Kamu teramat ragu-ragu melakukannya, kamu sangat ragu-ragu memutuskannya, kamu luar biasa tidak mau menghapuskannya, Namun keinginanmu yang kuat untuk segera mengakhiri kesakitan dengan keterpaksaan atau dengan keikhlasan kamu harus segera memutuskannya.

Ya, lelaki itu. Bukankah dia lelaki pertama dan terakhir yang tak pernah hilang maupun sirna dalam ingatanmu? Lelaki yang membuat hitammu menjadi biru, lelaki yang memberi hangatnya saat dinginmu, lelaki yang amat kamu cintai. Lelaki yang belum memberimu waktu, lelaki yang menyuruhmu menanti.

Tapi, kamu yang teramat takut akan murka Tuhan dan tak ingin menduakan Tuhan. Kamu menghapus semua percakapanmu dengannya, di semua ruang dalam kepalamu. Kamu menahan dan mengontrol kebiasaanmu bercerita padanya. Dan ruang yang pernah membuatmu bahagia, juga menangis menahan kerinduan, kamu tak ingin lagi mengunjungi tempat itu.

Bahkan sekarang kamu masih ragu-ragu untuk memencet tombol itu. Tombol delete yang membuatmu harus kehilangan beberapa susunan nomor penghubung dengannya. Kamu harus segera Meniadakan segala kemungkinan bagi harapan kembali tumbuh. Membunuh paksa segala kenangan yang membuatmu mengingatnya. Demi cintamu yang teramat kuat pada penciptamu, kamu menghapusnya selamanya.

Walaupun sebenarnya kamu masih tak yakin semua kenangan tentangnya telah terhapus. Tapi satu hal yang kamu yakini benar, bila kamu ditakdirkan untuk bersama akan ada skenario yang indah untuk membuatmu bersatu. Sebab kamu yakin benar, Tuhanmu sangat mencintaimu meski dengan lantang dalam hatimu kamu mengatakan bahwa kamu tidak apa-apa selama Tuhan ada. Namun Tuhan tak ingin kamu sendirian tanpanya.

Advertisement

Tapi untuk sekarang, kamu harus melepaskan semua tentangnya bukan karena kamu tak mencintainya. Kamu hanya teramat mencintainya, dan melepaskannya adalah jalan satau-satunya untuk membuatnya fokus dalam membangun masa depan. Agar kamu tak selalu dikendalikan hati saat kerinduan, agar kamu tak selalu membuatnya dalam kecemasan. Agar kamu tak membuat langkah kakinya terhambat berjalan. Ya, kamu melepaskannya dengan senyuman.

Betapa menderitanya tak bisa menangis sekencang-kencangnya dalam kesedihan sebab kamu tak ingin membuatnya merasa bersalah. Lelaki itu tidak mengetahui bahwa hatimu melepasnya, dia masih yakin kamu masih memilikinya di hatimu. Untuk sekarang, mari berjalan sendirian. Meski dia yang mencintaimu mengajakmu mendaki gunung bersama. Kamu tidak bisa menerimanya. Sebab, belum ada ikatan yang membuatmu harus mengikutinya ke manapun.

Namun lelaki itu, masih belum percaya pada kemampuannya bahwa dia mampu membuatmu nyaman walau masih dengan nyaman yang seadanya. Dia belum memiliki keyakinan untuk menyandingmu. Maka dari itu kamu menolak untuk merepotkan hatinya sampai dia sendiri mau kamu repotkan dengan segala kekonyolanmu. Jadi sekali lagi kamu mencoba mendelete semuanya, menghilangkan namanya, memusnahkan semua tentangnya. Kamu menghilang darinya. Bagimu itu jalan terbaik agar harapan tidak lagi tumbuh. Karena cerita baru adalah saat rindu diam-diam berpadu dengan keberanian dalam ikatan suci. Menghapusnya. Kamu yakin itu pilihan benar. Biar nanti kamu memulai cerita baru dengan hati yang baru, dengan dia yang dipilihkan Tuhan. Siapapun dia, sampaikan salamku padanya.