Libur panjang yang jatuh pada hari Kamis dan Jumat yang bertepatan dengan akhir pekan menjadi libur terpanjang di tahun 2016, selain libur lebaran. Momentum liburan ini lantas dijadikan ajang hampir semua lapisan masyarakat untuk merehatkan badan mereka setelah lelah bekerja sepanjang masa.

Dari sinilah Hipwee Travel mencoba untuk menganalisis arus keriuhan masyarakat dalam mengisi libur panjang mereka. Seperti apakah dampak dari kepadatan para pelancong ini? Ya, inilah dampak yang ditimbulkannya.

Kalau kemarin kamu ke Gunung Rinjani, pasti menemui fenomena luar biasa yang nggak bisa kamu temui di hari-hari biasa. Antre foto di puncak Rinjani!

Panjang banget! via hipwee.com

Pada liburan panjang akhir pekan lalu, ada pengalaman unik yang pasti nggak biasa kamu temui. Ini fenomena langka yang mungkin hanya bisa kamu temui ketika musim libur panjang tiba. Ya, pada libur panjang kemarin, ada sekitar 50-70an lebih pendaki yang mengantre untuk foto di puncak Gunung Rinjani! Foto ini berhasil Hipwee Travel abadikan sebagai kenangan yang nggak akan bisa terlupakan. Lucu sih. Haha!

Masih di Rinjani. Liburan kali ini berpotensi untuk melahirkan gunung baru, yakni gunungan sampah dengan ucapan alay dari pendaki yang nggak bertanggung jawab

Coretan apaan tau! 🙁 via hipwee.com

Advertisement

Miris ngeliatnya. Hal yang harusnya bisa dihindari, kini terulang lagi. Rasanya percuma, kita yang bergerak di bidang pelestarian alam yang telah mengimbau para traveler untuk tidak mencemari lingkungan, ternyata diabaikan begitu saja oleh mereka. ‘Kan sedih! 🙁

Lebih dari air mata, liburan panjang kali ini menyisakan duka dari kepergian salah seorang pendaki wanita asal Palembang. Gunung Rinjani lagi-lagi jadi saksinya

Ike. 🙁 via twitter.com

Sisa liburan yang meninggalkan duka mendalam bagi dunia pendaki. Seorang pendaki wanita dari Palembang yang juga pegawai dari KPP Pajak Lubuklinggau, mengembuskan napas terakhirnya di danau Aik Kalak, Gunung Rinjani. Semoga tenang di surga ya, Kak! 🙁

Jauh sebelum mencapai puncak gunung, macetnya lalu lintas, memaksa pihak polantas membuka jalur alternatif untuk para pengendara yang pengin liburan. Salah satunya jalur menuju Lembang, Bandung

Jalur Nagreg. via nasional.rimanews.com

Kemacetan jelas menjadi dampak pertama yang dilahirkan dari libur panjang kali ini. Dari hari Kamis hingga Minggu, volume kendaraan di berbagai belahan Indonesia mengalami kenaikan yang cukup signifikan, meski nggak setinggi libur lebaran. Titik-titik kemacetan pun terdata terletak pada pintu masuk kawasan wisata, seperti Puncak Bogor, Lembang Bandung, dan pintu tol di setiap kota.

Sebelumnya, para pengusaha rental mobil di Ibukota bahkan kewalahan melayani permintaan konsumen. Banjir mobil di mana-mana!

Rental mobil. via www.rentalmobiljakarta.biz

Yang unik dari setiap libur panjang adalah permintaan orang untuk menyewa mobil. Rental mobil/motor kebanjiran konsumen! Sudah barang pasti kalau di Jogja, Bali, dan Bandung, ramai akan penyewa kendaraan. Nah, liburan kali ini, Ibukota Jakarta pun dibanjiri konsumen yang menyewa mobil. Bahkan, sudah dari jauh hari, mereka mem-booking mobil/motor, seperti pada beberapa rental kendaraan di daerah Kalibata dan sekitarnya.

Ternyata, nggak cuma jalan raya yang ramai akan pengendara. Wisatawan pun ramai memadati bandara, Adisucipto International Airport salah satunya

Adisucipto. via liburmulu.com

Tercatat dari hari Kamis (5/5) hingga Minggu (8/5), sebanyak kurang lebih 100.000 orang keluar masuk dari dan di Bandara Adisucipto, Yogyakarta. Kebanyakan dari mereka menggunakan rute Jakarta-Jogja dan sebaliknya. Setiap harinya, kira-kira ada 25.000 orang yang menggunakan jasa moda transportasi ini. Rekor!

Sesampainya di tempat wisata, macet pun nggak terhindarkan. Seperti Gunung Semeru yang berubah jadi gunungan manusia yang lalai akan kelestarian lingkungan

Padahal nggak dianjurkan untuk camping tepat di pinggir danau Ranu Kumbolo… 🙁 via facebook.com

Ini penampakan mereka sebelum memulai pendakian.

Rame banget! via facebook.com

Ternyata, macet nggak cuma ada di jalanan. Macet pun membludak di tempat-tempat wisata. Jangan salah, tempat wisata kali ini bukan tempat wisata biasa, melainkan Gunung Semeru! Tepatnya di danau Ranu Pane dan danau Ranu Kumbolo yang menjadi lautan manusia alias pendaki alay yang camping di areal yang nggak disarankan. Seperti camping tepat di pinggir danau, tanpa disengaja air danau yang menjadi pusat kehidupan para pendaki dan hewan liar di sana akan rusak. Hal yang seharusnya dilarang oleh pihak pengelola, sebab dari resapan minyak atau zat kimia lainnya yang ada di dekat danau, akan menyebabkan pencemaran air danau Ranu Kumbolo. Bahaya untuk kehidupan biota air dan lingkungan!

Dampak buruk yang terjadi akibat liburan panjang ini adalah…. Prau dan Sikunir yang jadi gunungan sampah!

Yasalam! 🙁 via www.wonosobozone.com

Menurut Kepala Kantor pariwisata dan ekonomi kreatif Kabupaten Wonosobo Agus Purnomo, lonjakan pengunjung pada liburan kali ini sangat besar, yakni nggak kurang dari 15.000 jiwa! Bukan cuma puncak Gunung Prau, wisatawan juga mengunjungi Puncak Sikunir, Telaga Cebong, Telaga Warna, Dieng Plateu Theatre, dan juga Tuk Bimolukar. Prestasi yang bagus bagi Wonosobo. TAPI, yang sangat disayangkan adalah pasca liburan. Dari puncak Gunung Prau, didata mencapai 1 ton lebih sampah yang menggunung di Gunung Prau. Itu belum termasuk tempat wisata lainnya yang juga dipadati pelancong. Miris. Sedih. Campur aduk. 🙁

Nggak cuma macet, liburan panjang kali ini menyisakan begitu banyak cerita. Yang perlu kita soroti adalah menumpuknya sampah di tempat wisata yang seharusnya bisa diminimalisasi. Lebih bagus lagi, kalau kita bisa menghentikan pembuangan sampah sembarangan. Sudah seharusnya, kita sebagai traveler sejati membudayakan untuk menyimpan, memungut, dan membuang sampah yang ada di tempat wisata untuk dibawa ke pembuangan yang telah disediakan. Memang, hanya kesadaran diri yang bisa mengubah kita menjadi manusia yang lebih dewasa.