Buat apa beli rumah kalau renjana terbesar dalam hidup adalah keliling dunia?

Yup, sepertinya hal itu yang dipikirkan pasangan Herman dan Candelaria Zapp ini. Bersama mobil tua keluaran 1928, mereka udah traveling selama 12 tahun ke lebih dari 40 negara sampai punya 4 anak, guys! Gokil nggak tuh!

Pengen tau gimana kisah perjalanan mereka? Yuk, simak!

1. Teman Sepermainan Sejak Kecil

berteman sejak kecil via 3.bp.blogspot.com

Advertisement

Herman (42) adalah seorang ahli IT yang lahir di San Fransisco, Amerika. Di usia 10 tahun, Herman pindah ke Argentina dan bekerja di peternakan milik kakeknya. Ketika itu Herman bertemu gadis kecil bernama Candelaria yang usianya 2 tahun lebih muda darinya.

Mereka berteman dan tumbuh bersama hingga usia Candelaria yang ke-14, dan mereka pun saling jatuh cinta. 10 tahun pacaran, mereka ahirnya menikah di tahun 2006. Sejak kecil, Herman dan Candelaria udah punya mimpi yang sama, mereka ingin keliling dunia.

Pasangan yang satu ini emang beda dari pasangan-pasangan lain. Bagi mereka, nggak ada yang lebih keren dari keliling dunia dengan mobil tua sambil memperlihatkan dunia pada anak-anak mereka.

2. Mobil Tua Hadiah Dari Kakek

mobil tua hadiah dari kakek via 3.bp.blogspot.com

Kakek Herman yang tinggal di Argentina mengerti kalau cucunya punya mimpi besar buat keliling dunia. Kakek Herman pun memberikan hadiah berupa mobil tua Graham Paige keluaran 1928 yang biasa dipakai di peternakannya.

Menurut kakek Herman, untuk bisa pergi sejauh mungkin, seseorang harus berkendara dengan perlahan. Jadi, nggak ada pilihan lain kecuali mobil tua. Berkendara dengan kecepatan 40 km/jam jadi aturan wajib kalau pengen selamat pakai mobil ini.

3. Awal Perjalanan The Zapp Family

perjalanan pertama ke alaska via i.telegraph.co.uk

Heman dan Candelaria Zapp memulai perjalanan mereka dengan menelusuri jalur Patagonia di Argentina hingga ke Alaska. Kenapa Alaska? Karena mereka ingin mencapai Gunung McKinley, titik tertinggi seluruh benua Amerika.

Di tahun 2004 mereka sempat kembali pulang ke Argentina, tapi cuma beberapa minggu karena mereka nggak betah. Alasannya, mereka masih ingin traveling, serta menjelajah lebih banyak tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya.

Perjalanan mereka pun dilanjutkan ke Amerika Selatan pada 2005 hingga 2007. Lalu, mereka ke Amerika Tengah, Amerika Serikat sampai Kanada, hingga akhirnya tahun 2009.

4. Mereka Juga Pernah Nggak Punya Uang

pernah nggak punya uang via i.dailymail.co.uk

Setelah traveling pertamanya, Herman sadar bahwa mimpinya ini cukup menghabiskan banyak uang. Ia juga mengaku kalau uang tabungannya begitu cepat habis. Bayangin aja, ada 6 orang yang harus makan setiap harinya, isi bensin, biaya perawatan mobil, mengurus visa dan masih banyak lagi.

Tapi, Herman dan istrinya berkali-kali diselamatkan oleh kebaikan orang-orang yang mereka temui selama perjalanan. Banyak orang merasa iba dengan keluarga Zapp, tapi lebih banyak yang merasa senang dan ikut bangga mendengar kisah mereka.

Sekalipun biasa tidur di tenda, ada aja yang menawarkan tempat untuk mereka tidur, memberi makanan, bahkan bensin. Perjalanan mereka mungkin bisa membuktikan kalau masih banyak orang baik di dunia ini ya, guys!

5. Bisa Punya 4 Anak

wow, bisa punya 4 anak! via i.dailymail.co.uk

Berkeliling 4 benua dan melewati 142.000 mil, perjalanan Herman dan Candelaria makin seru dengan lahirnya anak-anak mereka: Pampa (8), Tehue (5), Paloma (3), and Wallaby (1).

Melihat Candelaria hamil dan masih aja traveling, tentu banyak yang terkejut. Ternyata, cerita kelahiran Pampa juga menarik lho, guys! Pampa lahir di salah satu rumah sakit di Greensboro dan Herman diharuskan membayar $5,000.

Setelah koran lokal menerbitkan kisah kelahiran Pampa, bantuan pun berdatangan. Sebuah klub mobil antik menawarkan bantuan untuk membayar biaya rumah sakit. Gereja setempat menawarkan upacara kelahiran bayi dan ada aja yang nyumbang mainan atau kereta bayi.

Uniknya lagi, masing-masing anak ternyata punya kewarganegaraan yang berbeda-beda, lho! Si Sulung Pampa lahir di Greensboro, North Carolina, AS. Tehue lahir di Argentina, Paloma di Vancouver Island, dan Si Bungsu Wallaby, seperti namanya, lahir di Australia.

6. Waduh, Gimana Sekolahnya Ya?

gimana sekolahnya ya? via 2.bp.blogspot.com

Anak-anak itu dididik sendiri oleh Herman dan Candelaria. Ya, anggap aja mereka homeschooling. Mereka berlangganan kurikulum dan materi-materi pelajaran secara online. Ketika di perjalanan melihat komputer atau kasarnya warnet, Herman akan mencetak materi pelajaran untuk anak-anaknya.

Bagi Herman, nggak ada cara yang lebih baik untuk mendidik anak-anaknya selain membiarkan mereka melihat dunia. Anak-anak bisa melihat kanguru dan beruang di alam bebas. Mereka juga bisa belajar berbagai bahasa dan budaya di tempat-tempat yang mereka singgahi.

7. Berawal Dari Traveling Hingga Merilis Buku

sukses merilis buku via 3.bp.blogspot.com

Setelah perjalanan pertama di Alaska, pasangan Herman dan Candelaria menerbitkan buku berjudul Dream Chaser. Buku kisah perjalanan mereka ini sukses menjadi yang terlaris di International Book Fair of Costa Rica. Kemudian, buku kedua mereka berjudul ‘Spark Your Dream’ diterbitkan Three Americas di 2007.

8. Perjalanan Belum Berhenti

perjalanan masih berlanjut via media1.s-nbcnews.com

Setelah menjelajah Alaska, Amerika, dan Kanada, keluarga Zapp melanjutkan perjalanan ke Australia, New Zealand, Jepang, dan Korea Selatan. Mereka bersemangat untuk traveling ke Asia Tenggara. Mulai dari Brunei, Filipina, Malaysia, hingga akhirnya sampai di Indonesia pada Mei 2013 lalu.

Tiba di Semarang, mereka pun mengunjungi Bali, Yogyakarta, hingga Jakarta. Perjalanan pun berlanjut ke Sumatra, Singapura, Thailand, Kamboja, Vietnam, Cina, dan India.

Sampai hari ini, mereka nggak berpikir untuk menghentikan perjalanan mereka, lho!

9. Banyak Kebaikan Di Dunia Ini

banyak kebaikan di dunia ini via www.team-bhp.com

Bagi Herman dan keluarga, ini bukan sekedar perjalanan biasa, tapi prestasi besar. Selama 11 tahun, mereka melihat banyak kebaikan di tempat-tempat yang mereka singgahi. Ada lebih dari 12.000 orang yang pernah membantu mereka.

“Keluarga kami lebih sering menginap di rumah warga lokal. Di Filipina, ada keluarga yang mengijinkan kami menginap sekalipun mereka cuma punya satu kamar, satu kasur, dan sedikit makanan. Yang membuatku terharu, mereka masih saja minta maaf karena tidak bisa menjamu kami dengan lebih baik.”

Bisa bayangin gimana serunya perjalanan The Zapp Family nggak, guys? Kalau mau tahu cerita mereka yang lebih lengkap, silakan kunjungi situs mereka ini. Berminat atau punya nyali buat meniru mereka dan keliling Indonesia? 🙂