Maa…malam ini, mungkin beberapa malam terakhir untukku boleh merasa memilikimu. Aku ingat  banyak malam yang sudah kita habiskan, sekedar untuk bercanda, mengganggu satu sama lain atau hanya sekedar berbicara via telepon dengan penuh kesabaran mengikuti kemauan sinyal yang benar-benar menuntut untuk diperhatikan.

Sering kita berbicara sampai pagi tanpa sadar  apa yang telah kita bicarakan. Tertawa setengah berbisik karena takut mengganggu orang-orang di rumah. Hingga akhirnya salah satu diantara kita terpaksa sadar bahwa malam sudah hampir habis. Kemudian memaksa  salah  satu  dari kita untuk tidur. Walau kita  tahu, sebenarnya kita masih sanggup untuk berlama-lama bercerita tanpa tema.

Maa…pelan-pelan, berbicara, bercanda, menghabiskan malam denganmu menjadi sebuah candu untukku. Kadang saat kita disibukkan dengan rutinitas masing-masing, aku sedikit  menunggu kesempatan untuk sekedar bercerita denganmu. Mengisahkan berbagai hal yang ku alami hari itu  walau pada akhirnya aku lebih suka mendegar suaramu, mendengar semua ceritamu yang ku rasa jauh lebih menarik dari hari-hariku. Sering kau bertanya, apa aku tidak bosan bertelepon  denganmu  setiap  hari.  Itu  pertanyaan  yang masih  menjadi  rahasia  hati  dan  pikiranku  hingga  sekarang.

Bahkan aku pun tak diijinkannya untuk tahu mengapa aku tak pernah bosan bercerita denganmu, walau yang kita bicarakan bukanlah hal yang penting, bahkan hanya hal sederhana yang mampu menutup malam dengan sedikit rasa bahagia atas segala lelah hari itu.

Maa…mungkin  sudah  terlalu  banyak  rasa  yang  aku  biarkan  berjalan  mengikutimu. Mengikuti  setiap langkahmu tanpa tanya dimana dia akan berakhir.  Tapi  biarkanlah dia, hingga nanti dia lelah, dan akhirnya memutuskan untuk berhenti dan berbalik arah sekedar untuk beristirahat atau terlelap sekejap menunggu langkahmu mungkin terhenti. Berharap  masih  ada  sisa  waktu untuknya kembali dapat mengiringi setiap langkahmu. Abaikan saja, toh itu sudah cukup baginya.

Advertisement

Maa…rasa-rasanya aku sudah baik-baik saja tanpamu.Tanpa harapan akan hidup bersamamu. Tanpa ada angan-angan tentang hari yang akan kita habiskan bersama nantinya. Melangkahlah, jalani  kehidupanmu. Mungkin ini cara Tuhan mengingatkanku, bahwa  Dia  cemburu  padamu.  Cemburu  atas  banyaknya  rasa yang  ku  biarkan  mengikutimu.  Biarkanlah,  toh  Dia  memang  berhak atas segala yang terjadi atas diri kita.  

Aku percayakan semua. Aku syukuri kesempatan  dapat  bertemu  denganmu,  mengenalmu, menghabiskan waktu, berbagi kisah dan belajar bersamamu. Maa…Tidak  ada yang aku sesali sekarang, terimakasih atas semua rasa yang telah kau beri.  Terimakasih  atas  semua  waktu  yang telah  rela  kau  habiskan bersamaku.  Terimakasih atas semua  angan-angan yang pernah kita  bayangkan bersama. Terimakasih atas kesempatan untukku menikmati setiap candamu.  

Sekarang  saatnya kita berjalan dengan langkah masing-masing.  Memulai alur cerita baru. Membiarkan kisah kita tetap pada tempatnya hingga mungkin nanti skenario hidup masih mempertemukan kita entah dalam kisah baru atau dalam kehidupan  baru. Sampai nanti, entah kapan. Sampai bertemu lagi dalam kisah yang tak lagi sama. Sampai jumpa  dalam  cerita  dan  kehidupan  yang  baru.  Satu  pintaku,  ijinkan  rasa sayangku mengikuti setiap langkahmu,  hingga  mungkin nanti dia lelah dan berhenti atau justru menjadi pengingat bagi langkahmu bahwa kita pernah berada di titik ini saat ini. Sampai jumpa nanti di kesempatan yang berbeda.