“Kondisi politik, agama, dan kebinekaan indonesia kini sudah semakin runyam. Semua ini berakar dari Jakarta. Kalau saja pemilihan gubernur Jakarta tidak ada, Indonesia tak akan seperti negeri bedebah seperti saat ini”

Hiruk pikuk tak pernah sepi bergentayangan di tanah air. Indonesia kini sedang berada pada masa kritis stadium empat. Ibarat kata pepatah, sudah berada di ujung tanduk, dan hanya menunggu waktu saja, telur itupun akan terjatuh dan terpecah hingga menyisakan beling-beling pecahan. Tuhan…. Semoga itu hanya hayalan ku semata. Indoesia tidak akan menjadi separah itu, namun sayang pikiran positif mengenai negeri ini belum juga ada hingga saat ini. Bayang-bayang negatif akan kehancuran negeri ini terus terbayang di kepalaku. Tinggal menunggu waktu saja. Selama waktu terus berdetak, selama itu pula hati ini tetap was-was mengintip kondisi masa depan negeri ini. Negeri yang katanya memiliki keindahan seperti negeri Atlantis. Namun semoga saja tidak mengikuti jejaknya menjadi sejarah dan dongeng anak-anak kecil. Tenggelam dan hanya menyisakan mitos. Negeri ini tidak boleh menjadi mitos. Namun sayang, masa depan yang kuintip masih pula remang-remang tak jelas. Ambigu…

Semua gara-gara Jakarta. Inilah saatnya untuk iri dengan kota yang satu ini. Kota spesial yang ada di Indonesia, dengan gemerlap kehidupan metropolitan dan sikap individualis yang sudah mulai mengakar seperti hidup di negeri Adidaya. Negeri yang saling tolong-menolong hanya dan hanya jika ada maksud terselubung. Negeri yang dimana satu tetangga tak mengenal tetangganya meskipun hanya berjarak satu pal saja. Kesimpulannya , you are nothing if you have nothing.

Semua gara-gara Jakarta. Jika saja jakarta tidak menyelenggarkan pemilihan gubernur, maka kondisi politik, agama dan persatuan Indonesia tidak akan terganggu seperti saat ini. Indonesia saat ini sedang bising, terusik oleh kegaduhan yang telah diciptakan oleh Jakarta, kota Adidaya yang telah diciptakan sendiri oleh Indonesia. Jakarta tumbuh menjadi kota yang besar dan berkembang pesat, namun seiring itu pula permasalahan yang diciptakannya semakin mengglobal. Jakarta menebarkan virus kebencian ke setiap penjuru tanah air. Hingga satu tetanggapun sampai tak bertegur sapa karena berbeda paham atas konflik yang telah diciptakannya.

Semua gara-gara jakarta. Jika saja Jakarta tak ada pemilihan gubernur, mungkin presiden ke enam kita saat ini sedang bersantai ria menghabiskan masa tuanya bersama keluarga di taman belakang rumahnya. Namun sayang, gara-gara Jakarta, iapun harus mengikut sertakan anaknya kedalam lingkungan politik yang terekenal bengis dalam hukum rimbanya. Iapun terseret, berbagai issue menempar mukanya, hingga ia merasa sudah tak pantas berada di negeri yang pernah di pimpinnya sendiri dulu. Hanya saja apabila pemilihan gubernur jakarta tidak ada, SBY tidak akan terbully seperti ini. Zaman ini sungguh semakin edan. Zaman dimana ketika rakyat sudah tak semakin respect kepada mantan presidennya, padahal sudah 10 tahun ia mengabdi dengan baik. namun sayang, tangan-tangan pintar orang berpendidikan tinggi telah mencoreng namanya dengan menuduhnya berbagai macam hal, keberhasilannya tak pernah diumbar, hanya keburukan saja yang diungkit dengan tujuan untuk memojokkannya. Hanya orang bependidikan tinggi saja yang mampu melakukan semua itu. Astaga, apakah mereka tidak dapat mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan pada saat dulu mengenyam bangku sekolah dasar? Mereka memang pintar, namun sayang sekali, kepintarannya menorehkan kata-kata dijadikan sebagai senjata untuk menyerang saudaranya sendiri. Para ahli bahasa yang pintar memainkan kata-kata, dengan membabi buta merangkai kata-kata provokasi ke pada seluruh penjuru tanah air dengan tujuan menyerang presiden SBY. Selamat datang di negeri Indonesia, negeri yang tak menghormati dan menghargai jasa-jasa pemimpinnya.

Advertisement

Semua gara-gara jakarta. Jika saja Jakarta tidak ada pemilihah gubernur, mungkin tidak akan ada aksi demonstrasi berjilid-jilid yang menghiasi bumi pertiwi ini. Sejak aksi demonstrsi yang berjilid-jilid tersebut, indonesia semakin runyam. Padahal hanya soal Jakarta. Namun imbasnya sudah mewabah kemana-mana. Indonesia dibuat porak-poranda. Aksi 212 dan 411 yang telah menyerang jantung indonesia beberapa minggu lalu benar-benar menyisakan lubang luka yang sangat dalam bagi rakyat indonesia. Rakyat indonesia menjadi terpecah belah. Tragedi Ahok telah menimbulkan gap antar masyarakat, bahkan orang yang satu rumahpun menjadi berselisih karena peristiwa tersebut. Semua golongan menjadi ikut terpancing, tak ingin diinjak-injak, maka perlawanan menjadi solusi yang tak mustahil yang bisa mereka lakukan. Indonesia sudah seperti gunung berapi dalam kondisi waspada, tinggal menunggu waktu saja untuk meletus dan menghabiskan jutaan nyawa.

Semua gara-gara Jakarta. Jika saja jakarta tak pernah membuat ulah seperti saat ini, mungkin perang dunia maya tidak akan terjadi separah ini. Perang dunia maya kini sudah bukan lagi mengarah kepada perang dingin, namun sudah menjuru positif ke arah perang panas. Media-media kini semakin keranjingan menyajikan berita yang mendangkalkan otak. Berbagai macam cara dilakukan oleh mereka, bahkan hingga mengambil cara yang kurang etis, membuat berita hoax. Tak hanyal, pemikiran masyarakat indonesiapun seperti pemikiran hoax, tidak jelas mengarah kemana, asal ceplos semata tanpa mempedulikan etika komunikasi yang baik dan benar hingga tak peduli perasaan lawannya. Tanpa anehnya adalah, mereka tak tahu malu untuk mengeluarkan argumen yang berisi informasi-informasi hoax tersebut. Sambil duduk santai meja makan mewah, dandanan tampan dihiasi dasi, mereka benar-benar tak tahu malu berpidato menggunakan sumber hoax. Selamat datang di negeri Indonesia, negeri yang hoax.

Semua gara-gara Jakarta. Negeri ini bukan hanya sebatas Jakarta. Namun kekuatan magis yang telah digunakan para media telah menyebabkan Indonesia menjadi hanya sebatas Jakarta. Saya hanya sekedar berimajinasi, memikirkan dan meratapi kondisi Indonesia saat ini. Maafkan pula karena saya hanya berkeluh kesah, tanpa memberikan solusi sedikitpun.

Saya hanya ngawur, hanya berimajinasi semata, hanya saja jika Jakarta tidak ada pemilihan gubernur, maka saat ini saya masih satu bangku dengan sahabat terbaik saya.