Hari ini mungkin kita mengeluh tentang semua yang kita alami, seolah beban kita yang paling berat, seolah kita yang paling menderita, seolah kehidupan kita yang paling amburadul di bumi Allah ini.

Seolah pekerjaan kita yang paling banyak, seolah kita yang paling kekurangan.

Kita tidak pernah minta dilahirkan ke bumi ini bukan?

Bahkan kita tidak pernah meminta apalagi memilih dilahirkan dari keluarga mana,

Semua orang pasti menginginkan yang terbaik dalam hidupnya, kehidupan yang baik, keluarga yang baik dan lengkap, bahagia dan selalu rukun berkasih sayang.

Advertisement

Seolah kita yang memiliki penghidupan ini. Padahal semua hanyalah titipan bahkan diri kita sendiripun kelak akan di ambil untuk kembali pulang oleh sang Pemilik.

"Ilmu tertinggi hidup itu ada pada ikhlas dan bersyukur"

Simak Sebentar !

Ada seorang gadis, aku menyebutkan sebagai gadis perindu..

ia dilahirkan dari keluarga yang sederhana, beruntungnya orangtuanya memiliki pekerjaan yang tetap secara kasat mata ia tidak akan takut kekurangan.

Rumahnya memang jauh dari perkotaan, suasana hijau masih terasa disana, pesawahan dan perkebunan mayoritas masyarakat disana sebagai petani. Jika malam tiba suara khas ala pedesaan begitu terasa suara kodok dan jangkrik saling bersautan menyanyikan alunan lagu merdu yang meninabobokan.

sebut saja gadis perindu,

ia diberikan titah oleh sang Ayah untuk bekerja di suatu sekolah sebagai staff di sana, perjalanan yang harus ia tempuh setiap hari bukan pekerjaan mudah, saat musim kemarau harus berjuang melawan panas dan luka liku perjalanan menuju pulang dan berangkat, saat musim hujan ia harus berjalan kaki melewati hutan jati yang rimbun tanpa alas kaki, pesawahan dan rumah penduduk terlebih jika ia harus mengambil rute yang berbeda ada beberapa desa yang harus ia lewati untuk sampai dirumah dan tempat ia bekerja.

ia tidak diberikan pilihan mau kemana dan harus apa, sebagai seorang anak tentunya orangtua adalah patokan. 24 Tahun mengembara tidak diberikan pilihan seperti kita yang telah bebas memilih. Jika jejaknya terlihat mungkin ia tak perlu lagi berjalan dengan mata terbuka. Jalan itu sudah seperti sahabat karib baginya.

Sebagai anak muda, ia juga memiliki ambisi ingin seperti apa hidupnya memilih tempat ternyaman tanpa terusik kekisruhan keluarga. Memilih pekerjaan bahkan memilih mimpi – mimpinya sendiri. tetapi lagi – lagi ia tak punya pilihan untuk itu.

Apakah masih ingin mengeluh?

Setelah kita yang diberikan kebebasan oleh orangtua untuk memilih jalan yang mana, memilih mimpi – mimpi yang mana yang akan diwujudkan, memilih pekerjaan apa yang akan kita kerjakan sebagai tanggungjawab hidup.

Keikhlasan dan kesyukuran gadis itu telah membuka mata, bahwa seterbatas apapun kehidupan kita, serumit apapun jalan hidup kita jika ikhlas dan bersyukur meski selalu beruarai air mata kita pasti akan bisa melewatinya. menambah pahala dan menjadi pribadi yang lebih baik.

"Jika ada situasi yang tidak kamu sukai. kondisi yang membatasi. Jangan mengeluh. Hampir semua orang pernah berada atau mungkin masih berada pada keadaan yang tidak enak, capek, sakit, tidak punya uang, tidak suka pekerjaan yang sekarang, dan ujian – ujian hidup yang mungkin jauh lebih berat dari yang kita alami. Pada kondisi itulah, kamu bisa melihat, seberapa pejuang-kah dirimu?

Buang alasan.. NO EXCUSE ! Hadapi dengan senyum, tertawakan kesedihan."

Wallahu A'lam Bishawab