Kamu mungkin sudah nggak asing lagi dengan istilah jodoh. Ya, banyak orang melakukan bermacam cara untuk ketemu jodoh. Termasuk kamu, yang kemungkinan juga melakukan hal yang sama selain hanya duduk diam menunggu tanpa melakukan berbagai pergerakan. Biar bagaimana pun kamu tetap butuh usaha untuk menjemput jodohmu.

Ada banyak cara yang bisa kamu lakukan untuk bisa mendapatkan calon pendamping hidupmu yang sebenarnya. Salah satunya mungkin dianggap sudah terlalu kuno, yakni dengan adanya perjodohan yang dilakukan oleh orangtua. Kamu mungkin menganggap kalau dijodohkan bukan lagi hal yang bisa dilakukan di zaman modern seperti sekarang ini.

Berangkat dari hal itu, Hipwee Wedding pun coba merangkum beberapa pendapat anak muda soal perjodohan itu. Kira-kira apa ya kata mereka? Yuk, langsung simak saja di bawah ini.

“Gimana kalau pada akhirnya keluargamu memutuskan untuk menjodohkan kamu dengan orang yang sudah mereka pilihkan? Apa kamu mau menerimanya? Dan, apa sih yang akan kamu lakukan?”

1. Bagi Irzana, perjodohan adalah hal yang nggak ada salahnya untuk diikuti lebih dulu. Dia pun nggak ragu untuk menerimanya setelah menjalani masa penjajakan dalam beberapa waktu

iya, aku akan terima. via www.lunchclick.co

Advertisement

Kalau aku pribadi, aku akan ikuti dulu. Awalnya kan pasti ada perkenalan dulu, masa penjajakan. Orangtua ngenalin kan bukan dengan sembarang orang, pasti ada bibit, bebet, bobot, yang insyaAllah udah dipertimbangkan. Kalo ikhlas, insyaAllah akan baik-baik saja. Dan, ya, pada intinya aku akan jawab, ya aku terima, meski awalnya akan ada berontak. – Irzana Ayu

Irzana akan mencoba untuk menerima proses perjodohan yang jika memang itu terjadi pada dirinya. Dia nggak memungkiri jika pada akhirnya dia akan menerima hal tersebut meskipun diawali dengan pemberontakan. Tapi, baginya waktu penjajakan yang ada akan menjadi jembatan yang baik bagi kelanjutan dalam hubungan tersebut. Selain itu dia pun meyakini jika apa yang sudah dipilihkan oleh orangtua untuknya, akan menjadi pilihan yang terbaik.

2. “Kalau nggak masuk kriteria, ya, aku tolak.”

liat dulu kriterianya. via www.huffingtonpost.com

Bagi Yourdan, perjodohan yang dilakukan oleh orangtuanya bisa saja diterimanya. Dengan catatan calon yang disiapkan memenuhi kriteria yang dimilikinya dalam mencari pendamping hidup. Kalau memang jodoh yang dipilihkan sesuai, maka dia nggak akan ragu menolaknya. Sedang kalau itu bertentangan, maka dia pun akan yakin untuk menolaknya.

Mau aja. Asal cantik, pendidikannya mumpuni buat anak. Kenapa nggak? Ya, asal masuk kriteria tadi. Kalau nggak masuk kriteria, ya, aku tolak. – Yourdan Herlambang

3. Margaretha pun punya pandangan jika konsep jodoh bisa dinegosiasikan. Sebab, baginya restu orangtua itu bisa diusahakan

Aku nggak mau dan aku mungkin akan bergaining sih, sebab katanya restu orangtua itu bisa diusahakan. Meski memang pilihan yang aku punya belum tentu yang terbaik, tapi orangtua pasti paling tahu yang terbaik. Ya, kalo sudah memilih mau nggak mau menerima dan dimakan sendiri baik dan buruknya juga. – Margaretha

Bagi cewek yang satu ini, perjodohan akan ditolak olehnya. Sebab, menurut dia konsep jodoh itu bisa dinegosiasikan, baginya restu orangtua bisa juga untuk diusahakan. Maka dari itu, dia akan berusaha untuk mengusahakan apa yang sudah menjadi pilihannya. Meski dia sendiri meyakini jika apa yang dia pilih belum tentu yang terbaik, tapi dia akan berusaha menanggung semua risiko yang akan datang menghampirinya.

4. Cowok yang kerap disapa Rozi ini pun nggak ragu untuk menerima perjodohan dari orangtuanya

Bagi cowok yang sering disapa Rozi ini soal perjodohan bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Dia pun nggak ragu untuk menerimanya. Sebab baginya orangtua manapun pasti menginginkan hal yang terbaik bagi anaknya. Dia menganggap adanya perjodohan itu pun nggak sembarangan dilakukan, semua sudah melewati proses pertimbangan.

Aku menerima. Menurutku, orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Perjodohan itu juga bukan hal asal pastinya. – Fakthur Rozi

5. Bagi Intan, semua hal dalam hidupnya adalah dia yang akan menjalani dan untuk urusan perjodohan dia butuh waktu untuk lebih dulu mengenal dengan dalam

PDKT aja dulu~

Tergantung sih, aku pasti akan minta waktu buat kenal sama orang itu dulu, ya, semacam PDKT. Kalau emang cocok, ya, aku terima. Kalau nggak, ya, aku menolak. Bagaimana pun kan itu hidup yang bakal jalanin aku, jadi kalau aku nggak cocok, ya, aku tolak. – Andreina Intan

Bagi Intan, perjodohan bukan sesuatu yang bisa dipermasalahkan asal dia diberi kesempatan atau waktu untuk lebih dulu kenal sama calon pendampingnya. Baginya, PDKT itu akan jadi hal yang begitu penting untuk menentukan cocok atau tidaknya jalinan di antara mereka. Sebab, dia nggak akan mau menjalani jika pada kenyataannya ketidakcocokan lebih dalam menguasai.

6. Lain dengan Richard yang akan melihat dulu bagaimana status dan kondisi dirinya saat mendapatkan tawaran perjodohan tersebut

liat nanti aja~ via www.businessinsider.com

Lain dengan Richard yang akan melihat dulu bagaimana status dan kondisi dirinya saat mendapatkan tawaran perjodohan tersebut. Baginya, kini sudah bukan lagi zaman Siti Nurbaya, jadi kalau saat adanya perjodohan itu dia sudah memiliki tambatan hati, maka dia akan menolaknya. Lain hal jika statusnya masih lajang, mungkin dia akan mau memikirkannya ulang.

Tergantung! Kalau aku sudah punya pasangan, maka jelas aku akan kabur. Lagian sekarang udah bukan lagi zamannya Siti Nurbaya. Lain kalau posisinya aku single, mungkin akan aku pikir ulang. – Richard

7. Cewek yang kerap disapa Echa ini pun punya pilihannya sendiri. Jika dia sudah memikirkan untuk segera menikah, maka tawaran perjodohan itu pun bisa jadi diterimanya

tergantung sih…. via www.quid.com.au

Kalau aku sih, ketika aku masih memutuskan untuk main-main dan belum niat ke pernikahan, aku akan tolak perjodohan itu. Tapi, kalau misalnya aku sudah niat untuk menikah, aku akan menerima. Alasannya karena keinginan untuk membina rumah tangga dan rasa percaya akan orangtua yang pasti memilihkan yang terbaik dan dibutuhkan untuk anaknya kelak. Serta poin utamanya untuk nerima sih adalah kesiapan. – Yanuarizka PS

Bagi cewek yang kerap disapa Echa ini perjodohan yang ditawarkan bisa jadi hal yang kemudian diterimanya jika saat itu dia sudah benar-benar mengingkan untuk segera menikah. Akan jadi lain soal saat dia belum memiliki keinginan untuk berumah tangga. Saat dia memutuskan untuk menerima pun bukan tanpa alasan, Echa yakin dan percaya jika pilihan orangtua akan jadi yang terbaik dan yang paling dibutuhkan oleh anaknya, suatu saat.

8. “Kecuali, keluargaku punya utang banyak dan kalo aku nggak nikahin doi, keluargaku bisa hancur.”

pertimbangin dulu~

Angga berpendapat jika meski dia dijodohkan, dia tetap punya hak untuk memilih. Sebab itu, dia akan berusaha untuk mengomunikasikannya lebih dulu dengan keluarga. Dia akan menjabarkan semua pertimbangannya kenapa dia harus menerima perjodohan tersebut. Baginya, akan jadi harga mati jika perjodohan tersebut ada untuk menyelamatkan keluarganya, dia akan pasrah menerima. Kalau tidak, maka dia akan berusaha untuk membela pilihannya.

Aku nggak tau sih rasanya dan nggak kebayang. Cuma sepertinya, aku akan mengomunikasikan semuanya. Aku akan kasih tau pertimbanganku, karena meski dijodohkan, aku tetap merasa aku punya pilihan. Nggak ada urgensi. Kecuali, keluargaku punya utang banyak dan kalo aku nggak nikahin doi, keluargaku bisa hancur. I don’t have a privilage to choose kalo begitu, I’ll do. – Angga Arief

9. Lain dengan Dinda yang memang langsung menolak perjodohan tersebut. Baginya, tiap orang punya hak untuk mencari sendiri jalan hidupnya, termasuk urusan jodoh

Kalau aku jelas nggak akan mau dijodohkan, meski apapun kondisinya. Sebab, buat aku tiap dari kita punya hak untuk menentukan jalan hidup masing-masing. Apalagi soal perasaan yang nggak bisa didikte. Nggak ada orang lain yang bisa ngatur dengan siapa kita ingin bahagia. Jadi, aku sih akan menolak dan tetap pada pilihan yang aku punya. – Dinda Hapsari

Lain dengan Dinda yang langsung menolah perjodohan tersebut. Baginya tiap-tiap orang punya hak sendiri untuk mencari jalan hidupnya, termasuk dalam urusan jodoh. Dia berpendapat jika nggak ada orang yang bisa mendikte soal perasaan dan dia pun akan berusaha tetap pada apa yang jadi pilihannya.

10. “Untuk masalah rasa tenang saja, sebab cinta bisa diciptakan bersama.”

cinta bisa diciptakan 🙂

Mahendra pun nggak akan ragu untuk menerima perjodohan yang ditawarkan oleh orangtuanya. Sebab dia menganggap jika perjodohan adalah salah satu jembatan untuk menemukan jodoh yang sebenarnya. Dia juga menilai jika soal rasa cinta yang dibutuhkan dalam membina rumah tangga bisa diciptakan bersama-sama.

Aku sih terima saja kalau memang harus dijodohkan oleh orangtua, karena aku menganggap dijodohkan itu sebagai sebuah perantara. Karena sejatinya jodoh sudah ditakdirkan, mau ke manapun kamu pergi kalau memang dia adalah jodohmu, maka ya dia yang akan menjadi pendampingmu. untuk masalah rasa tenang saja, sebab cinta bisa diciptakan bersama. – Mahendra

Itu dia beberapa pendapat anak muda soal bagaimana jika takdir membawa mereka pada perjodohan yang dilakukan oleh orangtua. Banyak ragam yang mengatakan mau atau tidaknya, semua wajar karena memang hidup adalah pilihan. Lalu, kalau kamu gimana, Guys? Mau menerima atau nggak? 🙂