Sebelum membeli barang, kamu harus benar-benar memikirkan beberapa hal seperti fungsi, kualitas, kenyamanan, dan harga. Jika salah satu tidak benar-benar menjawab kebutuhanmu, mending jangan dilanjutkan, karena pada akhirnya akan memberatkan. Baju, sepatu atau tas, asal nyaman dipakai, merk boleh jadi bukan jadi perkara nomer wahid.

Punya penampilan yang berjalan beriringan dengan memang buat langkahmu lebih percaya diri. Mendapat julukan sebagai insan kekinian, siapa yang tidak bangga? Tapi, dari panggilan yang bikin bangga ini, ada tuntuan yang secara nggak langsung mengharuskan buat memiliki beberapa barang branded yang cukup mahal untuk dijangkau. Alhasil, mencari barang bertitle imitasi atau KW adalah jalan pintas yang sebenarnya nggak terlalu disarankan.

Patokan awal tentunya rasa nyaman. Asal gak bikin gatal, murah pun rela dibayar.

Nyaman nomer satu via michellenadin.tumblr.com

Sebelum membeli sesuatu, melakukan survey kecil-kecilan tak jarang dilakukan oleh sebagian orang. Misalnya saja kamu akan membeli sebuah kaos, yang kamu nilai pertama adalah bahan. Yang menyerap keringat dan nggak transparan tembus pandang adalah kualifikasi umumnya. Jika kualifikasi ini terpenuhi, harga berapapun akan kamu bayar. Terlebih jika harga yang ditawarkan ternyata lebih terjangkau dari ekspektasimu, makin menggiurkan.

Selama kenyamanan bisa kamu dapat saat memakainya, rasa percaya diri dan keinginan buat memadupadankannya akan terasa lebih menyenangkan. Melakukan kegiatan apa pun terasa bagai tak ada hambatan.

Rasa percaya diri akan terdongkrang saat mengenakan yang bermerk. Belum tentu kenyamanan yang sama bisa dirasa.

Advertisement

Terkenal tuh merknya via unsplash.com

Mengenakan produk berkelas internasional seperti Coco Chanel, Zara atau Givenchy akan beda rasanya dibandingkan saat memakai merk biasa. Orang-orang sekitar pun akan memusatkan perhatiannya ke kamu. Sudah bukan rahasia jika butuh modal cukup besar untuk bisa membawanya pulang.

Rasanya pun akan beda, pun kenyamanan dalam hati. Jika kamu jalan-jalan memakai tas bermerk, rasa nyaman di hati pun nggak akan sepenuhnya dirasa. Kamu pun akan diselimuti rasa was-was, khawatir jika tas lecet gegara tersangkut adalah salah satunya. Beda rasanya jika kamu memakai barang yang biasa saja. Was-was pasti dirasa, tapi nggak terlalu berlebihan. Keputusan ada di kamu, mau memberi hati kenyamanan yang penuh atau tidak.

Yang imitasi dan KW terlihat sama tapi beda saat dipakai. Asal mau diri sendiri dibohongi.

Dua kali pertimbangan via unsplash.com

Mengikuti perkembangan mode memang sudah menjadi gaya hidup di masa serba stylish ini. Salah satu jalan pintas yang sering diambil banyak orang adalah membeli barang imitasi atau KW yang harganya jauh lebih murah. Mewujudkan penampilan kekinian bisa didapat secara instan bukan lagi harapan!

Dilihat dari luar memang sama detilnya. Ekspektasi kenyamanannya yang kamu rasa pun tak bisa disamakan. Bisa saja barang imitasi ini akan buat kulitmu lecet dan nggak nyaman. Selain itu, diri sendiri pun akan jadi korban yang kamu bohongi. Kekinian maksimal di mata orang lain, tapi tidak dirasa dari dalam diri. Miris.

Menjadi diri sendiri bukan masalah branded atau tidak. Asal pandai memadupadan, merk bisa diacuhkan.

Keterampilan penting via flowerboysexo.tumblr.com

Pada dasarnya, menjadi diri sendiri adalah bagaimana menjadi kamu secara murni. Tak melulu harus dikelilingi dan mengenakan barang branded, seberapa pandai memanfaatkan apa yang kamu punya untuk dipakai tanpa terkesan memaksa.

Untuk padupadan pakaian, tanpa merk yang mahalnya tak karuan pun penampilan yang kamu banget bisa kamu dapat. Tergantung seberapa banyak kamu bereksperimen dan mencoba dalam berpakaian dengan segala aksesorisnya saja. Merk apa saja bisa diacuhkan. Pembawaan yang sempurna adalah ketika kamu bisa percaya diri,
kapan pun tanpa memaksa.

Kualitas bisa dibandingkan. Lebih murah tapi besok sudah tak layak pakai, sudah bisa membayangkan?

Sudah terpikirkan? via www.shoeclassicoutlet.com

Kualitas barang imitasi dan KW itu bisa dibedakan. Memang, barang branded mahalnya tak karuan. Tapi ada satu poin yang berani dipertaruhkan, yaitu kualitas. Awet bertahun-tahun bisa jadi yang mereka tonjolkan. Yang imitasi dan KW, yakin kualitasnya benar-benar bisa diandalkan?

Harga 10 kali lipat lebih terjangkau dari harga aslinya. Sekali pakai ternyata besok jahitan mulai lepas dan ga layak pakai, apa sudah kamu pikirkan kemungkinan ini?

Untuk membedakannya pun ada banyak cara. Siapkan urat tebal untuk menampung malu.

Uuuuh~ via www.gurl.com

Jangan dikira barang imitasi dan KW akan terlihat sama persis wujudnya seperti barang aslinya. Manusia selalu berbuat salah, apalagi barang yang dibuat oleh tangan manusia, akan selalu ada celah perbedaannya. Coba lihat logo, detil jahitan, bahkan sol sepatu, akan selalu ada yang bisa melihat perbedaan ini.

Seandainya ketahuan kalau selama ini barang kekinianmu adalah sebatas imitasi atau KW, apa urat malumu udah cukup kuat untuk menerima konsekuensi ini oleh orang sekitar?

Definisi nyaman itu relatif. Jika merk dalam negeri yang terjangkau mencukupi, kenapa barang luar tapi KW yang dibeli?

Bedakan dengan bijak via www.dcoshoes.com

Pada dasarnya, kenyamanan yang dirasa oleh setiap orang sifatnya relatif. Tak ada patokan yang bisa benar-benar diaplikasikan sama rata. Jikalau ada orang yang sudah terlanjur nyaman dengan barang branded yang mahalnya tak masuk akal, bebas. Pun sama halnya dengan yang terlalu sulit untuk move on dari barang imitasi beserta ke-KW-annya, pilihan ada pada mereka.

Sebagai pengingat, barang yang berkualitas sebenarnya tak melulu datang dari luar negeri. Sudah banyak brand-brang milik anak bangsa yang sudah tak diragukan lagi kualitasnya dibandingkan dari pabrik terkenal lainnya. Tak ada bea cukai mahal yang harus kamu bayar. Lalu, kenapa harus repot-repot mencari barang imitasi?

Baik atau buruknya kualitas memang bisa dibedakan. Tapi kenyamanan memang tidak bisa dikhianati, karena diri sendirilah yang merasakan. Barang asli atau yang KW, memilih diantara dua hal ini semua adalah keputusanmu. Asalkan sudah melewati pertimbangan yang bijak, ya.