• 12 September 2018, 12:00 am
  • Yogyakarta

Indonesian Youth Entrepreneur & Voluntary (I-YEV) Camp 2018 telah dilaksanakan pada hari Sabtu lalu (25/8) hingga Senin (27/8) di Welo River, Petungkriyono, Pekalongan, Jawa Tengah. Kegiatan kolaborasi yang dipelopori oleh Grow to Give dan World Merit Semarang ini menjadi acara pertama di Indonesia yang menerapkan konsep peer educator dalam bidang kewirausahawan. Yakni kolaborasi perserta antara 27 pemuda lokal Desa Kayupuring selaku desa binaan Grow to Give, dengan 43 delegasi mahasiswa dari berbagai daerah asal.

“Kegiatan ini bertujuan untuk mencetak pemimpin muda agar mampu melihat peluang bisnis dalam masalah sosial,” ujar Titik Rusmiati koordinator pelaksana I-YEV Camp.  Sejalan dengan tujuan tersebut, seluruh materi yang diberikan memang bertujuan untuk menambah pemahaman peserta kegiatan terkait bagaimana social entrepreneur dapat mengatasi permasalahan sosial.

Advertisement

Materi pertama disampaikan pada hari Sabtu (25/8) siang setibanya di lokasi wisata Wello River sekaligus tempat berkemah dan pusat kegiatan IYEV-Camp. Yakni oleh Puthut Ardianto, pemilik @lemospiresbatik dan pendiri Savanna. Kak Puthut menjelaskan tentang personal development, yakni bagaimana menggali passion diri sehingga dapat lebih mudah dalam menentukan bisnis apa yang akan dikembangkan peserta dikemudian hari. Materi kedua dilanjutkan membahas tentang personal branding oleh Amanda Margareth, pemuda yang dikenal sebagai social media influencer ini menyampaikan bagaimana menciptakan personal branding dengan memberikan contoh paling dekat, yakni menciptakan personal branding melalui sosial media. Kedekatan topik dengan kehidupan remaja sekarang membuat banyak peserta terutama peserta mahasiswa antusias untuk bertanya.

Yuniar Kris Santoso atau biasa dikenal dengan panggilan Kris, Vice President Business Development, menjadi pemateri ketiga. Kak Kris menyampaikan tentang konsep Business model and Development dan mengajak kepada semua peserta untuk berlatih secara langsung mengisi sembilan elemen penting draft of Business Model Canvas. Diskusi aktif antara mahasiswa dan peserta lokal menciptakan ide bisnis-bisnis dengan memanfaatkan sumber daya alam Desa Kayupuring, seperti pengembangan produk selain gula aren dan kopi Well ‘O yang dikolaborasi dengan hasil alam lokal lainnya, yakni kolang-kaling, singkong, serta tanaman-tanaman bambu yang melimpah.

Adapun materi keempat disampaikan oleh President World Merit Semarang, Salman Al Farisi. Pemuda semester tiga ini berbagi pengetahuan terkait agenda internasional tahun 2016 hingga 2030 yakni Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Salman memaparkan tentang pentingnya peran pemuda dalam menciptakan sebuah perubahan di lingkungan masyarakat. Selanjutnya malam ditutup dengan malam keakraban untuk menghangatkan dinginnya malam yang mencapai suhu 12 derajat celcius.

Advertisement

Hari kedua (26/8) diawali dengan senam pagi sekaligus pengakraban antar peserta. Setelah sarapan makanan lokal berupa nasi megono, Mario Agustian Lasut sebagai pendiri Indostarter dan MAL Media Group, mengisi materi Business Ideation and Execution. Kak Mario mengajarkan tentang tahapan-tahapan dalam membuat ide bisnis dimana peserta diajak untuk berempati dengan apa yang terjadi disekitar mereka. Selanjutnya adalah materi how to make a great Presentation oleh Melvin Mumpuni yang dikenal sebagai pendiri Finansialku.com. Kak Melvin mempraktikan bagaimana meyakinkan atau menyampaikan sebuah pesan dengan contoh topik yang paling dekat dengan pemuda, hingga strategi tersebut dapat diimplementasikan untuk menarik perhatian calon konsumen atau bahkan investor.

Setelah itu, Emmy Surya juga turut menyampaikan materi terkait Marketing and Developing Online Business. Sebelumnya Kak Emmy telah berhasil melatih peserta tentang bagaimana membuat produk supaya bisa laku di pasar online.

Hingga materi ini, konsep bisnis yang telah dirancang bersama sebelumnya di hari pertama terus digunakan sebagai objek praktik para peserta.

Sebagai penutup, Titik Rusmiati selaku founder sekaligus CEO Grow to Give berbagi cerita tentang awal berdirinya Grow To Give yang dilanjutkan dengan menyampaikan materi bagaimana membuat Logical Framework untuk menggali kebutuhan masyarakat dampingan. Karena dalam menciptakan sosial bisnis, bukan terpaku pada apa yang mampu kita lakukan, akan tetapi fokus pada apa yang dibutuhkan di daerah tersebut.

Malam terakhir I-YEV Camp dimeriahkan dengan penampilan warga lokal Petungkriyono pada cultural night performance atau bisa disebut “Well ‘O Idol”. Teman-teman lokal menampilkan shalawatan dan tari-tarian, semakin menunjukkan sambutan hangat warga lokal akan kehadiran IYEV Camp beserta seluruh pemuda pesertanya.

“Aku terharu karena masyarakat mempersiapkan pentas seni dengan sangat baik, dan aku ga nyangka mereka akan mempersiapkan semua hal itu. Dan anak muda mahasiswa juga mempersembahkan penampilan dari sabang sampai merauke yang tentunya menambah semangat nasionalisme kita, terlebih ada mengenakan baju adat,” tutur Amel, selaku relawan Grow To Give yang berasal dari Kebumen.

Setelah selama dua hari melakukan kegiatan pelatihan, hari ketiga (Senin, 27/8) ditutup dengan rangkaian kegiatan lapangan. Acara dimulai dengan sambutan dari Kepala Desa Kayupuring, Bapak Cahyono. Dalam sambutannya beliau menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada anak muda mahasiswa yang bersedia menjadi pendidik sebaya dalam acara I-YEV Camp 2018 ini. Beliau juga menambahkan bahwa pemuda harus belajar yang sungguh-sungguh dan dikemudian hari kembali ke desa untuk membangun desanya.

Selanjutnya, semua peserta terlibat melakukan flash mob yang mengusung tema “Asian Games 2018”, dilanjutkan dengan Color Run disepanjang jalan menuju Desa Kayupuring. Acara color run ini sekaligus untuk merayakan Hari Anak Muda Internasional 2018 yang jatuh pada tanggal 12 Agustus.

Setelah kemeriahan color run, peserta kemudian mengunjungi rumah warga untuk mengamati pembuatan gula semut yang menjadi produk unggulan warga. Selain itu, peserta juga duduk bersama Ibu Lurah Desa Kayupuring, Pemuda pengelola koperasi serta petani gula aren untuk berdiskusi terkait produk gula semut dan kopi dengan brand Well O dan kontribusi Grow to Give di dalamnya.

“Buat aku pribadi, I-YEV Camp 2018 meninggalkan kesan yang luar biasa banget, aku pribadi mencari ilmu tentang entrepreneurship kemudian sociopreneur dan sebagainya dan aku bener-bener dapet ilmu tersebut. Tinggal tugasnya bagaimana aku mengimplementasikan ilmu tersebut agar bisa sustain kedepannya” tutur Gilang Ramadhan, salah satu peserta mahasiswa di IYEV Camp 2018 yang berasal dari Jawa Barat.

“Saya bersyukur sekali bisa ikut acara ini,” ungkap salah satu peserta dari Lombok, Nining. “Kembali ke Lombok semoga saya bisa membangun pemuda-pemuda di sana, mengajak, berdiskusi, dan berbuat yang lebih baik untuk Lombok.”

Yumna (Jawa Tengah) – “Kegiatannya beda dari yang lain. Kita belajar dari hal paling kecil, hal paling teknik, dari hal detil seperti ide, berempati hingga tools untuk membuat kegiatan yang berdampak pada sosial. Uniknya, IYEV camp juga mengkolaborasikan pemuda lokal dengan mahasiswa dan itu jarang terjadi. Interaksi kami selalu bareng, saling berpartisipasi dan saling menginspirasi.”

 “Pertama kali saya ikut kegiatan seperti ini.” – Panji (Banten), “Pemuda lokal terus bercampur dengan kita membuat kita punya inspirasi untuk implementasi nantinya.”

Gilang – “Ilmu di kelas aja ga cukp kalau ga dipraktikkan”

Tidak hanya peserta yang terkesan dengan konsep acara ini, Kak Mario yang jauh-jauh datang dari Jakarta pun menikmati berbagi dengan pemuda di acara ini. “Saya menikmati kesegaran alami tempat ini (Well ‘O River), dan saya senang mendapat kesempatan untuk berbagi. Karena yang namanya ilmu itu harus disebarkan dan diamalkan. Semoga acara seperti ini bisa diperpanjang menjadi seminggu.” – Mario.

“Saya ikut acara ini selama tiga hari full dan baru kali ini saya melihat mahasiswa bersama warga lokal bisa menyatu dengan begitu bagusnya. Mahasiswa belajar dari warga lokal, dan warga lokal belajar dari mahasiswa.” – Emmy.

“Semoga desa Petungkriyono bisa lebih maju,” ungkap Kak Emmy, menutup wawancara yang dilakukan di bawah air terjun Curug Bajing, tempat terakhir yang dikunjungi peserta I-YEV Camp sebelum kembali ke Stasiun Pekalongan untuk pulang ke asal masing-masing.

(Penulis: Elsitra, editor: Rosi)

CERITA DARI PESERTA

Indonesian Youth Entrepreneur & Voluntary Camp untuk kamu yang sedang mengalami Quarter Life Crisis

Masa perkuliahan memang sangat pusing dan melelahkan karena tugas yang tidak pernah berhenti bagai kasih sayang ibu yang menyita waktu hore-hore kita. Kuliah memang tidak seindah cerita-cerita di TV yang seringkali mengambarkan kuliah adalah bergaya, mendapat pasangan, nongkrong, dan bahagia. Sebagian besar framing tersebut fiktif belaka. Namun bagaimana dengan kehidupan setelah lulus kuliah yang konon menjadi cita-cita bagi semua mahasiswa tingkat akhir?

Sama halnya dengan cerita kuliah tadi, kejamnya skripsi ternyata hanya kerikil kecil dibandingkan dengan kehidupan kamu setelah memasuki masa-masa lulus kuliah. Dulu sewaktu kuliah, tekanan datang mungkin dari tanggung jawab sebagai mahasiswa, tanggung jawab sebagai organisator, tanggung jawab sebagai aktivis, dan sebagainya. Namun setelah lulus, berbagai tekanan yang masuk kuping dan jatuh ke hati dan naik ke otak kini hadir dari berbagai kalangan dan aspek di kehidupan kita. Oleh sebab itu dibutuhkan perenungan yang sangat mendalam bagi kamu untuk dapat menemukan keputusan yang sebaiknya kamu ambil ditengah banyaknya tuntutan untuk masa depan.

Indonesian Youth Entrepreneur & Voluntary (IYEV) Camp merupakan suatu acara yang digagas oleh Grow to Give bersama World Merit Semarang dan pendukung lainnya yang banyak memberikan pencerahan kepada saya. Perkenalkan nama saya Retno Suryandari yang merupakan salah satu best delegate dari  IYEV Camp yang diadakan pada tanggal 25-27 Agustus 2018. Awal mula motivasi saya mengikuti IYEV Camp adalah ingin belajar tentang bagaimana memulai sebuah bisnis yang berbasis penyelesaian masalah sosial. Namun ternyata IYEV Camp 2018 tidak memberikan apa yang saya harapkan namun memberikan lebih dari apa yang saya harapkan.

Meskipun hampir menyerah di awal cerita saya yang harus ketinggalan kereta, harus naik bus dengan jalanan sangat macet, dan sampai di lokasi terlambat, ternyata tragedi-tragedi yang terjadi dalam diri saya terbayarkan setelah saya sampai di kawasan Welo Asri, Kayupuring, Petungkriyono, Pekalongan. Bagi saya yang sudah menyelesaikan studi dan sedang berada pada fase yang dikenal dengan istilah Quarter Life Crisis, IYEV Camp adalah salah satu suplemen untuk membantu saya menghadapi masa-masa krisis. Tidak hanya memberikan pencerahan untuk memulai atau meningkatkan jiwa entrepreneur, IYEV Camp justru memberikan kebebasan bagi para delegasi untuk memulai mengenal diri sendiri sehingga memudahkan untuk mencapai apa yang diharapkan.

IYEV Camp memberikan banyak sekali pelajaran yang tidak pernah saya peroleh sebelumnya secara lengkap dan holistik sehingga menjadikan para delegasi memiliki perubahan pola pikir yang mana hal tersebut merupakan salah satu ciri seseorang telah belajar. Hidup di alam, memanfaatkan sumber daya alam yang ada tanpa harus eksploitasi berlebihan, menjaga kearifan lokal, memiliki jiwa rendah hati, berbaur dengan masyarakat dan masih banyak lagi yang lainnya. Di awal pembelajaran IYEV Camp benar-benar membidik sasaran yang tepat bagi kami para delegasi untuk dapat mengenal diri sendiri terlebih dahulu sebelum dapat berkontribusi untuk orang lain.

Personal Development merupakan materi yang dibawakan oleh kak Puthut menjadikan saya terus bertanya dan berusaha menjawab setiap Questions to Myself yang sempat ditanyakan selama materi. Pada sesi materi ini saya sangat menyadari bahwa mulai saat itu juga saya harus memulai perubahan setidaknya dari diri sendiri untuk dapat memperoleh tujuan dan peran hidup saya yang sesungguhnya. Materi selanjutnya dibawakan oleh Kak Amanda Margareth yang merupakan seorang Social Media Influencer dengan usia 5 tahun lebih muda dari saya tentang Personal Branding. Mendengarkan penuturan penulis buku ‘Enigma’ ini saya pun menyadari bahwa selama ini saya belum bisa membedakan mana postingan yang bertujuan untuk personal branding dan postingan mana yang bertujuan untuk pamer. Walhasil setelah mendengar petuah-petuah dari kak Manda, saya pun mulai memeriksa kembali postingan saya dan berusaha memperbaikinya supaya kembali ke jalan yang lurus. hehe

Tidak hanya materi-materi untuk kepentingan pribadi saja yang diberikan. Materi tentang Youth and SDG’s pun diberikan. Selama ini saya tidak mengenal terlalu jauh tentang SDG’s selain aspek nomer 14 yaitu tentang ekosistem laut yang menjadi minat saya. Namun setelah mendengar penuturan dari Presiden World Merit Semarang kak Salman Al-Farisi yang usianya 5 tahun lebih muda dari saya, semua menjadi jelas bahwa saya bisa berkontribusi untuk mencapai tujuan Pembangunan Berkelanjutan di banyak aspek.

Materi-materi terus bergulir dibawakan oleh para ahli di bidangnya seperti materi Business Ideation and Execution yang sangat membekali saya untuk perbaikan usaha saya. Materi ‘How to Make a Great Presentation’ yang sangat pecah pembawaannya dan menjadi inspirasi saya untuk dapat melakukan presentasi maupun marketing dengan baik. Disertai dengan materi tentang bisnis online yang selama ini saya geluti. Materi ini sangat bermanfaat bagi saya karena dapat menjadi koreksi untuk saya melakukan perbaikan di berbagai aspek guna meingkatkan kredibilitas online shop saya.

Tidak kalah penting dari materi-materi yang lain, materi tentang ‘How to Draft a Logical Framework’ yang dibawakan langsung oleh CEO Grow to Give yaitu kak Titik Rusmiyati yang akrab dipanggil kak Rosi ini sangat detail, jelas, dan membuat saya benar-benar tergugah semangatnya untuk memulai. Bahkan saya berpikir untuk membuat logical framework untuk permasalahan bagi diri saya sendiri terlebih dahulu karena saya merasa di fase krisis seperti ini perlu pemetaan dan perencanaan secara jelas dan matang untuk melanjutkan ke fase berikutnya. Dan tidak kalah penting untuk memulai bisnis yaitu Business Model Canvas yang sebelumnya pernah saya kerjakan untuk pengajuan bisnis startup saya, ternyata saya baru memahami ‘apa itu Business Model Canvas’ setelah adanya materi oleh kak Yuniar Kris Santoso di IYEV Camp meskipun saya telah membuat sebelumnya. Pantas saja ide bisnis saya belum diterima (hehe). Maka dengan mengikuti IYEV Camp ini saya merasa sedang mencoba bangkit dari sekian banyak kegagalan yang pernah terjadi sebelumnya.

IYEV Camp merupakan paket lengkap tentang bisnis dan pengembangan diri yang tidak pernah saya peroleh dimanapun sebelumnya. Apabila IYEV Camp ini sebuah sekolah, maka IYEV Camp telah berhasil membuat kurikulum yang tepat bagi para delegasi. Materi yang lengkap disertai terjun ke lapangan secara langsung berinteraksi dengan masyarakat lokal merupakan salah satu cara pembelajaran inklusif yang menjadikan para delegasi tidak hanya pintar secara teori untuk kepentingan diri sendiri saja melainkan juga secara langsung IYEV Camp menyisipkan pendidikan karakter kepada para delegasi.

Saya sebagai delegasi yang memiliki usia tergolong lebih tua dibandingkan delegasi lainnya sangat memperoleh manfaat dari acara ini. saya memperoleh banyak energi positif, semangat positif dengan berbaur bersama masyarakat lokal dan teman-teman yang memiliki usia jauh lebih muda dari saya. Maka saya pun dapat mengatakan bahwa IYEV Camp sangat tepat untuk diikuti oleh orang-orang yang sedang berada pada fase Quarter Life Crisis untuk menumbuhkan kembali semangat dan merencanakan tujuan hidup yang lebih baik.

(Penulis: Retno Suryandari – Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Advertisement