Sebelumnya, tidak pernah terbayangkan bahwa saya akan menjadi seorang ibu. Hamil apalagi melahirkan adalah hal-hal yang keburu bikin ngeri. Mungkin karena itu saya juga mengalami sindrom baby blues.

Tapi, ternyata bukan hanya seorang ibu yang belum siap seperti saya yang bisa terkena sindrom ini. Beberapa kawan yang sudah sangat menginginkan bayi dan melakukan berbagai persiapan pun terkena. Jadi, ini sebenarnya bisa menyerang siapa saja.

Saat hamil, saya sudah sering mendengar istilah sindrom baby blues. Secara sederhana, saya menarik kesimpulan pengertian sindrom ini adalah perasaan nggak keruan yang dirasakan seorang ibu setelah melahirkan. Perasaan ini saya sebut nggak keruan karena memang saking banyaknya perasaan bercampur, sehingga salah-salah bisa membuat si ibu depresi.

Saya kira, bagian yang paling memerlukan persiapan saat mengetahui kalau saya hamil adalah saat persalinan.

Yang saya tidak tahu adalah bahwa perjuangan menjadi seorang ibu baru saja dimulai. Melahirkan hanyalah awal.

Advertisement

Setelah melahirkan, masih sambil menahan sakitnya jahitan persalinan, seorang ibu harus sering bangun untuk menyusui agar bayi tidak kekurangan cairan. Bahkan untuk ukuran saya yang sering begadang saat masih single, hal ini menimbulkan migren tak berkesudahan. Menyusui itu juga bukan perkara mudah. Perasaan lapar yang sangat akan segera muncul setelah menyusui. Jadi, kebutuhan tidur dan makan saling berjejalan.

Benturan antara kebutuhan tubuh dan pikiran dengan kewajiban terhadap nyawa baru membuat beragam perasaan tak menentu pada ibu. Ingin istirahat, harus menyusui. Ingin makan, ngantuk berat. Belum selesai makan, bayi pipis, belum selesai mengganti popok, jahitan terasa nyeri. Selain sibuk dengan kelelahan fisik, pikiran ibu pun terbebani. Apalagi kalau ada tambahan bonus dari sekitar. Iya, komentar-komentar.

“Kok ganti popoknya gitu?”

“Kasian bayinya, nggak dibedong.”

“Kasih susu formula aja. Laper itu nangis terus.”

“Nggak dipakein gurita?”

“Kok pake sendok? Pake dot aja, praktis.”

“Si X langsung bisa jalan santai kok setelah melahirkan normal.”

Pernah mendengar komentar-komentar serupa? Atau justru salah satu pelakunya? Maka hentikan sekarang juga.

Ketika pikiran seseorang sedang sehat, tentu saja bisa dengan santai menepis pendapat-pendapat itu, bersikap masa bodoh. Namun saat si ibu sedang lelah, komentar itu dengan leluasa masuk dan bertahta di kepala. Melengkapi kelelahan fisik dengan kelelahan jiwa.

Membuat ibu berpikir, jadi begini salah; harusnya bisa kuat, buktinya si X bisa; duh, apa ikut saran berhenti ngasih ASI aja, ya; dan seterusnya… hingga akhirnya, si ibu bahkan tidak mau menyentuh sang buah hati. Karena, dalam pikiran ibu, salah satu penyebab segala kerumitan ini adalah sang bayi.

“Kenapa aku harus bersusah payah seperti ini? Kenapa tidak boleh beristirahat sesuka hati? Kenapa seolah hanya aku yang harus bertanggung jawab? Kenapa bapaknya tidak ikut membantu? Kenapa…? Tapi, aku kan seorang ibu. Tapi, capek banget. Apa aku nggak bisa jadi ibu yang baik? Kok bisa aku punya pikiran seperti ini? Aku mengerikan.”

Lalu, si ibu akan menangis sesenggukan, merasa bersalah sendiri. Dan semakin tertekan.

Iya, separah itu efeknya.

Di sinilah peran orang-orang terdekat diperlukan. Suami yang utama. Karena anak akan dibesarkan berdua. Caranya adalah dengan melatih kepekaan.

Kalau kalian masih berpikir semua perempuan sudah sewajarnya bisa merawat bayi sewajar mereka bisa hamil dan melahirkan, maka singkirkan jauh-jauh pikiran itu.

Hamil dan melahirkan memang kodrat. Tapi, untuk menjadi seorang ibu diperlukan waktu belajar yang panjang—saya rasa bahkan seumur hidup.

Jadi, buat laki-laki, yang sudah jadi suami atau masih calon, coba pahami ini. Karena untuk melewati itu semua, para istri membutuhkan kalian.

Dalam pikiran perempuan, mereka keburu takut tidak bisa menjadi ibu yang baik. Sebenarnya mereka mau belajar, hanya saja masih terlalu baru mempraktikkan. Belum lagi, terlalu banyak komentar teori dari pihak luar, mulai dari yang disampaikan dengan manis, sampai pahit.

Ketika dalam situasi demikian, jika perasaan bersalah yang bertumpuk ini dipendam, seorang ibu bisa depresi. Sering nonton berita tentang ibu yang membunuh anaknya? Salah satunya adalah ketakutan untuk jujur mengenai ketidakberdayaannya.

Banyak kekhawatiran dalam diri seorang wanita. Khawatir dicap sebagai ibu yang tidak becus, istri yang tidak berguna. Khawatir membuat sang suami kecewa.

Padahal, perasaan itu wajar saja. Penyesuaian. Namun, seperti permasalahan wanita lainnya, mereka butuh tempat untuk mendengarkan.

Wahai para suami, dengarkanlah keluh kesah istri kalian.

Pahami bahwa mereka lelah, masih butuh, bahkan semakin butuh diperhatikan setelah melahirkan. Katakan bahwa dia masih cantik, katakan kalau kalian bersedia mengganti popok saat sang istri istirahat, katakan betapa kalian berterima kasih karena dia bersedia melahirkan darah daging kalian.

Dorong dia untuk mengeluarkan semua keluh kesahnya; biarkan dia menangis dalam pelukan kalian, bukan sendirian di dalam kamar beradu tangis dengan buah hati kalian.

Tentu saja kalian pun akan lelah, para suami, karena sibuk mencari rezeki. Tak perlu beradu siapa yang paling lelah. Saling bersabarlah. Kalian baru memulai perjalanan sebagai orang tua. Nikmati prosesnya.

Saat emosi menguasai, coba pandangi buah hati.

Tuhan sudah mempercayakan hidup seorang manusia melalui kalian. Bukankah sebuah kebanggaan mendapat kepercayaan setinggi itu?