"Tidak ada orang di planet ini yang tidak tersentuh oleh dampak perubahan iklim" kata Rajendra K. Pachauri, Ketua Inter-governmental Panel on Climate Change(IPCC). Berdasarkan laporan dari IPCC, perubahan iklim sudah memiliki efek yang mempengaruhi seluruh benua dan samudera di dunia.

Perubahan iklim secara perlahan tetapi pasti akan mempengaruhi setiap mahkluk di muka bumi dan pengaruhnya akan lebih parah dari waktu sebelumnya. Satu hal yang sekarang menjadi fokus perhatian adalah perubahan iklim memiliki hubungan yang erat dengan kesehatan manusia. Perubahan iklim telah memperburuk kesehatan manusia dan membunuh manusia secara perlahan-lahan dan banyak dari kita yang bahkan tidak menyadari hal itu. Padahal kesehatan adalah hal terpenting, karena untuk dapat melakukan kegiatan apapun, manusia harus sehat terlebih dahulu.

Perubahan iklim telah berdampak secara langsung seperti penyebaran penyakit, peningkatan kejadian cuaca ekstrim, kekeringan, kebakaran hutan dan ketersediaan makanan. Penyebaran penyakit malaria menjadi semakin cepat karena kenaikan suhu yang bergantian dengan hujan deras dengan kelembapan udara yang tinggi sehingga membuat rata-rata kehidupan nyamuk menjadi lebih pendek, namun frekuensi makannya lebih sering. Kesehatan mental manusia menjadi terganggu dan tingkat trauma bertambah karena meningkatnya kejadian cuaca ekstrim seperti angin kencang, hujan sangat lebat dan suhu udara yang sangat panas.

Musim kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan di berbagai tempat dan berdampak pada peningkatan jumlah kebakaran hutan yang menghasilkan asap dan menyebabkan penyakit infeksi saluran pernafasan. Pola musim yang berubah menimbulkan banyak petani yang mengalami gagal panen sehingga ketersediaan bahan makanan tidak mencukupi dan banyak manusia yang kekurangan makanan sehingga berpengaruh pada kesehatan mereka. Para ilmuwan memperingatkan bahwa masalah akan tumbuh jauh lebih buruk jika tidak diatasi dan jalan terbaik adalah dengan mengendalikan emisi gas rumah kaca.

Seperti halnya aktivitas manusia adalah penyebab utama terjadinya perubahan iklim, manusia juga adalah pihak yang berperan besar untuk mencegahnya. Lalu pertanyaannya adalah, apakah yang dapat dilakukan oleh setiap orang untuk mencegah perubahan iklim?

Advertisement

Jawabannya adalah dengan melakukan hal yang sedernaha yaitu dengan merubah jenis makanan. Berhenti memakan hewan dan menjadi vegetarian dengan hanya memakan sayuran adalah hal termudah dan terbaik yang dapat kita lakukan untuk mencegah perubahan iklim.

Banyak orang yang sering meremehkan pengaruh pilihan makanan terhadap perubahan iklim, padahal pilihan makanan berperan besar untuk mencegah terjadinya perubahan iklim. Daging yang dimakan manusia biasanya berasal dari peternakan sedangkan 51% dari gas rumah kaca global disebabkan oleh aktivitas peternakan menurut laporan yang dipublikasikan oleh Worldwatch institute dibandingkan dengan transportasi yang hanya menghasilkan 13 %. Hal itu dikarenakan hewan ternak seperti sapi secara alamiah akan melepaskan metana, yang merupakan salah satu jenis gas rumah kaca, dari dalam perutnya selama proses mencerna makanan. Jika dibandingkan satu kilogram daging sapi setara dengan berkendara 250 km atau menyalakan lampu 100 watt selama 20 hari tanpa henti.

Pada tahun 2014, saya terkena penyakit malaria padahal saya belum pernah terkena penyakit ini sebelumnya dan saya merasa bahwa saya terkena penyakit tersebut karena banyak faktor termasuk karena terjadinya perubahan iklim. Saya telah banyak berurusan dengan bidang perubahan iklim dalam pekerjaan saya dan setelah megumpulkan informasi ternyata memang peningkatan penyakit malaria terjadi seiring dengan perubahan iklim.

Setelah itu, saya meningkatkan kepedulian untuk mengurangi terjadinya perubahan iklim dengan belajar menjadi seorang vegetarian. Setelah setahun saya mencoba belajar menjadi seorang vegetarian, saya merasakan bahwa tubuh saya menjadi jauh lebih sehat. Setelah itu, saya mulai mengajarkan kepada orang disekitar saya untuk merubah jenis makanan mereka karena akan mencegah perubahan iklim dan mendapatkan tubuh yang sehat.

Marco Springmann, seorang peneliti dari Oxford Martin School’s Future of Food Programme, bersama rekan timnya membangun sebuah model komputer untuk meramalkan apakah yang akan terjadi jika semua orang menjadi vegetarian pada tahun 2050. Hasilnya mengindikasikan jika dunia menjadi vegetarian maka penurunan emisi global akan menjadi sekitar 70%.

Melihat banyaknya manusia yang tidak terlalu peduli dengan perubahan iklim dan bahkan ada yang menggangap bahwa itu hanyalah sebuah isu bohong belaka, saya ingin membuat sebuah perumpamaan tentang perubahan iklim. Perubahan iklim dapat diibaratkan seperti penyakit kanker yang memiliki tingkatan.

Pada tingkatan pertama, penyakit kanker tidak terlalu tampak berpengaruh pada kesehatan manusia dan banyak yang mengabaikannya begitu saja. Oleh karena itu, kanker itu akan berkembang menuju tingkatan berikutnya dengan efek yang jauh lebih parah. Manusia biasanya tidak akan terlalu peduli dan bertindak sampai melihat efek terparah dari kanker tersebut dan ketika mereka menyadarinya, sudah terlambat untuk mengobatinya.

Begitupula pada perubahan iklim, pada tingkatan pertama banyak orang tidak memperdulikannya karena dampak yang ditimbulkannya tidak terlalu parah sampai ia meningkat ke tingkatan berikutnya dengan dampak yang lebih buruk dan benar–benar merusak kesehatan manusia. Setelah itu, usaha pencegahan yang dilakukan tidak lagi efektif.

Generasi selanjutnyalah yang akan merasakan dampak terburuk dari perubahan iklim. Saat mereka melakukan tindakan untuk mengatasi perubahan iklim, mereka mungkin tidak mendapatkan hasil yang begitu berarti lagi. Saat itu terjadi, mungkin anak dan cucu kita akan bertanya mengapa leluhur mereka tidak mencegah perubahan iklim saat mereka masih bisa melakukannya? Dan saya rasa kita bisa menjawab pertanyaan mereka sekarang.

Jadilah vegetarian sekarang dan rasakan perbedaannya saat anda mendapatkan tubuh yang sehat serta iklim yang bersahabat.