Di beberapa negara, lembur atau overworked sudah jadi semacam budaya yang sulit dihapuskan. Sebut aja Jepang dan Amerika Serikat. Pekerja di sana begitu tergila-gila dengan lembur. Padahal kebiasaan itu dinilai bisa menimbulkan masalah kesehatan tertentu dan malah berpotensi menurunkan produktivitas pekerja. Kasus yang dialami Matsuri Takahashi –karyawan perusahaan iklan di Jepang– jadi bukti kalau budaya lembur memang nggak bisa dianggap enteng. Matsuri memutuskan bunuh diri setelah setahun penuh bekerja hingga tengah malam.

Dampak serius dari kebiasaan lembur ini akhirnya mampu mencuri perhatian pemerintah dan perusahaan dunia. Mereka mencari cara untuk menghentikan kebiasaan lembur karyawannya itu. Menariknya, banyak yang menggunakan cara-cara ekstrem biar pegawainya benar-benar mau pulang tepat waktu. Sulit sih memang, apalagi di Jepang yang mana penduduknya sangat gila kerja. Tapi nggak ada salahnya lho buat meniru kebijakan mereka. Hipwee News & Feature udah merangkumnya untuk kamu. Yuk, simak!

1. Demi menghentikan kebiasaan lembur karyawannya, nggak sedikit perusahaan di Jepang yang bersedia membayar ongkos pulang lebih cepat

Dibayar untuk pulang cepat via www.cebglobal.com

Advertisement

Sebuah agensi PR di Jepang, Sunny Side Up Inc, jadi salah satu perusahaan yang bersedia memberi insentif atau bonus tambahan bagi karyawannya yang mau pulang jam 15.00. Etsuko Tsugihara, kepala eksekutif kehumasan perusahaan tersebut mengatakan, insentif itu sengaja diberikan untuk meningkatkan produktivitas pekerjanya. Besarnya juga lumayan lho, per hari 3.200 Yen atau sekitar Rp380.000.

2. Ada juga perusahaan yang memberikan insentif cuti selama minimal 5 hari berturut-turut. Udah suruh cuti, dibayar pula. Kurang enak apa?

Disuruh cuti dan dibayar via theaccountant.org.mt

Di Indonesia, cuti jadi hal yang sangat diharapkan pekerja. Beda sama di Jepang, biar karyawan mau cuti aja perusahaan bernama Orix Corp sampai harus mengiming-iming bonus bagi mereka yang mau cuti minimal 5 hari berturut-turut. Besarnya bonus disesuaikan dengan lama cuti, yang nominalnya bisa mencapai 50.000 yen atau hampir Rp7 jutaan!

3. Perusahaan iklan di Jepang punya cara lain yang nggak kalah kreatif. Mereka mematikan seluruh lampu di kantor setiap jam 22.00, tanda karyawan harus pulang

Gedung perusahaan Dentsu via www.japantimes.co.jp

Cara yang yang nggal kalah kreatif dan sudah diterapkan perusahaan Dentsu adalah mematikan seluruh lampu kantor jam 22.00 ke atas. Tujuannya agar karyawan segera pulang. Tapi ternyata masih ada beberapa pekerja yang tetap bandel dengan menyalakan lampu meja. Untuk menyiasati hal ini, perusahaan yang menerapkan trik yang sama tak segan menerapkan denda.

4. Sebagai penanda waktu pulang, ada perusahaan yang memutar lagu tertentu jam 18.00 setiap harinya. Semacam ‘diusir’ secara halus gitu

‘Diusir’ pakai lagu via www.sankei.com

Advertisement

Beberapa perusahaan juga ada yang melakukan ‘pengusiran’ karyawan secara halus dari kantor menggunakan lagu ‘Gonna Fly Now‘ milik Bill Conti yang merupakan theme song serial film Rocky. Lagu itu diputar pakai speaker dengan volume kencang setiap pukul 18.00. Tanda karyawan boleh pulang.

5. Ada juga yang menetapkan 1 hari tanpa lembur dalam sebulan. Bagi yang melanggar bakal kena hukuman dan dipermalukan

Buat yang melanggar akan didenda via economy.okezone.com

Saint-Works Corporation jadi perusahaan yang punya cara lucu demi menghapus budaya lembur di antara karyawannya. Mereka menetapkan 1 hari tanpa lembur dalam sebulan yang mau nggak mau harus dipatuhi. Soalnya, siapapun yang melanggar bakal disuruh memakai jubah ungu yang berhiaskan bintang emas! Duh, harus siap malu nih…

6. Pernah dengar Premium Friday dan Shining Monday? Ternyata itu bentuk kebijakan lain yang dirancang agar karyawan nggak overworked

Premium friday via www.sbs.com.au

Ada juga istilah Premium Friday yang diterapkan pemerintah Jepang untuk para pekerja di sana. Jadi setiap hari Jumat terakhir tiap bulannya, para pekerja diharuskan pulang lebih awal demi meningkatkan keseimbangan kehidupan. Sepulang kantor, diharapkan mereka bisa menghabiskan waktu bersama keluarga dan berbelanja di pusat perbelanjaan. Secara tidak langsung, hal itu juga bisa meningkatkan ekonomi negara bersangkutan.

Tapi nyatanya kebijakan Premium Friday nggak terlalu mendapat sambutan berarti. Ini karena setiap Jumat, perkantoran di Jepang justru lagi sibuk-sibuknya. Para karyawan harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum weekend tiba. Menyiasati hal ini, pemerintah akhirnya meluncurkan Shining Monday. Jadi bagi siapapun yang harus lembur di hari Jumat, mereka bisa ambil jatah libur di hari Seninnya. Dengan adanya Shining Monday ini, karyawan juga jadi terbebas dari rasa takut yang biasa menghampiri di Senin pagi.

Jadi, menurutmu, mana nih yang cocok diterapkan di Indonesia? Tapi kayaknya di sini, jarang-jarang ada orang yang segila itu sama pekerjaan. Atau malah kamu termasuk 1 di antaranya??

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya