Cerita ini belum lama terjadi. Ini adalah sebuah pengalaman yang penuh misteri saat traveling bersama seorang temanku ke suatu negara. Bukan, lokasinya bukan di Indonesia. Kami berkunjung ke sebuah pulau yang indah selama 4 hari. Namun ya karena kami backpacker, jadinya kami menginap di hotel kecil di tepi pantai dan lokasinya di ujung pulau.

Jadi begini ceritanya…

Kami tiba di pulau X pada malam hari. Suasana pulau itu sudah sangat sepi…

ilustrasi pulau via www.erabaru.net

Kami sampai di Pulau X pada malam hari, ketika suasana sudah sangat sepi. Jam di tangan waktu itu menunjukkan pukul 21.30 waktu lokal. Kami berdua kemudian mencoba mencari di mana letak penginapan kami untuk malam itu. Cukup sulit memang karena tak banyak yang bisa ditanyai. Namun dari tangkapan layar di HP tentang peta lokasi, sepertinya penginapan kami tak jauh dari pelabuhan. Dan benar, setelah berjalan sekitar 200 meter, akhinya sampailah di ‘hotel’ kami.

Hotel itu terlihat sepi, dan memang hanya kami yang menginap hari itu. Suasananya temaram, dengan satu orang penjaga yang terlihat ramah…

ilustrasi hotel via i2.wp.com

Advertisement

Mungkin karena terlalu malam, kami cukup lama menunggu petugas untuk menemui kami. Sudah istirahat barangkali. Tak berapa lama, seorang pria keluar menyambut kami, dan segera mempersilahkan untuk masuk ke kamar.

Lampu kamar terlihat berwarna kuning temaram, nuansanya remang-remang. Kebetulan kamar kami berada di lantai 2, dengan pintu kaca yang menghadap ke pantai. Sementara tepat di luar kamar, ada teras yang cukup luas dengan pemandangan pantai. Jadi dari kamar bisa langsung ke teras lewat pintu kaca. Nah, menariknya pintu kaca ini bisa ditutup dengan gorden. Sayang, gordennya nggak bisa menutup secara sempurna. Nah, dari sinilah cerita ini bermula…

Kejadian ini justru bukan aku yang mengalami melainkan Udin temanku, yang malam itu cepat sekali tertidur…

ada yang mengawasi via i0.wp.com

Oh iya, temanku bernama Udin. Dia cukup kelelahan hingga ia pun tidur setelah mandi dan sholat. Aku pun ikut tidur 30 menit kemudian. Tapi siapa sangka, tengah malam, Udin terbangun. Ia merasa seolah-olah dirinya diawasi oleh seseorang, entah apapun bentuknya dari balik pintu kaca. Dia merasa diawasi karena gordennya tak bisa ditutup secara penuh. Dan karena Udin takut, ia pun berbalik badan dan menghadap ke arahku.

Meskipun dadanya berdegup kencang, ia mencoba untuk kembali tidur. Lebih-lebih malam itu semua lampu dimatikan, hanya lampu kecil di sudut kamar yang masih menyala. Udin pun tidur lagi, tapi…

Setelah itu, Udin kembali tidur, dan kali ini ia mengalami kejadian yang mengerikan…

teror kepada udin via blog.francetvinfo.fr

Awalnya Udin menghadap ke kanan, ke arah pintu kaca dengan gorden yang tak tertutup sempurna. Karena ia merasa tidak nyaman, Udin kemudian berpindah menghadap ke kiri, yakni ke arahku. Tangannya digunakan sebagai bantalan tidur, sehingga telapak tangannya ada di belakang kepala.

Ketika hendak memejamkan mata, jari tengah Udin tiba-tiba seperti ada yang menyentuh. Pelan, dan berulang-ulang. Sadar kalau sentuhan itu datangnya dari arah pintu kaca, Udin pun makin merinding. Detak jantungnya semakin kencang. Di tengah ketakutannya, tiba-tiba ujung jari yang disentuh tadi terasa seperti digigit seseorang. Udin pun kaget. Ia coba melihat ke arah kanan. Dan nihil, tidak ada siapa-siapa. Udin pun makin merinding.

Udin yang kembali terbangun tengah malam. Kali ini ia melihat sesosok mengerikan…

serem banget sih via coretanasalseru.blogspot.co.id

Udin kembali terbangun di malam itu. Kali ini ia menghadap ke kiri, ke arahku yang tertidur pulas. Tapi sayang, kali ini teror belum berhenti. Dia melihat sesosok pocong tidur di sampingnya. Sesosok putih yang tepat berada di hadapannya. Anehnya, wajah dari pocong tersebut adalah wajahku. Wajah temannya sendiri, sehingga ia makin serba salah. Mau bangunin kok pocong meskipun itu wajah temannya, tapi kalau nggak bangunin kok serem. Ia makin ketakutan. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya. Udin merapal doa sebisanya dan ia memilih menghadap ke atas. Selang beberapa menit, ia kembali menghadap ke kiri, dan… ia masih melihat pocong tadi.

Akhirnya ia kembali melihat ke atas, berdoa dan semoga teror hantu ini cepat selesai…

Keesokan paginya, aku yang tak tahu apa-apa dengan pedenya bilang ke Udin,

“Malam ini nginep di sini ya, udah aku perpanjang satu malam lagi…”

Udin pun tertunduk lesu dan pasrah…

NB : Udin berani bercerita setelah kami pulang ke Indonesia

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya