Dilihat dari sudut pandang rataan kerja, mereka yang produktif dan workaholic gak terlihat berbeda sama sekali. Mereka sama-sama bekerja keras dan menghasilkan sesuatu. Perbedaan terbesar antara dua kelompok ini adalah perasaan dan passion yang mereka rasakan saat mengemban tugas.

Dalam berkarya, tidak semestinya kita mengorbankan waktu dan tenaga secara berlebihan yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk diri sendiri, teman, dan keluarga. Selama ini kita percaya bahwa menjadi orang yang gila-gilaan beraktivitas adalah tanda orang produktif. Kamu memang menghasilakan sesuatu, namun gak memiliki kualitas yang tinggi karena semua diselesaikan dengan tekanan dan serba instan. Padahal kamu bisa beraktivitas dengan efisien tanpa harus minggalkan kualitas. Cari tahu apakah kamu seorang produktif yang berkualitas tinggi ataukah kamu hanya sekedar orang gila kerja dari perbandingan di bawah ini:

1. Orang yang produktif tahu apa yang cukup baik bagi dirinya sementara workaholic tidak pernah merasa cukup

Workaholic gak tahu apa itu cukup via imgkid.com

Orang yang berpeforma tingggi mengetahui batasan kerja dan batasan kemampuan dirinya. Baginya, win is a win, terserah berapa banyak atau sedikit yang mereka peroleh tapi jika dia sudah berhasil maka dia akan merasa berhasil. Meraka bisa memilih pertarungan yang bisa mereka menangkan dengan mengenal kemampuannya di bidang tertentu. Mereka bekerja maksimal pada bidang yang dirasa penting bagi kesuksesannya. Jika dihadapkan pada pekerjaan yang gak terlalu penting mereka cukup mengeluarkan kemampuan seadanya, karena tahu memaksakan hanya menguras energi secara sia-sia. Mampu memilih perang yang bisa dimenangkan adalah salah satu unsur buat sukses.

Kita memang gak boleh merasa cepat puas, namun ciri-ciri workaholic adalah gak tahu kapan harus merasa cukup. “Aku gak punya cukup waktu” “Kerjaanku gak cukup bagus” “Usaha kamu belum cukup” adalah kalimat yang sering diucapkan workaholics. Mereka selalu fokus untuk maksimal karena belum tahu apa itu definisi sukses bagi dirinya.

2. Orang produktif selalu berusaha 100% ketika dibutuhkan sedangkan workaholics berjanji memberi 110% namun gagal memenuhinya

Advertisement

Gak mengumbar janji via christianitymalaysia.com

Orang yang bekerja pada performa tinggi tahu kapan waktu yang tepat untuk memberi usaha maksimal pada pekerjaan, yakni pada setiap saat. Ketika dibutuhkan mereka mencurahkan semua tenaga dan pikiran untuk membereskan pekerjaannya. Untuk itu mereka selalu berusaha 100% tiap saat karena percaya berjanji 110%, 1000% dan seterusnya hanya merupakan ilusi. Alih-alih sibuk berjanji memberi lebih, orang produktif meningkatkan kapasitasnya hingga hasil usahanya lebih baik daripada orang workaholics.

Seorang workaholic akan terus berlari tanpa tahu kapan harus berhenti. Selalu mengumbar akan memberikan lebih bukannya memberikan yang terbaik. Itu semua karena mereka tidak becus untuk melihat mana yang lebih penting dan mana yang harus dijadikan prioritas. Semua terlihat prioritas bagi dirinya, sehingga apa yang dia kerjakan gak pernah maksimal.

3. Ketika workaholic bertindak reaktif tanpa rencana, orang berperfoma tinggi bertindak proaktif dan memiliki maksud yang jelas

Tidak terencana via www.huffingtonpost.com

Salah satu ciri orang yang produktif adalah mereka selalu proktif soal jadwal dan pekerjaannya. Sebelum terlelap tidur, mereka sudah menyusun rencana dan to-do list untuk dibereskan esok hari. Mereka sengaja menyusun hari dengan menempatkan tugas terpenting pada prioritas teratas, sehingga besok bisa dikerjakan paling awal. Sementara hal-hal kecil yang kadang tiba-tiba datang bisa dilakukan setelahnya. Semua direncanakan agar gak ada gangguan dan buang-buang tenaga setiap hari.

Sementara workaholic selalu bertindak reaktif dalam memanajemen waktunya. Semua tanpa rencana dan tiba-tiba karena mereka membiarkan orang lain yang menentukan apa yang harus dia perbuat sehari-hari. Gak jarang hal terpenting malah dilakukan belakangan karena gagal mengindentifikasi mana yang prioritas dan mana yang bukan.

4. Mereka yang produktif tahu cara menilai diri sendiri, sementara workaholics membiarkan pihak lain untuk menilai dirinya

Stark: produktif atau workaholic? via comicsbeat.com

Orang yang bekerja pada performa tinggi mengenal baik dirinya sendiri, dia tahu bahwa dirinya berharga dan punya pengaruh terhadap orang di sekitanya. Dengan demikian mereka bisa berkarya dengan rasa tenang tanpa kekangan. Penilaian diri ini adalah hasil evaluasi diri yang dilakukan secara berkala, sehingga mereka bisa meninjau pekerjaannya dan improve dari waktu ke waktu. Mereka memiliki kemampuan untuk mengkritisi diri sendiri bukan sekedar menunggu feedback dari orang lain.

Seorang workaholics semata-mata bertumpu pada penilaian atasan, dosen, teman dan koleganya sehingga apapun yang dikerjakannya didasari pada perasaan takut gagal memeuaskan orang-orang tersebut. Kerjaannya adalah menunggu evaluasi tahunan dan review dari orang lain untuk mengetahui dimana kekurangannya, tanpa ada inisiatif untuk memperbaiki diri setiap hari.

5. Orang produktif berfokus pada proses tidak seperti workaholics yang menempatkan fokus pada hasil akhir

Fokus pada proses via wakeforest.tumblr.com

Mereka yang produktif sadar bahwa dalam beraktivitas semestinya kita harus fokus pada usaha dan proses yang dikerjakan. Karena proses merupakan sesuatu yang bisa kita kontrol. Dalam proses itulah kita bisa mengeluarkan kemampuan terbaik.

Sementara workaholics fokus pada hasil dan pendapatan yang masuk ke kantongnya. Meskipun mereka sudah merasa itu benar namun sesungguhnya mereka gak bisa mengontrol hasil dan pendapatan. Agar mendapat hasil yang maksimal kamu harus fokus untuk mengontrol usaha dan prosedurnya, bukan hasil akhirnya.

6. Karena sadar kemampuan diri, orang produktif mendahulukan dirinya. Sementara orang workaholic mendahulukan orang lain.

Mementingkan orang lain via thoughtcatalog.com

Orang produktif sadar kalau dirinya bukan pahlawan, mereka tahu kemampuan dirinya. Mereka mementingkan dirinya terlebih dahulu, dengan demikian mereka bisa bekerja sama dengan orang lain secara maksimal. Mungkin tindakan ini sekilas terlihat egois, namun sebenarnya gak sama juga. Karena kecenderungannya untuk mementingkan diri berlandaskan pada niat agar bisa mambantu orang secara maksimal apabila urusannya sendiri sudah maksimal. Jika seseorang sudah punya pengalaman pasti dia lebih kompeten dalam menolong yang lain bukan?

Sementara itu seorang workaholic akan mendahulukan orang lain sebelum kepentingannya. Memang ini adalah tindakan yang gak egois, namun apalah artinya jika tidak konsisten dilakukan. Saat kita terus-terusan bekerja demi orang lain, tanpa ada rehat untuk diri sendiri, kita bakal kelelahan sendiri. Sifat mementingkan orang lain yang dimiliki workaholic sebenarnya terpuji, tapi jadi percuma karena didasari oleh keinginan untuk dianggap pahlawan oleh orang lain.

7. Ketika orang produktif sibuk demi pekerjaan, maka workaholic bekerja agar terlihat sibuk

Biar kayak sibuk via www.popsugar.com.au

Tujuan utama orang berperfoma tinggi adalah bagaimana caranya agar apa yang ia lakukan memiliki hasil dan bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain. Jika dia menemui jalan buntu mereka akan mengatur strategi untuk menemukan jalan lain atau kalau perlu membuat jalan yang baru. Semua dilakukan agar tenaga, waktu, dan uang yang dikeluarkan agar gak berubah jadi sia-sia.

Lain halnya dengan workaholic yang bertujuan agar terlihat penting dan sibuk di mata orang lain. Orang yang gila kerja mengisi waktu-waktu luangnya dengan kesibukan karena mereka merasa gak tenang jika gak mengerjakan sesuatu. Rasa insecure ini adalah akibat dari nihilnya pemahaman mereka soal nilai dan kemampuan yang ia miliki. Orang gila ini percaya makin sibuk dirinya maka makin penting pula dirinya, padahal gak semua yang mereka kerjakan penting bagi dirinya apalagi orang lain.

Di akhir hari mereka yang bekerja produktif dengan performa tinggi adalam mereka yang bekerja keras dalam lingkungan yang sehat, cara yang sehat serta merasa bahagia dan terinspirasi oleh pekerjaannya. Sementara para penggila kerja juga bekerja keras namun dengan cara yang gak sehat, lingkungan yang buruk, dan gak bahagia dengan pekerjaannya. Alih-alih terinspirasi, mereka selalu merasa kelelahan terkuras setiap harinya.