Pemanasan global atau global warming merupakan fenomena peningkatan suhu temperatur secara global meliputi suhu rata-rata atmosfer, laut, serta daratan bumi. Hal ini terjadi karena peningkatan gas emisi karbondioksida, metana, CFC, dan dinitroksida sehingga energi matahari terperangkap dalam permukaan bumi. (Jubilee Enterprise, 2010)

Terkait dengan isu global worming, lembaga-lembaga internasional sedang gencar-gencarnya berdiskusi untuk mencari solusi atas permasalahan ini. Berbagai konferensi peduli lingkungan, pengalokasian dana reboisasi, dan gerakan-gerakan hijau terus dilaksanakan sebagai usaha mengurangi efek rumah kaca akibat pemanasan global. Namun, keadaan ini justru berbanding terbalik di negara kita. Di Indonesia permasalahan pemanasan global belum mendapat perhatian khusus oleh pemerintah dan masyarakat.

Di Indonesia problematika sosial, ekonomi, pendidikan, dan semacamnya sudah cukup membuat pemerintah kewalahan, sehingga urusan pemanasan global terpaksa dinomorsekiankan oleh negara. Salah satu buktinya adalah minimnya anggaran negara untuk masalah lingkungan dan hutan. Berdasarkan portal berita Viva (17 September 2015), Ketua Komisi IV DPR, Edhy Prabowo, menyayangkan adanya penurunan anggaran di Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLH), yang tahun ini pagu anggarannya adalah Rp6,6 triliun dipotong menjadi Rp 6,3 triliun untuk tahun 2016. Menurutnya anggaran tersebut masih terlalu kecil untuk pengawasan hutan di Indonesia yang begitu luas. Edhy menyebutkan bahwa kawasan hutan Indonesia sekitar 120 juta hektar.

Dengan anggaran Rp6,3 triliun, berarti per hektarnya hanya mendapat Rp52.500, dan untuk mengawasi hutan satu tahun pemerintah kita hanya menganggarkan Rp52.500 per hektarnya. Dengan harga sekian pengawasan hutan pastinya sangat terbatas. Dari peristiwa tersebut dapat ditangkap bahwa pemerintah Indonesia belum mampu mengutamakan masalah global warming yang telah menjadi isu masyarakat internasional.

Seiring perjalanan waktu, problematika pemanasan global yang kurang terurus ini telah membuat Indonesia merugikan dunia. Dikutip dari portal berita Tempo (5 Maret 2015), berdasarkan penelitian mengenai defrostasi dan degradasi di Indonesia tahun 2011, Indonesia menempati peringkat enam penyumbang emisi karbon dunia. Jumlah karbon yang disumbangkan Indonesia mencapai dua gigaton. Dari data tersebut, Indonesia secara langsung bertanggung jawab atas terjadinya pemanasan global di dunia.

Advertisement

Seyogyanya negara kita lebih memerdulikan fenomena global warming lantaran menyangkut kepentingan masyarakat dunia. Hal tersebut cukup memprihatinkan, karena Indonesia merupakan salah satu paru-paru dunia yang menjadi penopang ketersediaaan oksigen di dunia, justru sekarang sebaliknya, Indonesia menjadi salah satu negara penyumbang emisi terbesar di dunia. Pemerintah dan masyarakat sepatutnya bekerja sama dalam melaksanakan gerakan-gerakan penghijauan guna mencegah dampak buruk yang ditimbulkan global warming. Namun, lantaran keterlambatan pencegahan, salah satu dampak merugikan global warming kini telah dirasakan oleh masyarakat di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Dampak tersebut adalah perubahan iklim.

Perubahan iklim adalah perubahan rata- rata salah satu atau lebih elemen cuaca pada suatu daerah tertentu, sedangkan istilah perubahan iklim skala global adalah perubahan iklim dengan acuan wilayah bumi secara keseluruhan (LAPAN, 2002). Di sumber lain, IPCC (2001) mendefinisikan perubahan iklim merujuk pada variasi rata-rata kondisi iklim suatu tempat atau pada variabilitasnya yang nyata secara statistik untuk jangka waktu yang panjang (biasanya dekade atau lebih). Selain itu, diperjelas bahwa perubahan iklim mungkin karena proses alam internal maupun ada kekuatan eksternal, atau ulah manusia yang terus-menerus mengubah komposisi atmosfer dan tata guna lahan.

Perubahan iklim memiliki dampak sangat buruk bagi kehidupan manusia. Berbagai pemberitaan di media telah melaporkan perubahan lingkungan menyebabkan kerugian besar terhadap sektor-sektor tertentu, salah satunya di sektor pertanian. Menurut Jacqueline McGlade, Kepala Divisi Peringatan Dini United Nation Environment Programme (2016), UNEP mengidentifikasi masalah yang disebut "poison chalice", akumulasi racun pada tanaman hasil panen akibat perubahan iklim. Alam memaksa tanaman pangan untuk beradaptasi dengan kondisi kekeringan atau banjir. Sayangnya, adaptasi itu berpotensi memicu akumulasi racun pada tanaman pangan tersebut.

Dalam keadaan normal, tanaman akan memproduksi seluruh rangkaian protein dan berbagai macam nutrisi yang berguna. Namun, ketika kekeringan atau banjir terjadi, tanaman akan merespon dengan cara berbeda. Akibat dari hal itu, selain turunnya produktivitas, tanaman dapat mengakumulasi zat tertentu yang bersifat racun bagi manusia dan hewan. Salah satu zat yang bisa terakumulasi pada tanaman pangan adalah nitrat. Dari tanaman pangan, nitrat bisa terakumulasi pada tubuh manusia jika manusia memakannya. Dalam kadar tretentu, nitrat bisa bersifat toksik. Senyawa lain yang berpotensi meracuni manusia adalah hidrogen sianida.

Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa pemasan global tidak hanya berdampak pada tumbuhan, tetapi juga pada manusia. Jika perubahan iklim terus terjadi, pasokan pangan dari hasil panen terpaksa harus diberhentikan sehingga akan mengurangi kecukupan kebutuhan pangan di dunia. Selain itu, di sektor ekonomi, berdasarkan laman resmi Kemenku (6 Juni 2016), Bambang P.S. Brodjonegoro, Menteri Keuangan, memperkirakan inflasi dalam rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBNP) 2016 pada kisaran 4,0 %, salah satu penyebabnya adalah keterlambatan musim panen akibat perubahan iklim. Jika hal tersebut sungguh terjadi, maka dampak yang ditimbulkan akan benar-benar mencekik masyarakat Indonesia karena hingga saat ini harga-harga kebutuhan pokok telah menjulang tinggi, sedangkan pendapatan masyarakat masih saja dibawah standar.

Selain berdampak pada tumbuhan dan manusia, pemanasan global juga berdampak pada lingkungan. Dampak pada lingkungan ini adalah terjadinya bencana alam di setiap wilayah. Seperti dikutip dari situs Replubika (1 Maret 2016), berdasarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sejak 1 Januari hingga 12 Februari 2016, berbagai bencana tanah longsor, banjir, dan puting beliung dilaporkan telah melanda 290 kabupaten dan kota di Indonesia akibat perubahan iklim.

Melihat betapa mengerikannya dampak perubahan iklim, pihak yang bertanggung jawab tidak cukup pemerintah, peran masyarakat, khususnya generasi muda, sungguh dibutuhkan pula. Berdasarkan sensus penduduk pada tahun 2010 yang tersedia pada laman resmi Badan Pusat Statistik, penduduk pada kelompok umur 15 19, 20 24, dan 25 29 tahun (penduduk generasi muda) menduduki posisi paling tinggi setelah penduduk pada kelompok anak-anak. Ini berarti generasi muda memegang kekuatan besar dalam membangun negara.

Dengan tenaga dan waktu yang dimiliki, kaum muda pastinya mampu melakukan perubahan di Indonesia untuk menjadikan negara ini menjadi lebih maju. Permasalahan global warming yang telah dikesampingkan pemerintah seharusnya menjadi konsen tersendiri bagi generasi muda Indonesia untuk segera diatasi. Namun, bagaimana cara generasi muda mengajak masyarakat untuk peduli dan melakukan aksi nyata dalam isu perubahan iklim? Hal inilah yang menjadi fokus dalam penulisan ini.

Di era digital seperti sekarang perkembangan internet di Indonesia terus melaju semakin pesat. Hampir semua masyarakat menggunakannya untuk berbagai kepentingan. Bahkan, dikutip dari portal berita Kompas (24 November 2014), menurut lembaga riset pasar e-Marketer, populasi netter Tanah Air mencapai 83,7 juta orang pada 2014. Angka yang berlaku untuk setiap orang yang mengakses internet setidaknya satu kali setiap bulan itu menempatkan Indonesia di peringkat ke-6 di dunia dalam hal jumlah pengguna internet. Tak heran internet mampu memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan sosial di Indonesia. Seperti yang kita lihat sekarang banyak sekali tren-tren dari internet yang membuat masyarakat Indonesia kontan mengikutinya, misalnya tren foto selfie, permainan Pokemon Go, komik meme, video vlog, dan masih banyak lagi. Melihat kejadian tersebut, bayangkan jika kita menggunakan internet untuk menciptakan tren positif, pastinya kita dapat memberikan manfaat besar kepada masyarakat luas.

Dikutip dari laman portal berita Kompas (20 Oktober 2015), Indonesia ternyata menjadi salah satu negara pengakses Youtube terbesar se-Asia Pasifik. Dari kutipan tersebut tidak mengherankan jika banyak tren-tren yang muncul di kalangan anak muda berasal dari video-video Youtube. Jika kita telusuri lebih lanjut mengenai tren Youtube, akhir-akhir ini situs tersebut dihebohkan oleh kehadiran suatu tren video yang disebut vlog.

Raditya Dika, Karin Novilda, dan Kaesang Pangarep merupakan jajaran-jajaran vlogger muda yang kerap menjadi pusat perhatian masyarakat di Indonesia. Sejatinya, ungkapan vlog berasal dari frasa video blog dan vlogger adalah sebutan untuk seseorang yang membuat vlog. Dalam segi format, video vlog berbeda dengan video pada umumnya, format video vlog sangat sederhana dan tidak membutuhkan proses editing yang rumit. Namun, inilah kelebihan vlog: mudah diproduksi. Vlog biasanya berisi rekaman ringan yang menceritakan seseorang menjalani rutinitas sehari-harinya.

Di video tersebut vlogger akan menunjukkan seluk-beluk kesehariannya sesuai latar belakang mereka masing-masing. Seperti Raditya Dika yang menayangkan rutinitasnya sebagai seorang penulis dan aktor, Karin Novilda yang memperlihatkan kehidupannya sebagai seorang selebritis Instagaram, dan Kaesang Pangarep yang menunjukkan rutinitasnya sebagai anak seorang presiden. Dalam waktu singkat vlog ternyata mampu menarik masyarakat untuk berbondong-bondong meniru memproduksi jenis video tersebut. Melihat begitu berpengaruhnya tren vlog yang dibuat generasi muda pada masyarakat, maka vlog adalah media kampanye yang paling cocok untuk mengajak masyarakat berpartisipasi dalam isu perubahan iklim. Namun, bagaimana konsep pembuatan vlog yang dapat dibuat anak muda guna memberikan perubahan posistif berkaitan isu perubahan iklim? Berikut penjelasannya.

Konsep pembuatan vlog dalam rangka mengajak masyarakat untuk peduli akan perubahan iklim di Indonesia

Di awal video vlog, vlogger memperkenalkan diri mereka, mulai dari nama, asal daerah, profesi, pengalaman hidup, latar belakang, dan semacamnya. Hal ini bertujuan untuk membangun koneksi dengan penonton. Kemudian vlogger bercerita ringan mengenai isu-isu harian yang berkaitan dengan perubahan iklim, seperti semakin meningkatnya suhu akhir-akhir ini, cuaca yang sering tidak menentu, banyaknya terjadi bencana alam, dan sebagainya. Setelah itu, vlogger menjelaskan keterkaitan antara isu ringan tersebut dengan perubahan iklim. Barulah vlogger menjabarkan tentang apa itu perubahan iklim, penyebabnya, dan dampak negatifnya terhadap kehidupan manusia.

Selanjutnya, video vlog diisi dengan rekaman vlogger yang memperlihatkan kerusakan alam akibat perubahan iklim di daerah mereka masing-masing, misalnya bencana kekeringan, kebakaran hutan, atau banjir bandar. Pada bagian ini vlogger mengungkapkan keprihatinannya melihat keadaan alam di daerah mereka yang rusak akibat perubahan iklim. Rekaman ini sangat krusial untuk disisipkan ke dalam video vlog karena dengan memperlihatkan realitas dampak perubahan iklim yang terjadi, penonton bisa menyaksikan secara langsung bukti dari perubahan iklim. Tidak hanya cukup mengetahui, video yang menunjukkan kerusakan alam dan ungkapan keprihatinan vlogger pastinya mampu menggerakkan hati para penonton untuk melakukan aksi nyata.

Selanjutnya, video vlog diisi dengan vlogger memperagakan aksi-aksi kecil dalam kehidupan sehari-hari yang dapat mencegah dampak perubahan iklim semakin parah, seperti mengurangi penggunaan air conditioner (AC), membatasi penggunaan kendaraan bermotor, dan melaksanakan gerakan-gerakan penghijauan. Vlogger harus memperagakan setiap aksinya dengan gaya khas masing-masing untuk membuat para penonton semakin tertarik. Vlogger wajib memberikan penjelasan dari setiap aksi yang mereka peragakan. Misalnya dalam hal mengurangi penggunaan AC, vlogger dapat menjelaskan tujuan dari mengurangi penggunaan AC, dampak negatif dari pemakaian AC yang berlebihan, dan hal-hal semacamnya. Vlogger harus menunjukkan langkah-langkah tersebut seekspresif dan sejelas mungkin supaya penonton benar-benar terdorong mempraktekannya di kehidupan mereka.

Di akhir video, vlogger memperkenalkan komunitas-komunitas peduli lingkungan yang ada di setiap daerah di Indonesia kepada penonton. Tujuannya adalah mengajak para penonton untuk bersatu bersama komunitas daerahnya dalam melakukan gerakan penghijauan. Vlogger juga wajib memberikan informasi kontak komunitas-komunitas tersebut, seperti website dan akun media sosial, sehingga memudahkan para penonton berpartisipasi. Selain itu, vlogger juga dapat membuka ruang diskusi di blog atau website yang ditujukan kepada para penonton untuk bersama-sama membahas fenomena perubahan iklim. Di samping itu, ruang diskusi tersebut juga bisa menjadi media publikasi masyarakat untuk mengungkapkan inovasi-inovasi mereka dalam mengatasi perubahan iklim. Dengan adanya langkah ini ini, jumlah masyarakat yang melakukan gerakan hijau akan semakin banyak dan dampak yang diberikan akan semakin luas pula. Forum diskusi akan semakin banyak diadakan dan projek-projek penghijauan akan semakin dilaksanakan masyarakat. Berbagai aksi ini pastinya akan membuat penghijauan benar-benar tercipta di negara kita.

Perubahan iklim merupakan sesuatu yang sangat kompleks dan hanya bisa diatasi dengan kerja sama dari semua pihak, terutama masyarakat. Untuk bisa membangun kerja sama, komunikasi adalah kunci utamanya. Kemajuan teknologi disertai munculnya sosial media telah membuka kesempatan berkomunikasi antar masyarakat menjadi semakin mudah. Vlog adalah salah satu dari fasilitas sosial media yang paling banyak diminati masyarakat.

Vlog mampu menjadi sarana komunikasi paling efektif bagi generasi muda untuk menyadarkan dan mengajak masyarakat turut serta mengatasi isu perubahan iklim. Dengan adanya vlog yang memberikan informasi perubahan iklim, bukti-bukti kerusakan alam, dan aksi-aksi kecil, maka masyarakat tentunya akan terdorong untuk melakukan gerakan-gerakan hijau. Semakin banyak masyarakat yang berpartisipasi, maka semakin cepat pula isu perubahan lingkungan teratasi.

sumber data:

[Kemenkeu]. 2016. Menkeu Perkirakan Sasaran Inflasi di RAPBNP 2016 Sebesar 4,0 Persen.www.kemenkeu.go.id/en/node/49902. (diakses pada 21 Oktober 2016).

[BPS]. 2010. Penduduk Menurut Kelompok Umur, Daerah Perkotaan/Perdesaan, dan Jenis Kelamin. http://sp2010.bps.go.id/index.php/site/tabel?tid=263&wid=0 (diakses pada 19 Oktober 2016).

Setiawan, Iwan. 2012. Agribisnis kreatif: pilar wirausaha masa depan, kekuatan dunia baru menuju kemakmuran hijau. Jakarta: Penebar Swadaya.

Enterprise, Jubilee. 2010. Membangun Kantor Ramah Lingkungan dengan Internet. Jakarta: Elex Media.

Suyanto, Bagong. 2016. Negeri Darurat Bencana. www.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/16/03/01/o3cjc8-negeri-darurat-bencana. (diakses pada 19 Oktober 2016)

Sitepu, Mehulika. 2016. Perubahan iklim bisa 'picu kerugian' hingga 13% PDB Indonesia.www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/10/161011_majalah_lingkungan_laporan_adb. (diakses pada 19 Oktober 2016).

Novena, Manik. 2016. Perubahan Iklim Membuat Bahan Makanan Lebih Beracaan, www.nationalgeographic.co.id/berita/2016/06/perubahan-iklim-membuat-bahan-makanan-lebih-beracun. (diakses pada 19 Oktober 2016).

Nistanto, Reska K.. 2015. Indonesia, Penonton Youtube Terbesar se-Asia Pasifik. tekno.kompas.com/read/2015/10/20/17315317/Indonesia.Penonton.YouTube.Terbesar.se-Asia.Pasifik. (diakses pada tanggal 19 Oktober 2016).

Yusuf, Oik. 2014. Pengguna Internet Nomor Enam Dunia. tekno.kompas.com/read/2014/11/24/07430087/Pengguna.Internet.Indonesia.Nomor.Enam.Dunia. (diakses pada tanggal 19 Oktober 2016).

Titiyoga, Gabriel Wahyu. 2015. Indonesia Peringkat 6 Penyumbang Karbon Dunia.www.tekno.tempo.co/read/news/2015/03/05/061647425/indonesia-peringkat-6-penyumbang-karbon-dunia. (diakses pada 21 Oktober 2016)