Ada beberapa hal yang selalu dipikirkan oleh seseorang di usia 20an,diantaranya :

1. Akan menjadi apa saya nanti ?

2. Dengan siapa saya akan melanjutkan hidup (menikah) ?

Dua hal itu akan terus dipikirkan oleh beberapa orang saat usianya mencapai 20an. Quarter life crisis. Ya begitulah orang-orang menyebutnya. Pernahkah kamu mempertanyakan kedua hal tersebut? Usia 20an memang usia yang rentan, usia di mana seseorang mulai mencari jati dirinya, usia di mana seseorang dituntut untuk mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidupnya. Keputusan-keputusan yang akan menentukan kelangsungan hidupnya di masa depan. Ada beberapa keresahan-keresahan akan masa depan yang terus menghantui pikiran saya. Salah satu di anataranya adalah ‘Akan menjadi apa saya nanti ?’.

Pertanyaan seperti itu pasti pernah berdengung dan dipertanyakan olehmu. Apalagi ketika usiamu sudah menginjak usia 20an. Kadang kerepotan untuk menjawabannya,kan ? Wajar memang jika kamu menanyakan hal seperti itu, saat usiamu sudah mencapai 20 tahun lebih, dan ketika kamu melihat bahwa teman-teman sudah menjadi “orang”, sedang kamu masih begitu-begitu saja. Merasakan hidup seolah-olah stagnan. Tak maju dan tak bisa mundur. Itu benar-benar menyebalkan. Seperti mengalami krisis identitas. Tak tahu harus berbuat apa dan tak tahu ingin melakukan apa. Hingga kamu melupakan suatu hal bahwa hidup kadang hanya perlu dijalani, bukan untuk dipikirkan.

Advertisement

”Pola pikir kamu salah. Selalu mikirin hal yang belum tentu terjadi, padahal hidup itu cuma perlu dijalani bukan dipikirin. Kalo pun apa yang kamu pikirin jadi kenyataan, yang penting kamu udah berani ngambil keputusan.”

Ingatlah hal itu jika kamu mulai ragu melangkah ataupun ketika kamu mulai meresahkan masa depanmu.

Kadang kita tak tahu bahwa hidup itu hanya perlu dijalani, tak perlu kita pikirkan. Karena ada sutradara kehidupan yang sudah mengatur hidup kita sedemikian rupa, kita hanya perlu berusaha dan mempasrahkan hasil usaha kita. Hanya itu. Dan kadang kita tak menyadari bahwa keresahan yang selama ini kita miliki hanyalah hasil dari pemikiran kita. Coba pikirkan kembali, bukankah nyatanya hal buruk yang kita pikirkan selama ini tak pernah terjadi ? Dan karena hal itulah yang membuat langkah kita tersendat, karena itulah kita kadang merasa hidup kita stagnan. Ya, hal itu membuat kita takut dalam melangkah, membuat kita takut melakukan sesuatu. Yang ada dipikiran kita hanya segala resiko yang akan terjadi, resiko yang takut kita menanggungnya.

Melakukan yang terbaik hari ini dan berhenti memikirkan masa depan

Kunci untuk menghadapi quarter life crisis adalah melakukan yang terbaik hari ini. Bukankah masa depan kita tergantung pada tindakan yang kita lakukan hari ini ? Kita hanya perlu berusaha dan melakukan yang terbaik semampu kita hari ini. Mencoba mensyukuri kesempatan yang telah Tuhan berikan hari ini. Today is present, right ? dan berhentilah memikirkan masa depan, biarlah masa depan menjadi sebuah teka-teki bagi kita, hidup akan lebih menyenangkan dengan sebuah kejutan dan tentu akan menjadi lebih berwarna. Percayalah bahwa kita hanya perlu melaluinya, tak perlu memikirkannya. Jadi tak perlu lagi galau dalam menghadapi quarter life crisis, Karena semua orang punya masanya masing-masing, punya waktunya masing-masing.