Saya menulis ini atas dasar apa yang saya tahu, yang saya yakini, yang saya anut sepanjang hidup saya. Mungkin terjadi mispersepsi dan sebagainya setelah Anda membaca tulisan ini. Itu bebas.

Kapan saya mengerti sitilah Poligami? Rasanya sejak saya duduk di sekolah dasar. Saya bersekolah di sekolah beralat Islam yang cukup kental. Di sana yang belajar tentang ilmu-ilmu agama yang mendasar. Dari situ saya, tahu, bahwa Tuhan memungkinkan hambaNya yang laki-laki untukmenikahi sampai empat orang wanita sekaligus. Kalian, atau kita mengenalnya dengan istilah Poligami.

Bukan hanya untuk kaum Hawa, kita semua harus mengerti. Bahwa Poligami itu bukan tentang setuju dan tidak setuju. Itu adalah Firman. Bukan hak makhluk untuk mengelak atasNya.

Demi Tuhan. Kita, yang sungguh tidak ada artinya ini, tidak punya hak sekecil apapun untuk mendebat Firman Tuhan. Apa yang kita punya untuk melakukannya? Bahkan memikirkan untuk berargumen atas perintah dan laranganNya saja sudah membuat kepala saya pening. Apalagi berani mengelakNya?

Begitu pun dengan Poligami, IA dengan jelas memungkinkan para laki-laki untuk melakukannya. Tentu saja dengan batasan dan parameter yang tak kalah gamlang. Jadi, saya yang punya miliaran dosa besar ini punya pendapat, bahwa kita tidak pantas untuk menyuarakan setuju atau tidak setuju atas apa yang telah IA tuliskan.

Lagipula, andaikata memang berani dengan lantang menyanggah atau tidak setuju atau mengecam atau menolak atau berlain pendapat atau mendebat FirmanNya? Tolong, pikirkan lagi. Apa yang bisa kalian lakukan dengan itu? Poligami mustahil musnah di muka bumi ini, tho?

Tuhan tahu apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh hambaNya. Apa hak kita mempertanyakan kuasaNya?

Advertisement

Kemudian, saat isu ini digali lebih dalam. rasanya saya menemukan hal yang lebih esensial. Bahwa mereka yang berkoar-koar melawan Poligami punya kecenderungan untuk menafikan kehadiran Tuhan. And that is bad. A really bad one.

IA yang jelas-jelas mampu melakukan segalanya (ya, segalanya!) dengan yakin menuliskan apa yang pantas dan tidak pantas kita lakukan. Apa yang baik dna buruk untuk kita. Semua itu mengandung hikmah luar biasa. Hanyasaja, kita, dengan segala keterbatasan, masih belum mampu menyentuh hikmahNya. Tapi bukan berarti kita lalai lalu kemudian menyalahkan apa yang IA kehendaki, kan?

Lalu, saat ada di antara kita yang menyuarakan pendapat yang berseberangan (dengan para pendukung anti-Poligami). Haruskah menjadi bahan candaan?

Saya tidak tahu dalam ajaran agama lain adakah hukum yang menjelaskan mengenai Poligami. Tapi, sejauh yang saya tahu tidak ada. Hanya Islam yang punya aturan main poligami sedemikian terukur. Nur Aini (siapapun beliau) membawa isu ini dengan cukup frontal. Tentu saja saya tidak bermaksud menyalahkan ia atau siapapun. Saya tidak punya hak untuk itu.

Hanya saja, perasaan miris menyelinap dan bergelayut di kepala saya usai membaca artikel dan komentar-komentar atas postingan Nur Aini. Ada yang menhujat, mencibir, mengutuk, menyindir, dan bagi saya, yang paling parah membuatnya sebagai bahan candaan. dengan membuat surat terbuka untuk Nur Aini.

Saya yakin, mereka yang punya pengetahuan luas dan mendalam atas Poligami akan berpikir beberapa kali sebelum berkomentar atas apa yang ditulis Nur Aini. Apalgi mereka yang bahkan baru kenal istilah Poligami sepuluh atau dua puluh tahun belakangan? Apa pantas menjadikannya bahan candaan?

Yang idealnya dihakimi itu bukan Poligami. Tapi mereka yang melaksanakannya dengan keliru. Tolonglah, itu dua hal yang berbeda, bukan?

Seperti yang saya gaung-gaungkan di atas, Poligami tidak bersalah. Bukan urusan kita untuk setuju atau tidak setuju. Untuk mendukung atau menolak. Ia bahkan tidak tahu bahwa kehadirannya telah membuat debat tak berkesudahan. Ia, kan?

Yang menjadi momok adalah mereka yang melakukan praktek Poligami dengan keliru. Kemudian membuat kaum hawa menjadi khawatir mengalami kekeliruan yang sama. Lalu mulai menyuarakan apa yang mereka gadang-gadang sebagai kesetaraan, emansipasi, dan lain sebagainya.

Ah, sudahlah! Tapi, saya yakin, Muslimah yang baik dan salehah akan mengerti dengan baik apa yang saya maksud dalam tulisan ini. Sesungguhnya segala yang benar hanya milikNya.