• 3 Oktober 2018, 12:00 am
  • Yogyakarta

Indonesia dikenal sebagai negara agraria. Namun, kita sedang mengalami krisis regenerasi petani. Sensus Pertanian BPS tahun 2013 menunjukkan lebih dari 60% petani di Indonesia berusia di atas 45 tahun. Petani muda yang berada di kelompok usia 25-35 tahun hanya di kisaran 10% dari  jumlah seluruh petani.

Nasib pertanian Indonesia sedang dipertaruhkan. Apabila ini terus berlanjut hanya akan dua pilihan: membiarkan masyarakat kelaparan karena kekurangan pangan atau mengimpor hasil pertanian dari luar. Hal ini berarti Indonesia akan menggantungkan urusan kebutuhan primernya pada negara lain.

Advertisement

Pertanian Indonesia tak selalu berisi cerita yang memprihatinkan.  Ada semangat baru yang tumbuh dan berkembang pada generasi muda bangsa ini.  Beberapa anak muda berani memilih jalan hidup sebagai penggerak perubahan. Mereka memilih menjadi petani, nelayan, peternak, maupun entrepreneur di bidang pertanian.

Petanimuda.org sebuah website yang mendukung penggiat muda pertanian, bersama berjuang dengan semangat optimisme terhadap Indonesia yang lebih baik. Kami akan menyampaikan kisah anak-anak muda yang sedang berjuang dan bergerak di pertanian. Ini adalah harinya para petani muda. Berkumpulnya gerombolan anak muda yang peduli terhadap isu pertanian Indonesia.

Bukan hanya tentang mereka yang secara individu ataupun berkelompok memilih pertanian sebagai profesi, namun lebih dari itu, untuk siapa saja yang memiliki perhatian terhadap pertanian Indonesia. Tentang petaninya, alamnya, proses distribusinya hingga para penikmat hasil panen para petani. Seperti kebudayaan-kebudayaan lain di dunia, masyarakat asli Indonesia sudah sejak lama menaruh perhatian pada langit.

Advertisement

Pada tingkatan praktis, pengamatan langit digunakan dalam pertanian dan pelayaran. Dalam masyarakat Jawa dikenal pranatamangsa, yaitu peramalan musim berdasarkan gejala-gejala alam, dan umumnya berhubungan dengan tata letak bintang di langit. Waluku adalah sebutan masyarakat Jawa tradisional untuk menyebut tiga bintang dalam sabuk Orion dan digunakan sebagai pertanda dimulainya masa tanam.

Kami, Petani Muda dan IAAS Indonesia LC UGM, berkolaborasi dengan penggiat petani muda mengadakan festival pertanian yang bertajuk Waluku Festival.  Festival ini merupakan sebuah acara yang mewadahi pelaku usaha dan penggiat bidang pertanian untuk mengenalkan produk maupun komunitasnya ke generasi muda.

Tujuan kami: menumbuhkan minat masyarakat terutama generasi muda mengenai bidang pertanian dan ilmu terkait. Tak hanya itu,  festival yang diadakan 28-29 September 2018 ini juga untuk mewadahi generasi muda memperluas jaringan kerjasama dengan penggiat bidang pertanian.

Waluku Festival dikemas dalam bentuk workshop, talkshow, dan bazar tani yang akan diadakan di Plaza Entrance Wisdom Park UGM tanpa biaya masuk (gratis). Acara akan berlangsung dari pukul 13:00-18:00 pada hari pertama, kemudian di hari kedua akan dimulai pukul 09:00-19:00.

Sesi talkshow  menghandirkan pembicara yang memiliki segudang pengalaman seperti: Sekolah Pagesangan,  Sekolah Koperasi Wikikopi, Sugeng Handoko, Book For Mountain, Bumi Langit, dan Agradaya. Tak ketinggalan Indmira, Sweet Sundae, Bantu Ternak, Zare.id, JALA, dan Gifood juga ikut serta berbagi cerita dalam sesi talkshow.

Workshop akan diisi beragam aktivitas terkait pertanian. Tak hanya menanam tapi juga mengolah hasil pertanian. Workshop akan diisi dengan kelas mengenai Tea Tasting, Mozzarella Cheese Making, Ecoprint, Fruit Wine Making, Hidroponik, dan Jamu Making. Selain itu, pengunjung dapat bergabung dalam Secret Dining bersama Letusee.

Ayo bergabung dan berjuang bersama dimulai dari langkah kecil. Datang ke Festival Waluku dan jalin jaringan dengan penggiat petani muda di sekitar kita ^^

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya