Menjadi muslim di negeri asing dan tetap menjalankan semua perintah-Nya bukan perkara mudah. Terbiasa menjadi mayoritas di negeri sendiri dan kemudahan beribadah dimanapun tanpa ada rasa tidak aman, membuatmu mengalami culture shock. Akhirnya kamu merasakan betapa bahagianya mereka yang bisa beribadah dengan aman dan nyaman kemana pun pergi.

1. Jika di Indonesia hanya berpuasa sekitar 14 jam, kamu yang tinggal di negeri 4 musim harus rela melakukannya lebih dari 20 jam

Berbuka puasa bersama dengan komunitas muslim via en.people.cn

“Yang penting sabar aja sih kalau pas Ramadhan tiba.” – (Zul, Finlandia)

Kamu yang tinggal di daratan Eropa harus merasakan lamanya puasa selama 20 jam bahkan lebih. Puasa di Perancis dan Rusia, misalnya, bisa sampai 22 jam lamanya. Bahkan di beberapa negara, konon ada larangan untuk berpuasa jika mengganggu produktivitas. Mencari makanan untuk sahur dan berbuka juga bukan perkara gampang. Kamu tak mungkin menghancurkan ibadahmu selama berjam-jam dengan makanan yang tak kamu ketahui pasti kehalalannya.

2. Bukan hanya tempat sholat yang sulit dicari, suara adzan pun tiba-tiba sangat kamu rindukan

Lebih merinding kalau bisa dengar suara adzan via zulfanafdhilla.com

Advertisement

“Suara adzan tidak ada sama sekali di sini, di masjid pun biasanya suara adzan hanya dibuat bisa didengar di dalam masjid saja, tidak sampai terdengar keras di luar.” – (Reisha, Jepang)

Masjid bukan sesuatu yang mudah kamu dapatkan di negeri yang memiliki umat muslim minoritas. Terkadang tempat ibadah yang disebut masjid adalah sebuah basement apartemen yang luasnya tidak seberapa dan sholatnya harus berhimpitan. Sholat di pojok ruangan, tempat fitting baju, di bawah tangga, atau di taman akan jadi hal yang biasa. Sholat dan dilihatin banyak orang juga tak lagi aneh, bahkan kamu pernah sholat di gereja.

3. Hari raya tak lagi hanya jauh dari orang tua tapi juga jauh dari santapan khas lebaran ala Indonesia

Hari raya tak seramai di tanah air via aljazeera.com

“Lebaran lebih terasa, tapi kangen keluarga.” – (Anin, Inggris)

Makna hari raya jadi sangat terasa karena agama kita bukan lagi menjadi mayoritas dan tak banyak orang yang mengenal tradisi agama kita. Santapan khas lebaran seperti ketupat pun tak akan terhidang sebanyak di rumah kecuali kita datang ke KBRI. Bahkan lokasi sholat hari raya-nya pun jauh terkadang hanya ada di pusat kota yang cukup jauh dari tempat tinggal kita.

4. Kebimbangan besar dan bingungnya cara menjelaskan saat kamu ditawari minum alkohol

Mau minum alkohol? via japantimes.co.jp

“Mereka tidak peduli kamu minum alkohol atau tidak, kamu ikut saja mereka sudah senang karena merasa dihargai”

Sejak awal pada acara welcome party kamu sudah mulai digoda dengan minuman-minuman beralkohol yang memang menjadi bagian dari budaya mereka. Seperti misalnya tradisi Nomikai di Jepang yang berarti drinking party. Kamu tak perlu menolak ajakan untuk datang ke party-nya, datang saja dan pilih minuman yang tidak mengandung alkohol. Bar disana biasanya juga menyediakan jus dan minuman sejenisnya.

5. Tiap mau makan kamu jadi tak bisa tenang, karena harus berpikir “apakah ini halal?”

Melihat kata restoran ‘halal’ membuat matamu terbuka lebar via saigonnezumi.com

“Terpaksa belajar masak biar tenang pas makannya.” – (Dwi, Korea)

Terkadang kamu harus rela menjadi vegetarian dan terpaksa belajar memasak demi rasa nyaman. Walaupun ada toko halal yang menyediakan berbagai macam bahan makanan yang juga familiar untuk orang Asia, namun terkadang lokasinya tak mudah dijangkau tiap harinya. Alhasil kamu pun lebih memilih cara aman dengan makan sayur-sayuran.

6. Kalau kamu memakai jilbab, kamu harus terbiasa mendapatkan pandangan aneh dari orang sekitar yang terbiasa

Jilbabmu membuat orang-orang memandang aneh padamu via islamoriente.com

“Musim panas kok pakai penutup kepala sih? Emang nggak keringetan ya?”

Pandangan profesor dan teman-temanmu serta orang-orang yang kamu temui di jalan mungkin akan terlihat aneh karena kamu menggunakan ikon muslim. Bahkan terkadang berbisik-bisik sambil berulang kali memandangmu. Adapula yang berani bertanya kemudian mengungkapkan kekagumannya atas keteguhan imanmu.

7. Imanmu kembali diuji saat dihadapkan pada budaya pelukan dan cium pipi

dicium dosa, nggak dicium dikira sombong! via blogs.transparent.com

Di Perancis misalnya ada tradisi Bisou (cium pipi kiri kanan) saat mengucapkan bonjour atau bonjour a tous. Kamu pasti bimbang apakah akan melakukannya atau tidak dengan lawan jenis. Di satu sisi kamu takut dianggap tidak menghargai, di sisi lain kamu tidak ingin melanggar larangan agama.

8. Bergabung dengan komunitas Muslim bagimu seperti menemukan oase di padang pasir

Sesama muslim benar-benar saudara disini via kmikorsel.wordpress

Keluarga baru yang kamu temukan di negeri orang ya komunitas muslim dan teman-teman senegarammu. Bertemu mereka terutama di hari raya atau perayaan agama akan membuatmu bahagia tak terkira. Karena itu bergabung dengan Muslim student association atau sejenisnya menjadi sangat penting untukmu.

9. Tuduhan kedekatan kamu dengan ISIS dan teroris jadi hal yang biasa kamu dengar

Kamu harus menjelaskan bahwa kamu bukan teroris via youtube.com

Maraknya Islamophobia mendera hampir semua negara dengan muslim minoritas hanya gara-gara ulah teroris atau ISIS. Ketakutan hingga diskriminasi dari orang-orang di negara tersebut sering kamu hadapi. Akhirnya kamu pun harus menjelaskan dengan hati-hati bahwa muslim dan teroris sama sekali tidak berkaitan.

10. Pada akhirnya kamu pun tahu tak semua orang mencurigaimu karena banyak pula yang menjunjung toleransi dan bangga dengan keteguhan imanmu

Tidak semuanya mendiksriminasikan, kok.. via www.bbc.com

“Masyarakat Amerika Serikat di lingkungan kampus sangat toleran degan kepercayaan agamamu.” – (Nisa, Ohio USA)

Tak semua orang di negeri dengan minoritas Muslim melakukan diskriminasi dan tak selamanya aktivitas kamu yang berkaitan dengan agama akan sulit kamu lakukan di sana. Banyak kok yang menghormati pemeluk agama lain, bahkan ada yang selalu bertanya dengan sopan “do you need special place to pray?“.

Sebenarnya ada beberapa tips yang bisa menjadi solusi saat kamu menjadi muslim minoritas di negeri asing. Seperti misalnya dengan menggunakan aplikasi islamicfinder.org untuk melihat panduan waktu sholat, menggunakan kompas untuk menentukan arah kiblat, membawa botol kecil untuk berwudhu, membawa kaus kaki untuk menutup aurat saat sholat dan masih banyak lainnya. Intinya tak ada yang sulit jika kamu memang memiliki iman yang kuat kuat untuk melakukannya.

Hal-hal unik seperti sholat Jum’at super kilat saat winter karena jarak antara Dhuhur dan Ashar hanya 10 menit justru akan menjadi hal-hal yang tak akan terlupakan kan untukmu?