Sejak pertama kali kita berkomitmen melewati hari-hari bersama, percaya berbagi suka-duka, tak sadarkah engkau, sudah berapa lama kita menjalaninya?

Awal mula kita pacaran, saat itu kita sama-sama aktivis kampus, sekalipun toh, beda jurusan. Aku memandangmu sebagai wanita yang mempesona, tingkah lakumu juga mencerminkan wanita dewasa. Meskipun pada awalnya sempat malu-malu untuk tegur sapa, toh akhirnya kita malah justru sering berjalan bersama. Itupun juga gara-gara kegiatan kampus. Lalu, beberapa bulan kita mengenal, siapa sangka, kau menerima cinta yang aku ucapkan.

Mulai saat itulah kita mulai merangkai mimpi bersama. Beberapa mimpi-mimpi yang sebenarnya masih jauh dari apa yang kita inginkan, tapi dari mimpi itu, kisah kita justru semakin erat. Dulu, pernah sesekali aku lontarkan pertanyaan, kapan kau akan siap menikah. Kemudian kau jawab dengan malu-malu, bahwa kau akan menikah jika waktunya sudah tepat, lalu menyuruhku untuk bersungguh-sungguh bekerja demi bekal nanti jika sudah berkeluarga.

Mendengar jawabanmu seperti itu, aku semakin semangat menjalani hari-hari, menggebu dalam bekerja, serta rajin untuk menyisihkan uang demi tabungan masa depan.

Lihatlah aku, sayang. Kini aku menjadi pria mapan. Tak seperti dulu, saat awal kita pacaran, bahkan untuk jajan atau main bareng saja harus menunggu akhir bulan.

Advertisement

Sayang, sudah lima tahun kita berpacaran. Jika diibaratkan kredit mobil, kita sudah lunas membeli sebuah mobil idaman.

Namun, ketahuilah, sayang. Setelah kini aku rasa hidup berkecukupan, cintaku padamu tak ingin aku kredit, ingin rasanya segera saja aku lunasi dengan sebuah lamaran. Seperti katamu dulu, mungkin sekaranglah waktu yang tepat untuk menikah.

Iya, aku tahu. Dalam sebuah pernikahan itu butuh banyak persiapan, pun kesiapan dari dua belah pihak. Jika kini hanya aku saja yang memiliki keinginan, sementara kau masih merasa nyaman dengan status pacaran, apakah aku harus memaksakan?

Aku belum siap, sayang.

Apa yang membuatmu belum siap?

Entahlah. Aku hanya masih merasa nyaman menjalani kisah kita seperti ini

Apakah sekarang belum waktu yang tepat bagimu?

Lalu kau hanya diam, sambil menyandarkan kepala di pundakku

Sebuah obrolan sore itu ketika aku hendak meminangmu.

Jujur, hatiku hancur mendengar jawabanmu seperti itu. bahkan lebih hancur ketika kau dulu sempat ingin putus denganku karena kau mengira aku selingkuh, padahal aku sibuk dengan pekerjaan.

Aku masih belum bisa memahami, kenapa kau masih nyaman dengan status pacaran. Bukankah kita sudah amat sangat saling mengenal? Bahkan kau sangat diterima baik di keluargaku, begitu juga aku di keluargamu.

Sayang, apa yang kau takutkan? Bukankah umurmu juga sudah ideal? Lantas, apalagi yang kau tunggu?

Lihatlah Diana, teman kampusmu. Dia sudah menimang buah hati, hari-harinya ceria bersama suami. Tak inginkah kau seperti itu?

Atau, jangan-jangan kau belajar dari Sofi, teman satu aktivis kampus kita dulu. Setelah dia menikah, hidupnya menjadi tak karuan, anaknya sudah tiga, suaminya jarang pulang, bahkan dengar-dengar punya wanita simpanan. Akhirnya, dia pontang-panting mencari nafkah sendirian.

Wahai wanitaku yang sudah lima tahun denganku, percayalah, aku akan menjadi imam yang menjadi panutan untukmu serta anak-anak kita nanti. Tanggung jawab keluarga kita nanti ada di pundakku, tak usahlah kau takutkan hal-hal yang mengganggu pikiranmu.

Diantara geng kampusmu yang kebanyakan cewek itu, hanya kau saja yang masih belum menikah. Saat kita berkumpul, hanya kita saja yang belum meminang anak. Kemudian, teman-temanmu memberondong pertanyaan yang sudah sering ku dengar, kapan kalian menikah? Kapan kalian nusul? Kapan kalian mau menggendong bayi? lalu aku jawab mereka dengan senyuman, begitu juga denganmu, hanya tersenyum menanggapi.

Tidak hanya itu, yang paling aku bingung adalah saat aku ditanya orang tuamu. Mereka sudah kenal baik denganku, sangat dekat, bahkan dianggap keluarga sendiri.

Nak, kapan keluargamu kau bawa kesini? Ibu sudah ingin menimang cucu, kata ibumu saat itu.

Aku hanya diam. Tak tahu harus berkata apa. Dalam hati, mulutku ingin merapal,

Aku juga ingin segera melamar anakmu, bu. Segera.

Kadang pertanyaan itu harus ku jawab dengan sebuah candaan, kadang pula aku jawab dengan senyuman, lalu aku berkata,

Insyaallah, bu… segera. Tetapi, yang paling sering aku lakukan hanya diam. Iya, hanya diam, lalu mengalihkan pembicaraan.

Bukan apa-apa, sayang. Aku sebenarnya ingin berkata jujur, bahwa engkaulah yang belum siap untuk aku nikahi. Tapi, apa aku tega menyalahkanmu dihadapan orang tuamu? Tidak. tak akan ku lakukan. Di lain pihak, aku takut jika orang tuamu tak percaya lagi denganku, mengira jika aku tak pernah bersungguh-sungguh denganmu. Mereka paham betul dengan hubungan kita yang sudah sangat lama ini. Andai mereka tak lagi percaya padaku, lalu orang tuamu mencarikan jodoh pria lain untukmu, lantas, aku bisa apa untuk mempertahankanmu? Apa kau menginginkan hingga semua itu terjadi, sayang? Semoga saja tidak.

Oke, aku tahu, agar pernikahan kita kelak berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan, aku tak akan memaksamu untuk segera menikah. Aku ingin engkau tetap merasa nyaman menjalin hubungan denganku.

Biarlah usia pacaran kita bertambah, asal rasa cinta kita tak berkurang. Biarlah waktu terus berjalan, yang penting kita tetap menghabiskannya berdua.

Pria yang kau suka ini akan sabar menantimu hingga kau siap, hingga kau bosan dengan status pacaran, dan berganti nyaman berstatus pernikahan.

hingga nanti aku melamarmu via cdn-ugc.cafemom.com

Mungkin, beriringnya waktu akan memberimu pelajaran, bahwa pacaran bukanlah tujuan Tuhan menganugerahkan rasa sayang antara lelaki dan perempuan, pernikahanlah yang akhirnya menjadi tambatan, membina rumah tangga dan meneruskan keturunan. Mengertilah.