Pak, telur satu kilo harganya berapa ya?

Seorang ibu bertanya pada bapak penjual di warung kelontong sambil merogoh-rogoh isi tasnya untuk mencari dompet.

Advertisement

29 ribu, Bu

Jawaban bapak penjual di warung kelontong langsung membuat ibu tersebut terkejut. Saat lebaran lalu, untuk membeli telur satu kilogram, ibu tersebut cukup mengeluarkan uang sebesar Rp 23.000,00 saja. Artinya, terdapat kenaikan harga hingga Rp 6.000,00 per kilogram telur.

Kenaikan harga telur memang sudah sekitar satu minggu ini terjadi. Selisih harganya pun cukup besar yaitu Rp 5.000,00 hingga Rp 7.000,00 per kilogramnya dari harga normal sekitar Rp 22.000,00 hingga Rp 24.000,00 per kilogram telur. Tapi kenaikan harga telur kali ini terasa aneh. Biasanya, harga bahan pokok emang naik di bulan menjelang dan saat lebaran. Nah sekarang libur lebaran sudah selesai, eh harga telur malah makin naik…

Advertisement

Ada apa sih di balik naiknya harga telur ini? Mengapa harga telur bisa naik? Cari tahu bersama Hipwee News & Feature yuk!

1. Pemerintah meminta peternak untuk mengurangi kadar obat-obatan terutama antibiotik yang biasanya ditambahkan pada pakan ayam. Ternyata hal itu mempengaruhi daya tahan hidup ayam sebagai penghasil telur

Penambahan obat bisa bikin ayam lebih sehat. Kalau dibatasi, banyak ayam yang kena penyakit deh.. via www.bisnistelurayam.com

Ayam yang sengaja diternak untuk menghasilkan telur biasanya diberi tambahan obat-obatan agar ayam lebih sehat dan tidak rentan sakit. Tapi, pemerintah menginginkan adanya pengurangan penggunaannya yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) 14 Tahun 2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan agar telur yang dihasilkan lebih sehat. Akibatnya, ayam petelur berkurang 5-10% karena ada penyakit yang menyerang ayam. Ketika ayam berkurang, tentu saja produksi telur juga berkurang yang mempengaruhi harga jual telur di pasaran.

2. Penambahan obat pada ayam petelur ternyata juga membantu mempercepat pertumbuhan ayam lho. Tapi pembatasan obat membuat ayam jadi lebih lama bertumbuh besar

Biasanya, 3 bulan aja anak ayam sudah cukup besar untuk jadi ayam petelur lho via alamtani.com

Dampak dari pengurangan penggunaan obat-obatan ternyata bisa membuat ayam jadi lebih lama bertumbuh besar. Biasanya, ayam hanya perlu waktu tiga bulan saja untuk jadi besar. Tapi, karena obat-obatan dikurangi, ayam bertumbuh besar dalam waktu empat bulan. Peternak ayam petelur terpaksa deh menunggu satu bulan tambahan agar ayam siap bertelur.

3. Cuaca yang akhir-akhir ini nggak menentu juga bisa mengurangi produktivitas ayam petelur lho. Hal ini yang membuat produksi telur lebih sedikit dari biasanya

Cuaca ekstrem bisa bikin ayam gampang sakit karena kedinginan. Nggak mungkin kan semua ayam dikasih jaket supaya hangat~ via batam.tribunnews.com

Memang sih akhir-akhir ini cuaca makin sulit diprediksi. Tiba-tiba suhu udara turun  drastis dan udara terasa lebih dingin dari biasanya. Dengan kondisi seperti ini, ayam rentan mengalami penyakit dan produktivitas ayam otomatis ikut menurun. Ketika pasokan telur ayam berkurang tetapi kebutuhan tetap sama atau meningkat, harga telur ayam di pasaran pun langsung ikut melonjak naik seperti saat ini. Padahal, salah satu pangkal masalahnya terletak pada ayam sebagai ujung tombak penghasil telur.

4. Masa libur lebaran 2018 yang panjang ternyata berpengaruh juga pada harga telur di pasaran. Ada pengurangan pasokan telur karena pekerja di peternakan masih cuti panjang

Pegawai masih cuti sehingga distribusi telur terhambat via news.trubus.id

Menurut Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, aktivitas peternakan ternyata terganggu lho akibat libur lebaran yang panjang. Peternakan jadi kurang produktif karena pegawainya banyak yang mengambil cuti panjang, Selama libur tersebut, pemeliharaan ayam, pemberian pakan, dan juga distribusi telur terhambat deh.

Dampaknya memang nggak langsung saat libur tersebut karena pasokan selama libur sudah dipenuhi sebelum para pekerjanya cuti. Nah, malah setelah libur lebaran selesai, kebutuhan pasar belum bisa terpenuhi.

5. Harga pakan ayam naik juga membuat harga telur ikut naik. Ternyata, kenaikan harga pakan disebabkan oleh nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat lho!

Kalau harga pakan ayam naik, maka harga telur juga ikut naik via agronomu.com

Akhir-akhir ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sedang rendah. Kurs dolar Amerika Serikat mencapai lebih dari Rp 14.ooo,00. Ternyata, hal tersebut punya pengaruh ke harga pakan ayam yang naik menjadi lebih mahal daripada biasanya. Gimana pun, ayam penghasil telur butuh diberi makan ‘kan. Dan jumlah pakan yang diberikan nggak bisa dikurangi walau harganya lebih mahal. Kalau harga pakan naik, harga telur jadi lebih mahal karena biaya produksi telur meningkat.

Meskipun keberadaan telur ayam itu sangat penting sebagai asupan protein sehari-hari, kita harus selalu siap untuk cari alternatif. Biar nggak begitu pusing gitu kalau harganya naik terus~

Tempe dan tahu bisa jadi pengganti telur sebagai sumber protein via parenting.dream.co.id

Harga telur yang naik punya pengaruh besar lho. Apalagi karena telur adalah salah satu sumber protein hewani yang terbilang murah dibandingkan dengan daging ayam ataupun sapi. Tapi, sebenarnya ada lho alternatif sumber protein selain telur yang juga murah yaitu protein yang asalnya dari tumbuhan atau protein nabati. Tempe dan tahu bisa jadi pengganti telur ayam yang bisa dikonsumsi sehari-hari. Apalagi di zaman di mana sumber makanan manusia emang seringkali terancam karena cuaca ekstrem dan faktor-faktor lain, kita mesti terbuka untuk mencari alternatif makanan yang berbeda-beda.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya