• 12 Januari 2019, 12:00 am
  • Nusa Tenggara Timur

Setiap  individu  berhak  atas  akses  pengetahuan.  Namun, persoalan  akses  tentu bukan satu-satunya keran yang mesti dibuka ketika menyoal tentang dunia pendidikan Indonesia. Persoalan lainnya adalah kualitas bahan-bahan bacaan yang kontekstual dengan lingkungan sosial dan kultural yang ada. Sejatinya, pendidikan adalah medium manusia untuk mengakrabkan ilmu pengetahuan dengan lingkungan tempatnya tinggal, berikut dengan masalah-masalahnya. Misalnya dengan pertanian.

Pertanian sering kali ditempatkan hanya sebagai penunjang sektor hilir. Jika memiliki kelas, maka menjadi petani adalah pekerjaan rendahan . Padahal, pertanian ada pada sektor hulu dan berperan penting di dalam memastikan arus mengalir dan bermuara secara  sehat. Namun, desa  dengan  karakteristik  geografis  yang  sangat  mendukung dunia pertanian justru banyak ditinggalkan anak mudanya untuk mencari penghasilan  lain yang  dianggap  lebih menjanjikan  di  kota. Pertanian  lalu  dianggap hanya milik orang-orang berpengalaman dengan umur yang sudah banyak.

Advertisement

Hal  ini  yang  mendasari  Book  for  Mountain  merancang  buku  Kontekstual  Petanian dengan tema besar Kemiri Yori. Seri pertama dari buku kontesktual ini terdiri dari empat buku yang berkisah tentang perjalanan seorang anak bernama Yori untuk menemukan , mengolah rasa ingin tahu, bereksperimen, hingga pada tahap menyadari bahwa dari desanya bisa lahir hal-hal sederhana yang bermanfaat bagi dunia luas.

Kisah Yori diangkat dari salah satu potensi daerah Desa Mulakoli, Kabupaten Nagekeo , Nusa Tenggara Timur yaitu tanaman Kemiri. Dialog dengan pemuda  lokal  dan riset yang terus dikembangkan menjadikan kisah Yori bukan hanya sekedar narasi semata, melainkan juga turut membawa nilai- nilai sederhana yang universal. Tidak hanya itu, narasi  ini  merupakan  ruang  bagi  kritik  kami  terhadap  beringasnya  zaman  yang mereduksi makna penting pendidikan dan pertanian.

Alasan Book for Mountain untuk bergerak, karya yang akhirnya dihadirkan, hingga harapan-harapan yang dirawat ada dalam spektrum waktu yang panjang. Kemiri Yori menjadi kritik atas sejarah masa lalu dunia pendidikan dan pertanian Indonesia, dihadirkan secara kontekstual pada anak-anak, dengan harapan hal ini mampu menjadi sumbangsih  pada  ilmu  pengetahuan  tentang  betapa  pentingnya  memaknai pengetahuan sebagai sesuatu yang tidak berjarak dengan lingkungan tempat tinggal kita.

Advertisement

BFM percaya bahwa menghadirkan Kemiri Yori adalah tentang memediasi kebaikan yang diharapkan mampu menular ke banyak orang dan gerakan di luar sana. Gayung bersambut, di tanggal 12 Januari BFM akan berkolaborasi dengan banyak pihak untuk menggelar Minggir Festival, di antaranya  adalah Agradaya, Rara Sekar, Ben Laksana, Nissa Wargadipura, dan Sisir Tanah

Sesuai namanya, Minggir Festival adalah kegiatan bersama yang akan digelar di Dusun Planden, Minggir, Kabupaten Sleman, yang berada pada wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.  Bentang  alam  dan  modal  sosial  masyarakatnya  adalah  pertimbangan objektif untuk memilih Desa Minggir dalam memediasi kolaborasi ini.

Minggir Festival akan menyajikan berbagai  acara  seperti talkshow,  workshop, pasar rakyat dan juga pertunjukan musik. Workshop akan berfokus pada proses pengolahan hasil kebun yang diadakan bersama Agradaya serta melibatkan ibu-ibu PKK di desa Minggir. Talkshow akan di hadiri oleh para praktisi dan aktivis dunia pendidikan dan pertanian seperti Ben Laksana dan Nissa Wargadipura. Acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan  dari  Rara  Sekar  (ex  Banda  Neira)  serta Sisir  Tanah. Tidak  kalah penting adanya pagelaran Pasar Rakyat yang diakomodir oleh Sekolah Pagesangan dan juga ibu-ibu PKK setempat. Narasi-narasi tentang pendidikan kontekstual dan juga tentang  keberdayaan  pertanian  di  berbagai  daerah  di  Indonesia  akan  diolah  bukan hanya dalam lingkaran verbalisme, namun juga dalam bentukan aktivisme yang nyata.

Sebelumnya, telah banyak rangkaian kegiatan yang juga turut melibatkan banyak pihak, seperti Pagelaran Dongeng Kemiri Yori dan  Icip-Icip  Panganan Berbahan Dasar Kemiri yang diadakan atas kolaborasi  kami dengan  Antologi Collaborative  Space dan Wikikopi. Kami turut mengundang  Project B Indonesia beserta  Videshiya untuk ikut berkolaborasi dalam program edukasi sampah plastik dan minyak jelantah.

Hal ini adalah upaya untuk menjadi bagian dan ikut bekerja bersama untuk memastikan semangat Yori menjadi semangat kolektif yang dirawat paripurna. Dengan tema besar pertanian,  Minggir  Festival  akan  menampilkan  dunia  pertanian,  tidak  hanya  dalam urusan  tanam  menanam  saja.  Melainkan,  juga  ada  pada  medium  belajar  alternatif seperti Kemiri Yori, dalam semangat aktivisme, dalam semangat dialog interaktif , dll.

Semangat kolaborasi bersama ini tentu saja terbuka untuk umum. Semua orang bisa datang,  bercengkrama ,  berbagi  pengalaman,  membangun  jejaring ,  dan  tentu  saja berkenalan lebih jauh dengan Yori. BFM tentu sangat mengharapkan kehadiran banyak orang, namun dengan berbagai pertimbangan, maka kegiatan ini hanya akan dibuka untuk 250 pendaftar. Informasi lengkap tentang kegiatan ini dapat diakses di berbagai platform media sosial seluruh kolaborator.

Kehadiran banyak orang dalam kegiatan ini, tentu tidak hanya sekadar kuantifikasi. Namun,   lebih   penting   dari   semua   itu   adalah   kehadiran   banyak   orang   berarti keikutsertaan  banyak  pihak  untuk mewujudkan  medium  belajar alternatif  bagi  anak- anak Indonesia. Pesan penting dalam Minggir Festival adalah seri Kemiri Yori bukan hanya perkara buku, sama halnya dengan pertanian pun juga bukan hanya perkara tanam menanam semata.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya