Tiap gelap malam, aku terduduk dengan kesenderian yang mengarungi hatiku, hanya sebatang lilin setia dengan cahaya kecilnya menemani diri ini dan jiwa yang kosong. Aku saat ini berkawan dengan kesunyian, bahkan sahabat sejatiku saat ini hanya kegelapan dalam malam, kesunyian dan sebatang lilin.

Memang aneh, tapi keanehan ini membuat aku nyaman dalam pemikiran-pemikiranku soal cinta yang tabu. Saat ini bagiku sangat tabu apapun tentang cinta, buatku cinta hanya imajinasi yang bisa kapan saja datang dan pergi. Tapi kedatangannya sangat sulit, karena tak semudah mendapatkannya selayaknya membalikan telapak tangan, dan sangat sulit untuk kepergiannya, bahkan kepergian sebuah cinta didampingi oleh rasa benci, rasa benci yang sangat amat besar.

Terkecuali sebuah cinta sejati yang dijalani atas dasar hati nurani kepergiannya tak mendatangkan kebencian, tetapi mendatangkan doa-doa kebahagiaan yang tak lekang oleh waktu.

Semua manusia mampu merasakan rasa cinta, tapi tidak semua manusia mampu menghargai cinta yang sangat tulus diberikan. Tidak semua manusia mampu membuka mata dengan hati nurani hanya untuk melihat arti dari makna terdalam apa sebuah ketulusan cinta yang suci.

Jangan membawa cinta dalam sebuah kebohongan, pengkhianatan karena cinta itu sangat suci.

Advertisement

Dan aku selama ini salah menganggap sebuah cinta itu memang benar adanya dengan membawa sebuah harapan besar kebahagiaan.