Hari ini, tepat 10 tahun silam, Indonesia berduka. Masyarakat digemparkan dengan berita di media massa yang begitu masif. Terlebih lagi bagi masyarakat Yogyakarta. Kenangan 10 tahun lalu ini jelas tak bisa dengan mudah dilupakan begitu saja. Siapa yang bisa melupakan bencana terbesar di Jogja pada 27 Mei 2006 lalu? Sebuah gempa bumi berkekuatan 6,3 SR versi USGS atau 5,9 SR versi BMKG, terjadi tepat pukul 5:05 WIB 10 tahun lalu. Ya, masih sangat lekat diingatan kita, khususnya masyarakat Bantul, Yogya, dan sekitarnya yang terkena dampak gempa bumi tersebut.

Tanpa bermaksud mengorek luka lama, Hipwee Travel akan menampilkan beberapa gambar yang sempat terabadikan pascagempa Jogja 10 tahun lalu. Tak ada salahnya kita mengenang peristiwa kelam ini, sekadar untuk belajar dari secuil sejarah kota istimewa Yogyakarta. Dan, inilah beberapa potret kesedihan wajah Yogyakarta pascagempa bumi dalam edisi #10thgempaJogja.

Senin pagi, 27 Mei 2006, warga terbangun dengan guncangan yang dahsyat. Beberapa dari mereka tak sempat menyelamatkan diri dan orang-orang tercintanya

Yang tak sempat menyelamatkan dirinya sendiri. via smilesshutter.blogspot.co.id

Raut kesedihan yang terpancar dari wajah kuyu seorang Kakek di daerah Bantul, Yogyakarta, 10 tahun silam.

Kepanikan masyarakat membludak ketika tersentil isu adanya tsunami menyusul gempa sebesar 5,9 SR tersebut. Jalan Tamansiswa 10 tahun silam…

Advertisement

Pukul 6:10 dan 8:15 WIB, gempa susulan melanda Jogja, selaras dengan adanya isu akan ada tsunami yang dahsyat setelah itu. Sontak, masyarakat berbondong-bondong dari arah selatan menuju ke arah utara dengan kepanikan dan ketakutan yang mereka bawa. Siapa yang tak panik setelah isu tsunami dengan adanya air bah yang melonjak ke daratan? Semua chaos tak teratur. 🙁

Salah satu dari sekian ribu rumah/bangunan yang hancur akibat gempa Jogja. Saphir Mall yang baru buka pun menjadi korban

Ambarukmo Plaza yang megah dan kokoh seperti itu saja sempat mengalami retak-retak yang cukup parah. Nahas yang mendalam bagi Saphir Square, yang baru buka pada 2005, harus megnalami kerusakan parah di beberapa titiknya.

Perumahan warga yang luluh lantak terkena dampak guncangan gempa pada Mei 2006 lalu. Cerita paling kelam di abad ke-20 bagi masyarakat Jogja

Pascagempa kurang dari 24 jam, sudah tercatat kurang lebih 3.098 orang meninggal dunia. Sebanyak 2.971 jiwa adalah warga dari Kabupaten Bantul. Pada saat itu, tercatat ada 3.824 bangunan yang rusak dan hancur, serta memutus semua jaringan komunikasi.

Sangat nahas, mereka yang tak sempat melarikan diri dari guncangan perut bumi 10 tahun lalu. 🙁

Jogja dalam balutan duka.

Situasi penanganan korban pascagempa Jogja. Begitu crowded dan sarat akan air mata

Para korban yang butuh penanganan serius. via blogspot.com

Beginilah situasi dan keadaan masyarakat pascagempa. 🙁

Bahkan, kekuatan gempa 10 tahun lalu ini sampai meruntuhkan beberapa relief di candi Prambanan, Sleman. Begitu dahsyatnya kekuatan gempa ini

Candi Prambanan. via print.kompas.com

Candi Prambanan yang terhitung cukup jauh dari titik gempa di Bantul, pun terkena dampaknya. Beberapa relief dan candinya hancur berserakan.

Yang menyedihkan tentulah sebuah gedung kampus STIE Kerja Sama, yang kini sudah rata dengan tanah.

🙁 via panoramio.com

Penampakan kampus STIE Kerja Sama, yang kini menjadi lapak untuk pasar malam.

Pascagempa dahsyat, warga bergotong royong untuk menata Jogja yang damai dan indah seperti sedia kala. Masih dalam perasaan yang sangat menyedihkan

Bahu membahu. via smilesshutter.blogspot.co.id

Setelah gempuran gempa yang saling susul beberapa kali, masyarakat lantas saling membahu untuk membenahi semua yang telah hancur. Mengembalikan kota tercinta seperti seindah sebelumnya.

Begitu gempa terjadi pada Senin pagi 10 tahun lalu, tim SAR segera meluncur untuk evakuasi. Bantuan pun datang dari negara tetangga, seperti tim SAR dari Singapura

Evakuasi. via print.kompas.com

Seorang anggota Disaster Assistance and Rescue Team dari Singapura mencari korban gempa di reruntuhan dengan bantuan seekor anjing di Desa Bawuran, Pleret, Bantul, DI Yogyakarta, Senin (29/5/2006). (kompas.com)

Sepuluh tahun berlalu, dan kini Jogja telah menjadi kota istimewa (lagi) yang penuh dengan cerita dan cinta.

Setelah bencana yang menghancurkan hampir seluruh kota Yogyakarta, 10 tahun lalu, kini daerah istimewa ini telah bertransformasi kembali menjadi kota yang sangat nyaman untuk dikunjungi atau ditinggali. Bahkan, PBB mencatat Jogja sebagai kota yang sangat tanggap dalam menghadapi bencana.

Itulah beberapa potret kesedihan wajah Yogyakarta pascagempa bumi dalam edisi #10thgempaJogja. Semoga dengan adanya masa kelam ini, kita dan semua masyarakat Indonesia bisa belajar dari sejarah, untuk menjadi lebih baik. Menjaga Jogja tetap aman dan nyaman. 🙂