Pagi itu adalah satu dari sembilan pagi yang telah kulalui biasa saja di Ramadhan kali ini. Bangun dan menyantap menu sahurku yang biasa, menyiapkan semua keperluan kantor, ke kantorku yang hanya berjarak sepeminuman teh dari rumah, dan akhirnya bertemu denganmu.

Jujur saja, sosokmu yang pertama kulihat bukanlah sosok yang bisa membuatku jatuh hati pada pandangan pertama. Hal itu bukan berarti kau tak menarik, hanya saja semua kepedihan di masa lalu telah membuatku mengunci hatiku untuk satu hal yang disebut cinta.

Aku melihatmu biasa saja, melihatmu melintas di sampingku seperti halnya puluhan orang lain yang melintas di sana setiap hari, hanya sekedar tersenyum ramah tanpa sedikit pun bertanya tentang sosokmu.

Sungguh aku tak pernah tahu bahwa beberapa menit kemudian Kau Tuhan dengan caramu yang sederhana cara-Nya yang luar biasa akan membuatku jatuh hati padamu. Bahwa kau, dengan segala hal yang kau bawa, akan mampu membuka mata dan hatiku yang telah bertahun-tahun kukunci.

Setelah sekian lama menutup hatiku, aku sungguh bahagia karena pada akhirnya pintu rapat itu terbuka karena sebuah alasan yang baik.

Kua tahu, sebuah kejadian di masa lalu telah memaksaku untuk menutup hatiku dengan sangat rapat. Sebuah rasa sakit di masa lalu telah membuatku berjanji untuk tak pernah jatuh cinta lagi, berjanji untuk melindungi diriku dari semua rasa sakit. Dan melindungi diri dari rasa sakit bagiku berarti membentengi diriku sendiri dari cinta.

Advertisement

Awalnya kupikir aku kuat dan sanggup. Aku menjauh dari mereka yang mendekat, menghindar dari mereka yang ingin menetap.

Tapi kemudian kau datang dan meluluhlantakkan semua pertahanan tiga tahunku hanya karena sebuah pemandangan luar biasa; Kau sholat, dan sholatmu bagus.

Aku tak pernah tahu kau anak siapa atau bagaimana keluargamu, aku tak pernah bertanya dan tak pernah mau tahu berapa gajimu, bahkan tak peduli dengan apa pun lagi.

Aku sungguh tidak mengagumimu karena hartamu, bukankah semua itu bisa dicari? Dan kalau pun pada akhirnya kita ditakdirkan untuk hidup sederhana, apa yang salah dengan itu? Aku dibesarkan dalam keluarga yang sederhana dan aku bahagia, sangat bahagia hingga detik ini.

Aku hanya tahu kau sholat dan sholatmu bagus, dan kemudian aku jatuh hati. Sesederhana itu ….

Kau dan semua kisah yang kau bawa bersamamu

Kemudian aku tahu tentang sebuah kisah yang bawa bersama setiap perjalananmu, kisah yang mungkin dialami semua orang yang pernah kau temui, kisah yang ditutupi tapi sungguh ada dan selalu ada.

Aku tak akan menilai dan menghakimimu karena semua perjuangan itu, bukankah setiap orang hidup untuk perjuangan mereka masing-masing? Apa yang salah dengan sebuah perjuangan untuk menuju tujuan hidup? Kumohon jangan menganggap dirimu aneh karena semua itu.

Jujur, dulu di masa lalu aku pun pernah memperjuangkan seseorang yang selalu ingin melepaskan diri. Aku menahannya sekuat tenaga, bermohon agar dia tidak pergi, berdoa agar dia tidak berubah. Perjuanganku sungguh lebih pedih dari yang kau tahu sekarang, sampai pada akhirnya aku kelelahan dan tahu tak ada gunanya menahannya yang ingin melepaskan diri dariku dan pergi bersama yang lain.

Maka aku merubah tujuan hidupku, merubah perjuanganku. Mengapa harus berjuang demi dia jika keluargaku membutuhkanku?

Sekarang tujuan hidupku adalah membuat keluargaku bahagia, adalah bertanggung jawab kepada mereka, dan membuat hidup mereka lebih mudah dengan memilikiku. Maka aku yang kau lihat sekarang adalah aku yang berdiri paling depan untuk bertanggung jawab pada keluargaku, aku yang kau lihat sekarang adalah anak perempuan yang akan melakukan apa pun, yang rela menunda banyak keinginannya untuk Mamaku.

Dan aku bahagia dengan itu. Jadi kumohon padamu, jika memang memperjuangkannya membuatmu bahagia, teruslah berjuang, Aku akan tetap berada di sampingmu sampai tiba waktunya bagiku untuk pergi dan mencari tempat lain.

Semua yang kulakukan hanyalah untuk melihatmu bahagia ….

Kuakui, sempat aku berpikir untuk merebutmu darinya. Berpikir kenapa harus dengannya kau bertahan, sedangkan aku lebih mampu membuatmu bahagia?

Aku bodoh ya, karena cinta tak pernah butuh alasan. Tapi kau jangan khawatir, telah kusadari betapa besarnya kau mencintainya. Sekarang yang ku inginkan hanyalah melihatmu bahagia, hanyalah membuatmu bahagia.

Maka sudah kuputuskan bahwa aku akan selalu ada untukmu, entah akan menjadi apa aku bagimu. Aku hanya ingin kau bahagia, setidaknya membuatmu sedikit berpikir bahwa aku telah berusaha keras untuk membuatmu bahagia.

Bahkan jika pada akhirnya kau tetap di sana, aku tetap bahagia mengenalmu.

Hey, jangan khawatir aku sungguh tidak mengharapkan lebih dari kebahagiaanmu. Bahkan jika pada akhirnya kau tetap memilih bersamanya, setidaknya aku pernah mengenalmu.

Kau telah membuka mataku bahwa tidak semua lelaki sejahat yang tiga tahun ini kupikir. Bertemu denganmu membuatku sadar, tidak adil rasanya menetapkan vonis itu pada semua orang hanya karena 'dia' pernah menyakitiku di masa lalu.

Aku hanya ingin melihatmu bahagia. Jadi jika memang dia yang di sanalah yang bisa membuatmu bahagia, maka ke sanalah. Aku tidak akan memohon agar kau tetap di sini.

Aku akan melepasmu dengan ikhlas. Mungkin akan berat, tapi aku tahu kebahagiaanmu adalah yang utama. Hey tapi kau tahu segala sesuatu bisa dipelajari? Dan itu termasuk belajar untuk jatuh cinta lagi.