yang belum mengenal sosok Wiji Thukul sebelumnya. Film dibuka dengan sedikit penjelasan melalui teks tentang kronologi yang terjadi pada waktu tahun 1998 lalu, kemudian diceritakan Wiji dengan karya puisinya sebagai pengenalan bahwa Wiji adalah seorang penyair. Setelah itu diceritakan tentang persembunyian Wiji ke Pontianak. Berawal tinggal di sebuah rumah petak kecil dengan sebuah pintu darurat untuk melarikan diri, hingga ia berusaha mengganti identitasnya baik KTP maupun penampilan fisiknya. Konflik yang dihadirkan dalam film ini sangat dramatis, dimana Sipon yang berada di Solo mengeluh, karena hampir setiap hari ada seseorang yang mencari Wiji ke rumah. Baik dari polisi, intel, maupun sosok yang menyeramkan lainnya. Konflik batin yang dialami Sipon bertolak belakang dengan rasa ketakutan yang dirasakan Wiji selama di Pontianak. Namun setiap konflik yang dihadirkan dalam film selalu diberi sentuhan dramatis dengan dimunculkannya kata-kata mutiara dari puisi Wiji melalui Voice Over.

Dalam keseluruhan film yang dibesut oleh sang sutradara, Anggi Noen, Wiji ditampilkan dengan karakter yang pendiam, kaku, namun apa adanya. Film ini diperankan oleh Gunawan Maryanto dengan sangat apik dan mendalami karakter Wiji Thukul. Selain latar belakang Gunawan atau yang akrab disapa Cindil ini adalah seorang pemain teater, Gunawan seolah dapat masuk ke dalam karakter Wiji yang sebenarnya. Selain Gunawan, pemain lainnya yang menghidupkan film ini antara lain Marrissa Anita, Melanie Subono, Eduwart Manalu, Arswendy Nasution, dan Davi Yunan.

Sebagai film yang menceritakan tentang sejarah, terutama sejarah yang berhubungan dengan perkembangan bangsa Indonesia, “Istirahatlah Kata-Kata” wajib untuk diberikan apresiasi yang lebih, dan dapat dijadikan salah satu dari sekian film sejarah yang ada di Indonesia.