Mau pagi, siang, sore, atau malam, media sosial kita sekarang udah banyak dipenuhi video-video Tik Tok. Iya, aplikasi hits mirip Musically itu. Entah udah berapa banyak video dari aplikasi tersebut yang viral di dunia maya. Dari yang bener-bener kreatif, sampai yang super nggak jelas. Mayoritas mereka yang bergaya di depan kamera itu adalah bocah-bocah di bawah umur. Bahkan nggak jarang juga kita temui sepasang bocah cowok dan cewek yang berlagak seperti orang dewasa, memeragakan video klip, lengkap dengan backsound lagu-lagu cinta.

Aplikasi asal Cina ini ternyata nggak cuma populer di Indonesia aja lho, tapi juga di Asia Tenggara. Dan secara global, Tik Tok udah diunggah lebih dari 10 juta pengguna dengan rating 4.5 di Google Play! Indonesia sendiri rupanya jadi negara nomor 1 di Asia Tenggara dengan pengguna Tik Tok terbesar, diikuti Thailand di posisi 2, dan Kamboja di posisi 3. Tapi, sekalipun Tik Tok ini udah mendunia dan dipakai sama jutaan orang, ternyata image-nya juga nggak bagus-bagus banget lho. Bahkan cenderung buruk dan diremehkan, khususnya di Indonesia. Hipwee News & Feature udah merangkum beberapa alasan di baliknya nih. Kamu yang anak Tik Tok, kuy simak~

1. Dari ratusan video Tik Tok yang diupload tiap hari itu, mayoritas cuma video lucu-lucuan yang cenderung nggak mendidik

Video lucu-lucuan yang jauh dari nilai edukasi via www.hipwee.com

Advertisement

Memang sih, kita tuh juga perlu konten berbau hiburan biar hidup nggak kaku-kaku amat. Tapi kalau terlalu banyak juga malah bikin bosan. Kalau tiap hari yang ditonton video macam begitu, bukannya nambah pengetahuan justru kita nggak bisa berkembang lho. Kan sedih kalau anak-anak muda di negara lain sibuk bikin eksperimen ilmiah, eh, kita di sini malah sibuk nontonin video Tik Tok yang nggak jelas.

Apalagi Tik Tok ini udah kayak menciptakan lingkaran tak berujung gitu. Singkatnya begini: orang bikin video Tik Tok nggak jelas — viral — terkenal — orang lain latah — viral juga — terkenal. Begitu seterusnya. Jadi yang terkenal ya videonya gitu-gitu aja.

2. Bahkan, nggak sedikit juga yang rela membahayakan nyawa sampai mengekspos tubuh sendiri demi dapat ratusan likes. Huhu, udah nggak sehat 🙁

Rela membahayakan nyawa via www.scmp.com

Saat ini, jumlah ‘like‘ di media sosial, termasuk Tik Tok, udah jadi semacam ukuran atau standar sebuah konten bisa dibilang keren. Nggak heran kalau banyak banget orang yang mirisnya juga bocah-bocah, menghalalkan segala cara biar bisa dilihat keren lewat sebuah konten di medsosnya. Di Hong Kong, sampai ada lho bocah yang membahayakan nyawa dengan duduk di ujung jembatan sambil merekam video Tik Tok. Dia juga bilang ke pengikutnya, “Aku sudah membahayakan nyawaku. Please, like!”.

Advertisement

Ada juga yang membakar tangannya sambil bilang, “Menyukai videoku sama dengan mendoakanku sembuh”. Lebih parah lagi, nggak sedikit juga yang rela mengekspos tubuhnya untuk dinikmati orang lain, demi likes doang 🙁

3. Aplikasi ini kebanyakan dipakai anak-anak yang masih haus eksistensi dan menjadikan viral atau ketenaran itu sebagai goal hidupnya

Banyak yang haus eksistensi via www.liputan6.com

Yang satu ini mungkin jadi satu alasan kuat kenapa Tik Tok dianggap buruk, yaitu karena mayoritas penggunanya masih di bawah umur. Belum lagi mereka ini bisa dibilang haus eksistensi, jadinya menganggap konten viral itu adalah segalanya. Kayaknya kalau nggak viral nggak keren gitu.

Padahal ya usia-usia seperti mereka harusnya disibukkan sama hal-hal lebih berguna buat masa depan, belajar atau les musik kek, dan banyak lainnya. Kreatif sih boleh aja, terlebih tujuan Tik Tok dibuat ya memang buat mengasah kreativitas anak muda dengan membuat video-video unik. Tapi sepertinya di Indonesia, kita udah salah mengartikan “unik” ini ya?

4. Selain itu, banyak juga lho video Tik Tok yang mengekspos identitas anak-anak, bikin predator anak di luar sana kegirangan, ‘kan serem…

Mengekspos identitas anak-anak via dairilagu.com

Dilansir dari South China Morning Post, perlindungan privasi pengguna di Tik Tok masih sangat kurang. Ini karena di dalamnya nggak ada pengaturan “Friends only“. Jadi pilihan buat videonya cuma ‘private’ atau ‘public‘. Artinya kita harus memilih, mau cuma bisa dilihat diri sendiri, atau bisa dilihat orang seluruh dunia. Kalau yang pakai anak-anak, mereka mana ngerti beginian. Padahal mengekspos identitas secara online ini bisa dibilang seolah-olah membuka pintu rumah kita lebar-lebar buat orang lain. Bahaya banget!

5. Karena anak-anak belum bisa mengontrol privasinya sendiri, aplikasi ini banyak dinilai nggak ramah anak

Nggak ramah anak via majunkri.com

Sekalinya bikin video dan diunggah, sulit bagi kita buat memastikan apakah video tersebut nggak akan diunggah orang lain. Sekalipun kita udah menghapusnya dari akun kita. Hal itu nggak bisa menjamin 100% video kita akan lenyap dari internet. Soalnya bisa jadi orang lain, entah di belahan dunia mana, sempat mengunggah video kita sebelum dihapus. ‘Kan ngeri kalau mereka memanfaatkannya buat hal membahayakan, seperti penculikan, perampokan, dan lain-lain. Amit-amit, jangan sampai deh~

Meski nggak sedikit yang nyinyirin Tik Tok, tapi ternyata ada juga video-video inspiratif dari sana, kayak video orang India yang memanfaatkan teknik editing tingkat dewa ini.

Coba kita bisa mengadopsi kreativitasnya buat bikin video-video Tik Tok, ‘kan lumayan kalau ada perusahaan yang ‘melirik’ kemampuan kita ini buat dipekerjakan sebagai video editor~

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya