“Gila macet banget, guys!” Setiap kali saya mengadakan pertemuan dengan teman-teman saya, percakapan awal pasti demikian. Terkadang saya bertanya pada diri saya sendiri, apa masih kondusif untuk tinggal di Jakarta?

Selayaknya New York, Jakarta sekarang ini menjadi every Indonesians dream. Lulusan universitas manapun, kalau ditanya, “setelah lulus mau bekerja dimana?” hampir pasti jawabannya adalah Jakarta. Pertanyaan lain sering kali datang pada saya, yang sudah setahun ini tidak memiliki pekerjaan tetap melainkan freelancer yang jam kerja dan upahnya bisa dibilang ‘suka-suka’. “Ada lowongan nih” Hening, “eh nggak deng, ini bukan di Jakarta”.

Kenapa dengan Jakarta?

Tidak usah munafik, mayoritas masyarakat datang ke Jakarta dengan harapan bisa hidup di bawah hingar bingar dan nyentriknya gaya hidup di Jakarta. Tapi, apakah semua orang bisa mendapatkan kehidupan yang demikian di Jakarta? Banyak orang yang datang ke Jakarta akhirnya hanya bisa menjadi low class worker atau sekedar ‘pegawai’ yang disuruh ini itu.

Gaji besar? Seberapa besar yang anda maksud besar?

Advertisement

Hidup di Jakarta membutuhkan uang banyak. Pada akhirnya gaji yang kita sebut besar ini hanya menjadi impas, boro-boro nabung, hidup saja terseok-seok. Dari harga tempat tinggal yang sangat meroket, terutama di pusat kota, tempat di mana perkantoran berada. Makanan pun. Warteg? Warung? Dengan uang sepuluh ribu kita mungkin hanya mendapatkan nasi dan satu lauk tanpa minum. Transportasi? Kan ada Transjakarta dan Commuterline, Mbak? Iya ada, namun tidak menjamah ke perumahan dan mohon diingat, kemacetan di Jakarta adalah mimpi buruk.

Weekdays, living hell.

Saya tinggal di pinggiran Jakarta dan di pinggiran Bekasi. Pintu tol terdekat dari rumah saya sudah memasuki daerah Jakarta. Bisa dibilang saya orang Jakarta pinggiran. Saat ini saya sedang menempuh masa magang di sebuah perusahaan start up di daerah Epicentrum yang senormalnya kalau tidak macet bisa dicapai hanya dengan 30 menit.

Jam kerja saya sebetulnya cukup manusiawi dan sesuai dengan peraturan yang ada, yaitu masuk jam 9 pagi dan pulang jam 6 sore. Dengan keterangan yang saya berikan sebelumnya bahwa jarak tempuh senormalnya rumah samapi Epicentrum adalah 30 menit, alangkah senangnya saya bila saya bisa berangkat dari rumah jam 8 pagi dan pulang kembali sampai rumah jam 7 malam. Tapi apa kenyataannya semembahagiakan ini?

Nyatanya di hari kerja, waktu 30 menit ini membengkak hebat. Pada pagi hari, dibutuhkan waktu paling sedikit satu setengah jam untuk saya meraih kantor. Hal ini lebih parah di hari senin. Dengan jam berangkat yang sama yaitu pukul 6.30 pagi, saya baru meraih kantor di pukul 9.15 alias telat. Dan butuh waktu tiga jam untuk saya meraih rumah dari kantor. Kenapa sangat berbeda di pagi dan sore? Sebetulnya ada variabel lain disini.

Saya berangkat dari rumah dengan diantar Ayah saya yang sudah pensiun dengan menggunakan mobil. Artinya? Artinya saya tidak perlu berputar-putar mengikuti trayek angkot, mengalami ngetem, dan berdesakan dengan para tentara semut hitam lainnya yang berusaha untuk menjaga dapur tetap mumbul. Di sore hari, saya harus menggunakan kendaraan umum untuk pulang. Di sini segala tantangan dimulai.

Ada berbagai cara supaya saya bisa pulang sampai di rumah dengan selamat. Paling tidak, sudah ada tiga cara yang saya coba. Cara pertama, naik ojek online langsung dari kantor sampai rumah. Cara ini mungkin sepintas merupakan jalan termudah dan terbaik, tapi pernah coba duduk di atas motor selama tiga jam di macetnya jalan Casablanca? Sangat tidak menarik. Dan juga ini tidak dapat diterapkan disaat hujan turun, dimana ini sedang sangat sering terjadi.

Kedua, jalan kaki sampai ke jalan Casablanca melipir kuburan Menteng Pulo di magrib-magrib lalu mencari peruntungan ada mikrolet 44 yang kosong, di mana ini susah sekali. Jika tidak ada yang kosong, maka jalan kaki sampai ke kawasan kota Casablanka adalah satu-satunya jalan untuk bisa mendapat angkot. Lalu, jika beruntung bisa turun di Kampung Melayu, jika tidak, hanya sampai Stasiun Tebet. Ternyata eksperimen saya hanya sampai stasiun tebet. Dari situ saya memutuskan untuk naik ojek online sampai di rumah karena saya kelelahan.

Ketiga, Ini cara yang sampai saat ini menjadi cara yang paling ok menurut saya, transjakarta. Saya bisa berjalan kaki sampai ke Pasar Festival selama 15 menit lalu naik ke bus yang dingin. Transfer di Kuningan Timur lalu naik ke Pinang Ranti. Dari Pinang Ranti lagi-lagi ojek online menjadi pilihan saya. Walaupun transjakarta cukup penuh dan hampir selalu saya harus berdiri, ternyata pilihan ini yang paling baik untuk saya. Memang lelah, namun tidak menjengkelkan dan tidak panas.

Satu hal yang lucu dari itu semua adalah saya pasti sampai di rumah paling cepat jam 8.30 malam. Bahkan pernah pukul 9.30 malam. Jadi tidak ada jalan lain, naik apapun saya pasti baru akan sampai di rumah sebegitu larutnya.

Jadi, apakah kerja ari pukul 9 sampai pukul 6 itu benar? Untuk saya itu lebih menjadi 6.30 samapi 8.30.


Lelah? Sudah pasti. Semua orang di Jakarta ini lelah. Apapun pekerjaannya, lelah.


Ketika saya sampai di rumah pukul 8.30 yang pasti saya langsung lakukan adalah mandi. Lalu, makan kemudian mengeringkan rambut dan sedikit berbincang dengan orangtua tentang apa yang terjadi hari itu dan tidak terasa sudah pukul 10 malam. Saya biasanya panik dan langsung pamit untuk tidur. Tapi apa bisa langsung tidur? Tidak. Biasanya saya akan golak-golek terlalu lelah di atas kasur hingga pukul 11 malam.

Keesokan paginya, seperti setiap pagi, saya akan bangun dan merasa sangat lelah di jam 4.30 pagi untuk mengulang kembali apa yang saya lakukan di hari sebelumnya.