Akhir pekan lalu, terjadi sebuah kecelakaan yang sungguh nggak diharapkan oleh para pendaki manapun terjadi di Rinjani. Ya, pendaki wanita dari Palembang yang menjelajahi Gunung Rinjani harus mengembuskan napas terakhirnya di danau atau pemandian air panas Aik Kalak, nggak jauh dari danau Segara Anak, Gunung Rinjani. Usut punya usut, pendaki yang diketahui bernama Ike Susesta Adelia (26) ini berangkat bersama 25 rekannya dengan status ilegal, artinya mereka nggak mendaftarkan diri ke pos penjaga yang ada di Sembalun dan Senaru. Meski kenyataan mereka tetap naik lewat jalur Sembalun tidak berarti menggugurkan tidak resminya pendakian mereka.

Dari hasil penelusuran Hipwee Travel, ternyata nggak sedikit pendaki ilegal yang mengalami kecelakaan di pendakiannya. Lebih dari seratus pendaki mengalami mimpi buruk selama pendakiannya dari tahun 2000an hingga tahun ini. Dan semuanya adalah pendaki ilegal maupun melewati jalur yang ilegal!

Btw, kamu tahu nggak sih dampak yang bakal kamu alami ketika kamu menjadi pendaki ilegal? Status yang seharusnya segera kamu tinggalkan! Dari Hipwee Travel, inilah dampak yang akan terjadi ketika kamu menjadi pendaki ilegal!

Kegiatanmu selama pendakian sudah bukan tanggung jawab para pengelola. Apa yang bisa mereka perbuat, wong kamu nggak daftarin diri ke mereka?

Nah, daftar dulu. via bajakin.blogspot.co.id

Satu yang harus kamu tahu, ketika kamu telah memutuskan untuk menjadi pendaki ilegal, secara otomatis para pengelola nggak bertanggung jawab sama sekali dengan hidupmu di gunung selama berhari-hari! Bahkan, mereka nggak akan tahu bahwa kamu dan rekan-rekanmu mendaki gunung yang mereka jaga. Jangan harap kamu dapat perhatian dari mereka. Perhatian dari para penjaga pos dan porter aja nggak dapet, gimana perhatian dari si dia?! Pfft!

Advertisement

Kasus Ike dkk ini juga seperti contoh tepat buat pendaki lain, bahwa proses identifikasi jadi sulit karena nama mereka tidak terdaftar di pos pendakian. Memang sih jalur yang dilewati legal, namun itu tidak mengubah status masuk tanpa izin, kan?

Kalau kalian tersesat di jalan tikus, siapa yang bisa nolongin? Nggak semua orang tahu jalan tikus yang kamu lewati!

Trek resmi Gunung Kerinci. via www.belantaraindonesia.in

Biasanya pendaki ilegal tidak naik sesuai jalur pendakian resmi. Mereka biasanya mengambil jalur-jalur tikus. Nah, kalau kalian tersesat di ‘jalan tikus’, siapa yang bisa nolongin? Karena nggak semua orang tahu jalan tikus yang kamu lalui. Gunung memiliki begitu banyak jalur, tapi hanya jalur resmilah yang sudah menjadi medan bagi para porter, penjaga pos, Basarnas, dan semua pihak yang berpeluang bisa menyelamatkan korban pendakian. Seperti kisah tahun lalu, empat pendaki ilegal yang tersesat di TNGGP (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango). Mereka terpaksa harus menyintas demi kelangsungan hidup mereka. Mereka tersesat tanpa tahu arah jalan pulang, yang mengharuskan mereka bertahan hidup selama beberapa hari tanpa logistik dan peralatan yang memadai. Untung, tim TNGGP dan komunitas pecinta alam dapat menemukan mereka, setelah beberapa hari.

Lebih parah lagi, kalau salah satu pendaki dalam rombonganmu mengalamai kecelakaan. Proses evakuasi akan memakan waktu yang nggak sebentar

Evakuasi. via m.rmolsumsel.com

Yang paling bahaya adalah ketika kamu menjadi pendaki ilegal, dan ada salah seorang rombonganmu mengalami kecelakaan, siapa yang bisa nolong? Kalau pun kamu meminta bantuan ke pos penjaga, bisa dipastikan mereka akan kuwalahan untuk mengevakuasi. Bantuan dari masyarakat (porter), petugas yang berjaga, Basarnas, TNI, dan sebagainya, jelas akan membutuhkan waktu yang sangat lama ketika kamu atau temanmu yang kecelakaan berada bukan di jalur pendakian resmi. Karena nggak semua orang tahu ‘jalan tikus’ yang kalian lewati.

Jalur resmi yang telah disediakan tentu memiliki fasilitas dan keamanan yang cukup memadai. Nggak kayak jalur tikus yang menyusahkan dan membahayakan

Kenapa pengelola taman nasional gunung mana pun meyediakan trek resmi khusus pendaki? Ya, salah satu tujuannya adalah untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang nggak diinginkan semua pihak. Dengan adanya trek resmi, memudahkan pihak penanggung jawab untuk melakukan kewajibannya. Ya, namanya juga gunung, dipenuhi pepohonan dan hutan belantara, tentu banyak jalan yang bisa dilalui. Tapi, jalur yang aman hanyalah yang telah dibuka oleh para pengelola.

Makanya, usahakan untuk menjadi pendaki yang legal! Berapa sih harga tiket masuk untuk mendaki?

Asuransi pada tiket masuk. via www.kompasiana.com

Coba deh, pikir ulang. Apakah tiket masuk untuk sebuah pendakian terlalu mahal bagimu? Mungkin kalau logikamu gunung adalah milik semesta, maka kamu nggak perlu bayar tiket, mending kamu nggak usah ke mana-mana. Tidur saja di rumah! Justru, dengan kamu membayar tiket yang harganya jauh lebih murah dari harga gadget yang sering kamu buat pakai selfie itu, sedikit banyak membantu pengembangan fasilitas taman nasional gunung yang kamu daki. Juga mengasuransikan nyawamu selama pendakian. Itu tujuannya.

Nah, itulah beberapa hal yang perlu kamu tahu tentang pendaki ilegal serta dampak buruk dan baiknya. Bukan bermaksud mendiskreditkan rombongan Ike, Hipwee hanya ingin mengingatkanmu akan pentingnya sebuah pendakian resmi. Mulai sekarang, tolong, jadilah pendaki yang bijak. Jangan tergiur karena kamu menyukai tantangan dan ogah bayar tiket masuk! Menjadi pendaki legal justru lebih berkah.