Aku mengenalmu lewat perkenalan singkat, hingga temukan suatu sinyal pengikat denganmu.

Seketika kutulis surat ini, seraya kumengingat 3 tahun silam. Kilas balik mengenangmu tentang perkenalan singkat itu. Masih kuingat jemari tanganmu saat ku jabat, seketika bibir mengucap nama. Kita dihadirkan dari kebetulan yang tak terduga. Serba-serbi pas kebetulan akan melakukan hal yang sama — kok pas banget. Semua tidak ada yang tidak mungkin. Rencana Tuhan siapa yang tahu, hingga ku dipertemukan orang seperti saat itu.

Jalinan pertemanan terbina, hingga mengenal kata akrab. Telah mengenal satu sama lain. Tak jarang membicarakan hal-hal konyol yang tak semestinya dibahas. Itu hanya karena untuk mengakrabkan atau bahkan untuk beradu mulut dalam canda yang terasa kental dalam alur cerita. Hei cantik, ingatkah kau kala itu? Hingga kini kita seperti ini..

Mulai dari hal-hal kecil. Namun, semua berarti besar dalam kehidupanku.

Seringkali aku memaknai jejak perjalanan kita, kebersamaan kita, melalui hal-hal kecil yang mungkin tak bermakna di matamu. Tapi, cukup luar biasa besar berarti dalam hidupku. Begitu banyak hal-hal itu, yang kau lakukan untukku.

Meski secara tersirat kau tiada maksud untuk membuatku memaknai lebih, tapi ingatan selalu berkata karena kepedulianmulah yang memberikan makna itu. Aku diam-diam menaruh perhatian pada apa yang telah kau lakukan. Hingga mungkin kau tak mampu melihat kepedulianku itu.

Kilas perjalanan panjang yang dilalui denganmu, berikan makna tersirat dalam hidupku.

Traveling tak jarang kita lakukan bersama. Hunting foto menjadi idola diantara kita setiap kali berpetualang bersama. Jauh dekat, bahkan nyasar sekalipun kau tempuh untuk sebuah perjalanan bersama. Rela hujan-hujanan, rela di depan, bahkan mungkin terlalu kejam bagimu setiap kali celotehanku menyebutmu sopir. Itu karena aku tak bisa menggantikanmu di depan.

Advertisement

Aku percaya suatu ketika aku mampu membawamu ke tempat impianku. Aku mampu didepan menggantikanmu, menjadi sopir mu. Hal ini yang paling membekas dalam ingatan.

Aku tahu kau lelah. Setelah melakukan perjalanan panjang bersama ku. Tapi kau tak mengeluhkan itu. Aku dengan sejuta perasaanku, sejenak memaknai arti hal-hal kecil itu. Terimakasihku selalu hanya bisa terucap dalam hati. Terkadang aku hanya mampu menulisnya. Kau pun hanya bisa membaca, tak selalu mendengarkannya lewat lisanku.

Sungguh berartinya kisah-kisah itu. Setiap malam kuputar kembali memori itu. Lewat foto-foto mu, foto kita, lewat sebuah senyuman dengan khasnya senyummu itu, yang kadang menyelinap masuk dalam ingatanku. Banyak tempat yang menjadi saksi bisu perjalanan kita. Selalu ada makna tersirat sejalan dengan ingatanku.

Ku tak menyangka kita bisa tertawa bahagia, kau ciptakan senyum yang tak biasa ku ciptakan sebelumnya. Sesekali kulihat kenangan itu, kubertanya pada diriku. Aku bisa senyum seperti ini bersamanya. Ya, kamu..

Hingga kini kurindukan kebersamaan itu. Setelah sekarang kurasakan perbedaan diantara kita.

Nostalgia bersamamu selalu ingin kuciptakan. Namun, kini kesibukan masing-masing lebih menjadi juara bertahan dalam sebuah kehidupan. Kini kurasa ada jarak membentang antara aku dan kau. Kegiatan yang kita geluti tak lagi sama. Apalagi kini kau sedang mulai membangun bisnismu. Tak lagi ada waktu untuk kebersamaan kita.

Kadang aku ingin barang sebentar saja berbagi waktu dengan mu. Tapi, aku masih saja kelu di hadapanmu. Aku hanya bisa diam, diam dan diam. Aku takut menganggu waktumu. Hingga aku tak sanggup mengungkapkan bahwa aku merindukan mu.

Aku semakin canggung ketika bertemu denganmu. Walau kau masih memberikan senyum sapa itu padaku.

Kenyataan mengungkap bahwa aku makin canggung denganmu. Entah mengapa? Aku serasa seperti orang asing kini. Aku lebih banyak diam, menyendiri. Disela-sela kesendirianku, sekilas terdengar rintihan, aku butuh teman. Butuh kamu yang telah terbiasa mengisi hari-hari ku. Aku tak bisa menjauh atau bahkan pergi darimu.

Sekalipun diluar aku tampak acuh, tetapi didalam tak demikian. Justru aku lemah kala sendiri. Kau lah penyemangat ku. Meski ku tak bisa menyeru kepadamu, tapi hati ini selalu berkata demikian.

Dulu aku mungkin canggung menyebutmu ‘sahabat’. Tapi kini aku makin canggung walau hanya ingin menanyakan hal terpaut kuliah. Tahukah kamu, kadangkala aku sengaja menghubungimu menanyakan sesuatu yang mungkin tidak ada kejelasannya. Itu hanya aku ingin tau tingkat kepedulianmu. Bak menguji ingatanmu apakah masih ingat denganku.

Perbedaan argumen sering kualami. Kadang membuat kita jadi tak mengerti.

Aku yang mungkin emosian, seringkali marah-marah tanpa alasan. Bahkan mampu melampiaskan kepadamu, orang terdekat aku. Sepintas kubaca wajahmu, kau seraya berkata ingin marah denganku. Meski kulihat kau masih tampak sabar menghadapi amarahku.

Tak jarang kita salah persepsi hingga kita harus mertengkar akhirnya diam-diam satu sama lain. Namun, kau masih saja tenang atas sikapku itu. Aku masih saja mampu membaca raut wajahmu yang terkesan kesal terhadapku. Serba salah bagiku. Hanya melontarkan kata maaf lewat lisan ini pun aku tak mampu. Itulah sebabnya aku hanya menulis kata maaf padamu. Dan kuharap kau memaafkanku.

Andai kau tahu sahabat, kau begitu bermakna dalam hari-hariku. Aku terbujur lemas tak semangat jalani hidup hanya muatan batinku yang terpaut rasa tidak enak padamu. Barisan kata yang tak mampu ku ungkapkan padamu. Jutaan kata terimakasih pada mu yang hanya bisa aku ungkapkan dalam hati. Berribu-ribu kata maaf yang hanya kuungkap lewat air mata yang tak ingin kau melihatnya. Lewat surat ini kuharap kau mampu menangkap maksud ku.

Sahabat, kau tulang belakangku yang selalu menopangku. Ingin sekali aku ungkapkan itu padamu tapi apa daya rasaku tak setegar itu. Hanya mengucap kata sahabat padamu saja masih merasa canggungnya setengah mati.

Maafkan aku yang tak mampu mengungkapnya langsung. Kau tetap terindah dan tempat ternyaman untuk ku sebagai penyemangat hidupku.

Salam, dariku yang tak mampu menyeru dihadapanmu.