Wahai anak-anakku, anak-anak sang Ibu Pertiwi,

Apa kabarmu hari ini? Di antara himpitan kesibukan dan berbagai deadline yang jadi satu-satunya yang kamu pikirkan akhir-akhir ini, sudahkah kau susun rencana untuk menelusuri lekuk punggungku lagi? Apakah kau rindu menjejaki tanahku sebagaimana aku rindu mendengar napas dan teriakan lantangmu?

Tapi aku bukan hanya menantimu, kaki-kaki yang pernah menjejak tanahku. Aku juga ingin memanggil anak-anak yang sebelumnya belum pernah menghirup udaraku atau menghabiskan malam berselimut kabutku.

Akulah siluet megah yang tiap hari kau lihat dari jendela rumahmu. Dan kini, aku hendak mengajakmu bicara dan mendengarkanku bercerita.

Kedatanganmu selalu kunanti. Dakilah puncakku, dan akan kuajarkan padamu makna kerendahan hati

Belajar bijaksana menilai diri via bocahpetualang.com

Advertisement

Bisa merasakan jejak langkah kalian menapaki jalur-jalur pendakian di punggungku sungguh menyenangkan. Tiap kali kalian menjajaki diriku, di sanalah aku percaya ada manusia yang sedang mencari sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Ada manusia yang tak hanya berpikir dirinya adalah pusat dari semesta. Ada manusia yang ingin mengingat pencipta-Nya.

Dan di sinilah aku, berusaha untuk menuntun kalian kepada jawaban-jawaban yang berusaha kalian temukan di dalam lubuk hati. Jawaban yang membuat kalian semakin rendah hati. Bukan lewat kata-kata lembut, melainkan lewat tantangan dan rintangan yang menguji nyali, kemampuan, serta kegigihan kalian sampai batas maksimal, sehingga kalian mampu menilai kemampuan diri kalian sendiri.

Jika Bumi adalah ibu yang mencintai anak-anaknya apa adanya, maka aku adalah seorang bapak yang mendorong anak-anaknya menemukan potensi terbaiknya.

Sayangnya, kini kedatangan kalian bukan lagi hal yang sederhana. Banyak yang datang bukan dengan niat belajar bijaksana

Vandalisme di Gunung Agung, Bali via theclumsyduck.wordpress.com

Dahulu, hanya ada segelintir orang yang berani bersusah payah bertaruh nyawa hanya demi mengunjungiku. Mereka berusaha untuk lebih mengenal diriku—dan diri mereka sendiri. Aku pun menyambut mereka dengan sukacita dan menantang mereka sampai batasnya. Mereka pulang dengan puas dan gembira, seraya berjanji untuk kembali datanglagi padaku. Kembali untuk menjadi sejatinya manusia.

Setelahnya, makin banyak rupa-rupa manusia yang hinggap ke tubuhku. Mereka yang berusaha menemukan makna kerendahan hati. Mereka yang menginginkan sebuah pencapaian. Mereka yang ingin menemukan kehangatan pribadi di balik dinginnya puncak-puncak yang didaki. Tentunya, aku senang karena makin banyak manusia-manusia yang belajar dariku.

Sayangnya, tak semua yang datang padaku mencari kebijaksanaan dan makna dari kesederhanaan.

Perkara mengunjungiku kini bukan lagi soal menaklukkan ego pribadi dan menjadi manusia yang sederhana, sebagian dari kalian datang justru karena niat sebaliknya: memuaskan egonya untuk diakui oleh orang lain.

Kadang aku tak paham pada pola pikir manusia. Alam ini tercipta jauh sebelum kalian ada, namun kalian berlaku seolah ras manusialah yang memilikinya

Menjadi sederhana di antara kompleksitas manusia via ndri.info

Tahukah Manusia kadang terlalu kompleks untuk alam pahami. Kalian seringkali tak cuma mengambil apa yang kalian butuhkan dari sang Pertiwi. Beberapa golongan manusia bahkan sengaja membabat Bumi dan mengekspolitasinya demi memuaskan ketamakan mereka.

Karena gengsi dan ego, kalian membeli sesuatu yang sebenarnya tak kalian butuhkan, hanya demi membuat orang lain terkesan.

Sampah di Ranu Kumbolo via www.kaskus.co.id

Bagi orang-orang ini, mendaki gunung tak ubahnya plesiran tanpa makna mendalam yang cuma mengejar kesenangan dan demi mendapatkan pengakuan semu berupa likes di jejaring sosial. Mereka melupakan makna kesederhanaan dan kerendahan hati yang aku ajarkan.

Mereka datang berbondong-bondong jumlahnya, seperti air bah yang tak terbendung. Mereka tak segan-segan meninggalkan sampah mereka begitu saja tanpa dibawa kembali ke tempat asal mereka. Pendaki karbitan ini justru tega mengambil perhiasan bunga abadiku hanya untuk dibawa pulang dan dipajang sebentar di kamar sampai akhirnya bosan lalu dibuang. Mereka yang hanya mengejar keuntungan dari sebuah pendakian.

Saat itulah, aku merasa gagal membimbing kalian.

Melihat pendaki yang berkelakuan sesuka hatinya tanpa nurani seperti ini, membuat batinku sakit. Tubuhku kotor dan tercabik. Keindahanku yang seharusnya bisa terus dinikmati oleh generasi mendatang perlahan mulai pudar karena noda yang mereka tinggalkan. Ini tak cuma terjadi padaku, tetapi hampir di setiap tempat yang pernah kalian jejaki

Ah, manusia, usia kalian hanya sebentar di alam fana ini. Sementara aku masih akan ada sampai beribu-ribu tahun mendatang. Tapi, dampak yang kalian tinggalkan sungguh membuatku bersedih.

Benarkah kalian memang tak bisa cuma meninggalkan jejak kaki di tanah basah, tetapi juga coret-coretan, sampah, dan ketamakan?

Rasa bahagia ketika matahari bersinar dan tidak turun hujan. Rasa bahagia ketika kamu memiliki persediaan air yang cukup. Rasa bahagia ketika makanan sudah matang, meski hanya berupa sup dan lauk tempe. Rasa bahagia ketika bisa tidur dengan hangat di dalam tenda, meski tanpa kasur springbed dan rumah gedongan. Lihat: saat kamu datang kepadaku, kamu datang dengan sederhana—hanya membawa yang kamu butuhkan saja. Tapi, dengan itupun kamu tetap bisa merasa bahagia, bukan?

Masih banyak pendaki yang peduli padaku dan sang Pertiwi, tak hanya pada dirinya sendiri. Dan manusia-manusia seperti inilah yang sepenuhnya kuhormati

Memungut jejak sampah via green.kompasiana.com

Ketika kepercayaanku pada kalian mulai pudar, samar-samar kulihat pendaki-pendaki ini. Pendaki yang rela memunguti sampah yang bukan miliknya dan membawanya turun, meski aku tahu itu sangat merepotkan. Pendaki yang berani menegur dengan keras rekannya dengan gegabah membuang sesuatu yang tak bisa diurai olehku—bahkan meski itu hanya bungkus permen atau puntung rokok.

Merekalah pendaki sejati yang mencintai alam sama seperti dirinya sendiri. Merekalah yang menganggap kunjungannya kepadaku tak sekadar senang-senang demi terpuaskannya ego, melainkan untuk belajar peduli dan berbakti kepada Sang Bumi. Merekalah yang bersikap layaknya tamu di rumahku, menghargai sang tuan rumah dan setiap makhluk di dalamnya. Sebab mereka paham, bagaimana rasanya jika orang asing mengotori tempat tinggalnya.

Karena mereka, aku berani berharap lagi kepada manusia

Ingatlah kenapa kamu mendaki via www.wiranurmansyah.com

Ingatlah kembali kenapa kalian rindu mendaki. Ingatlah makna-makna yang kuberi selama kalian menapaki jalur pendakian, langkah demi langkah. Ingatlah perasaan saat kalian menikmati pemandangan di puncak untuk pertama kalinya, di mana awan-awan berarak di bawah kaki, di mana kamu mengucap syukur atas ciptaan luar biasa dari Sang Maha Pencipta. Jika ingin semua ini masih ada seribu tahun lagi, tanggalkan ego kalian dan mulailah berbuat sesuatu.

Aku dan Bumi telah memberikan segala hal yang kamu butuhkan. Lantas apa yang bisa kamu berikan kepada kami, yang selama ini selalu diam dan bersabar menyaksikan apa yang engkau lakukan?

Jadilah pendaki yang peduli, yang tak mengotori, melainkan menjagaku dengan sepenuh hati. Itu saja.

Apa aku mengharapkan sesuatu yang berlebihan?