Apakah kalian pernah merasa, terkadang karena tuntutan pergaulan, kita membeli barang-barang yang tidak sesuai dengan kegunaannya? Nggak apa-apa. Kita semua pernah kok.

Lantas bagaimana dengan membeli barang-barang KW karena sebenarnya ingin membeli barang mewah tapi apa daya budget tak sampai? Nah ini yang sebenarnya apa-apa. Keinginan kita akan pengakuan dan prestise terkadang membuat kita tidak bisa melihat dengan jelas, bahwa barang-barang tersebut tidak membuat kita tambah keren.

Anna Sui, Chanel, Louis Vuitton, Coach, Nike, Converse, semuanya beredar di sekitar kita dalam bentuk imitasi brand, alias produk palsu. Banyak yang beli. Padahal kita tahu sama tahu, nggak mungkin barang temanmu itu asli, karena entah butuh nabung berapa tahun untuk mampu membelinya.

Sudah ngumpulin uang pun, memangnya yakin mau langsung dihabiskan untuk barang branded? Apa kabar KPR?

Kalau memang belum mampu beli brand yang asli, ya sudah. Ngapain sih dipaksakan? Yang ada malah akan berujung pada hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kamu pikirkan.

Demi harga diri yang tinggi hati kecilmu saja kamu bohongi. Bukannya inti dari style adalah tentang kejujuran pribadi?

Advertisement

kadang ada yang cuma beli paperbagnya aja, dalemnya sih kosong… via deluxemall.com

Selalu ada kebanggaan tersendiri ketika memiliki barang-barang mewah yang eksklusif. Tidak hanya memborong kesan classy, barang branded juga menegaskan status sebagai strata sosial atas yang pengetahuan dan selera fashionnya bagus.

Ketika ada pembicaraan tentang fashion, kita nggak cuma melongo nggak ngerti, tapi juga terlibat aktif dalam diskusi. Betapa tidak sia-sianya kita bersusah payah mencoba mengerti.

Akan tetapi, jangan sampai lupa diri. Terlihat fashionable dari luar nggak serta merta membuat hati nyaman. Terkadang demi ikut trend, beberapa kebohongan rela dilakukan. Termasuk bohong bahwa daya beli kamu tinggi, padahal nggak begitu kenyataannya. Kalau memang percaya diri dengan penampilan, tidak perlu bohong untuk tampil mewah.

“Style is a way to say who you are without having to speak.” – Rachel Zoe

Mengikuti trend memang kebutuhan, tapi bayangan tentang reputasi diri yang rusak malah jadi sumber ketakutan.

Kamu bukan Cara Delevinge. Reputasimu masih biasa aja.. via www.google.co.id

Karena udah diawali dengan bohong tadi, kita yang beli barang KW buat gaya-gayaan jadi mudah merasa insecure. Di balik barang-barang yang digunakan dengan penuh percaya diri itu, sebenarnya ada ketakutan bahwa akan ada seseorang yang dengan tega menertawakan.

Mau bagaimana lagi? Barang yang kita pakai itu memang tidak asli. Niatnya mau membangun personal branding yang oke, malah jadi hancur gara-gara ketahuan pakai barang palsu. Selamanya image jelek itu malah akan melekat di diri kita.

Tanpa sadar kita jadi rendah diri. Barang-barang yang digunakan untuk meningkatkan reputasi itu malah membuat hidup tidak tenang. Kalau hampir ketahuan, ada juga yang malah makin bohong lagi. Gunanya nggak ada, malah numpuk dosa.

Bisa jadi kamu cuma ingin kegunaan barangnya saja, memilih barang yang ada merek dagangnya bukanlah pilihan bijaksana.

keliatan kali kalo itu nggak asliii via www.gedoor.com

Rata-rata orang membeli barang branded karena ada nilai investasinya. Barang-barang bermerek asli ketika dijual lagi bisa jadi harganya lebih mahal karena tipe serupa tidak lagi dikeluarkan oleh produsen yang sama. Itulah mengapa terkadang membeli barang bermerek tidak lagi berfokus pada kegunaannya saja.

Tapi kamu, duhai ganteng jelita yang untuk investasi saja masih berharap pada tanah warisan orang tua, pantaskah membuat-buat alasan untuk membeli barang yang kegunaannya untuk dilihat orang lain saja?

Jika memang kamu membutuhkan tas, sepatu, atau aksesoris karena fungsinya, sebaiknya hindari barang yang ada merek dagangnya. Sebuah tas polosan sederhana terlihat lebih elegan ketimbang tas bermanik-manik dengan lambang Dolce & Gabbana yang nyaris copot keesokan harinya.

Banyak hal-hal kelam di balik bisnis barang KW. Bukannya berbangga diri, hal-hal ini justru harusnya mengetuk pintu hati.

Perdagangan barang palsu memang marak terjadi di negara berkembang, di antara tingginya permintaan konsumen dan juga timpangnya kebijakan penegakan hukum. Di negara maju, pelanggaran hak cipta ini bisa ditindak sampai ke ranah hukum.

Di beberapa bandara internasional sekarang pun mulai digencarkan razia barang-barang palsu dari merek-merek ternama. Jika terjaring razia, barang-barang tersebut akan langsung dibuang tanpa ampun ke tempat sampah. Tidak hanya itu, penggunanya juga bisa terkena sanksi denda sampai penjara.

Penegakan hukum untuk perlindungan konsumen ini sekilas terasa kejam, tapi memang untuk alasan yang tepat. Tahukah kalian? Perdagangan merek palsu ini kebanyakan melibatkan produksi dengan eksploitasi pekerja anak, kucuran dana untuk jaringan teroris, dan juga nilai transaksi ilegal yang setara dengan perdagangan obat-obatan terlarang. Tanpa sadar kita ikut berkontribusi 🙁

Hanya beda ketenaran, produk lokal kita justru terjamin asli. Membeli karya anak negeri bisa jadi pilihan yang juga trendi.

Industri lokal berkualitas juga banyak via simomot.com

Kalau masih ada yang bilang pakai produk buatan Indonesia itu nggak terjamin mutunya, mungkin dia perlu kita kompres keningnya.

Tahukah kalian bahwa banyak produsen brand-brand ternama justru banyak memproduksi produknya dengan pesanan khusus dari industri lokal Indonesia? Contohnya adalah sentra kerajinan kulit Manding di Yogyakarta, yang produknya bahkan dipesan beberapa brand kulit terkenal mancanegara. Sepatu Cibaduyut juga banyak diburu konsumen karena kualitasnya yang bagus.

Walau mereknya tidak terlalu terkenal, tapi produk lokal aman dipakai karena tentu saja asli. Nantinya kamu justru bisa jadi ambassador yang mempopulerkan produk-produk ini ke lingkar pergaulanmu.

Antara palsu dan asli memang tidak banyak yang tahu bedanya, namun kamu yang justru tahu apa masih tega memakainya?

Gayamu, pilihanmu via blog.vendhq.com

Memang sih, banyak juga orang-orang yang nggak ambil pusing dengan brand asli atau palsu, karena toh katanya nggak beda-beda amat juga.

Nah tapi kamu kan sudah tahu bedanya signifikan, nggak hanya di level fisik yang kelihatan, tapi juga di level nilai-nilai yang banyak bertentangan. Jika memang kamu ingin menghargai nilai brand kesukaan, tapi nggak punya alokasi dana yang cukup, bisa disiasati dengan cara membeli barang secondhand. Percayalah, barang bekas jauh lebih baik daripada barang palsu. Bukan hanya terhadap sistem perdagangan yang adil, tapi juga terhadap harga dirimu di dunia fashion. Bisa kan? Bisa lah. 😉