Anak muda adalah poros peradaban ke depan. Karakter muda melekat pada perjalanan kehidupan kita. Sebagai bagian dari lingkungan sosial, baiknya kita harus sudah berhenti berpikir tentang persaingan dengan rekan, kolega, teman, atau bahkan pesaing lokal kita. Kini, harusnya kita sudah terjun dalam persaingan dengan banyaknya pemikir hasil didikan luar negeri.  Sudah, lupakan pesaingmu di dusun atau desa.  Beralihlah menantang sarjana-sarjana luar negeri lainnya  Move on lah.

Apalagi dengan banyaknya bantuan pendidikan/beasiswa baik dalam maupun luar negeri, baik difasilitasi oleh pemerintah atau lembaga dalam/luar negeri akan semakin banyak stok orang pintar di negeri ini kedepannya.  Jangan sampai lambat laun dengan semakin banyaknya jumlah usia muda produktif di negeri kita justru malah banyak yang tidak punya kontribusi.  Artinya, hidup di Indonesia hanya sekedar hidup. Enak dirasakan sendiri, tetapi sengsara menjerit kepada negara.  Boleh menjadi kritis, asalkan konsekuen.  Nyatanya, banyak orang yang ketika semasa kuliah mejadi aktivis yang paling terbaik dan begitu never trust government, tetapi ketika merasakan betapa membosankannya menjadi pengangguran, ditolak perusahaan berkali-kali, keluar uang banyak untuk modal mencari kerja, itu justru menyalahkan keadaan. Beralibi macam-macam dan ketika ditawari pekerjaan oleh pemerintah ya mau juga. Standar ganda, begitulah kira-kira.

Muda Berbahaya

Muda yang positif adalah yang mempunyai karakter semangat, di mana secara kepribadian kita punya pembawaan yang enerjik.  Tidak bisa dipungkiri bahwa naik turunnya mood anak muda sangat fluktuatif.  Terkadang ada saja hal yang membuat badmood.  Nah untuk yang masalah ini sebagai anak muda seharusnya kita bisa mengatasi.  Berkaca pada dunia persaingan saat ini, semangat harus diimbangi dengan karakter inovatif.  Siapa bilang inovasi hanya bisa dilakukan oleh anak-anak eksak maupun teknik.  Anak sosial juga bisa berinovasi.  Dengan style retorika, misalnya.  Maka, sudah sewajarnya jika anak muda sering jatuh bangun dalam perjalanan hidupnya.  Perlu ada usaha terus menerus dalam berjuang mewujudkan keinginan. 



Karena muara dari semangat, kemampuan bernovasi, dan perjuangan pantang menyerah adalah tentang tercapainya cita-cita yang diidam-idamkan.  Lebih dari itu, yang terpenting adalah agar kita bisa merasa bahagia.


Advertisement

Tengok saja Kota Bandung. Update-an Sang Walikota, Ridwan Kamil sering menyebut bahwa warga Bandung memiliki tingkat indeks kebahagiaan tinggi, sehingga ketika penghuni kota sebagian besarnya usia muda dan bahagia, nyamanlah kota itu untuk ditinggali. Tinggal bagaimana caranya warga kota menjaga citra bahagia yang melekat pada kotanya. 

Ngomong-ngomong soal anak muda juga seiring dengan perkembangan zaman yang sangat pesat, perpaduan antara teknologi dan kreativitas melahirkan banyak komunitas anak muda yang berkumpul dalam konten-konten tertentu untuk tentunya melakukan kegiatan yang positif.  Ini sudah cukup untuk berkontribusi terhadap lingkunan sendiri, setidaknya bisa merasakan ada yang lebih enjoy daripada sekedar melakukan kegiatan negatif.  Begitu juga dengan keseimbangan dari beberapa instansi, khususnya pemerintah yang juga harus secara sadar menggandeng komunitas anak muda sebagai ambassador melawan segala bentuk kegiatan negatif yang sering dilakukan oleh anak muda.  Sehingga, jadilah anak muda yang berguna, mengingat muda itu berbahaya.

Karakter Pemimpin

Untuk bisa mengarungi peradaban ke depan, anak muda ada baiknya mulai merubah cara pandang yang tadinya berpandangan sempit menjadi berpandangan luas.  Artinya, sebagai anak muda kita harus memilah jika ada informasi (barangkali hoax), berpikir dahulu sebelum berbicara (barangkali salah ngomong), atau bagaimana cara berargumen ketika berbeda pendapat dengan orang lain.  Ya, sederhananya jangan jadi kaum sumbu pendek yang baper-an lah.  Karena sebagai anak muda belajarlah untuk bisa berkarakter pemimpin yang tegas, peka, dan low profile.  Kenapa kita yang muda perlu memiliki kareakter pemimpin? Karena, sebenarnya disadari atau tidak hidup ini adalah soal persaingan.  Pemimpin harus mampu bersaing, oleh karena itu penting sekali karakter kepemimpinan untuk memenangkan persaingan saat ini.

Bicara soal pemimpin, kita bisa belajar di manapun kita berada dan apapun profesi kita.  Di perusahaan tempat kerja jelas masalah kepemimpinan selalu menjadi sorotan. Pastinya pemimpin yang memimpin perusahaan pun relatif juga, karena pemimpin sangat melekat dengan kepribadian dari orangnya.  Serba-serbi dunia kerja yang dilalui sebagai karyawan pasti akan bisa kemudian menyikapi tipe kepemimpinan atasan. Jadikan saja sebagai pelajaran siapa tahu nanti-nantinya kita bisa menjadi pemimpinnya.

Selagi kuliah kita belajar tentang kepemimpinan di organisasi.  Organisasi mengajarkan kita bijak dalam mengatur waktu dan tanggung jawab. Kegiatan selesai, kuliah pun lancar. Itu tantangannya karena kita harus memimpin diri sendiri dan memimpin orang lain.  Bedanya dengan kalau kita bekerja adalah ketika belajar kepemimpinan di organisasi kita tidak dibayar. Maka, jadikanlah pengalaman dan pembelajaran untuk persiapan setelah lulus kuliah nantinya.

Kalau kita buka usaha, itu lebih ngena lagi karena kita benar-benar belajar mengorganisir diri dan usaha/bisnis yang kita tekuni.  Masa-masa itulah di mana kita bisa menginvestasikan diri kita dalam bentuk waktu yang mengajari kita tentang kepemimpinan.  Kembali lagi, semua perkara memimpin diri sendiri dan memimpin orang lain.


Masa sekarang adalah masa investasi untuk masa depan.  Ke depan Indonesia butuh kontribusi kita ketika generasi muda memimpin negeri ini. 


 

Maka, bersiaplah dari sekarang.  Siapa tahu kita yang bakal jadi presiden di masa depan.  Apalagi ke depan teknologi akan semakin canggih dan kompleksitas permasalahan negeri ini akan semakin rumit.  Jadi, ke depan Indonesia butuh problem solvers agar bisa menjadi negara yang juara, terbaik, dan mantap jiwa.