6 Realita Jadi Anak Sekolahan yang Ceritanya Diangkat di Drama “Sky Castle”. Keras Banget Emang!

Fakta jadi anak sekolahan ala drama Sky Castle

Drama Sky Castle minggu ini resmi tamat. Mengisahkan persaingan kalangan elit untuk memasukkan anak-anak mereka ke perguruan tinggi terbaik di Korea, drama ini menduduki drama TV kabel dengan rating tertinggi. Dan mengalahkan Goblin yang menduduki peringkat ini sebelumnya. Nggak salah sih drama ini berating tinggi, soalnya tema yang diangkat itu sangat relevan dengan kehidupan anak-anak sekolah di sana. Seperti mewakili perjuangan jadi anak-anak sekolah di Korea yang harus berjuang mati-matian demi bisa diterima di perguruan tinggi ternama.

Advertisement

Nah biar pengetahuanmu tentang kerasnya hidup jadi anak-anak sekolah di Korea sana, nih Hipwee Features berikan beberpa fakta lainnya. Kamu yang dulu pas sekolah hanya belajar dari pagi sampai siang aja, jelas belum ada apa-apanya!

1. Belajar dari pagi sampai malam sudah menjadi kewajaran. Bahkan sejak kecil anak-anak sekolah di Korea Selatan diikutkan les (hagwon) sepulang sekolah

Belajar sudah jadi nafas buat mereka via www.koreanesia.com

Masih ingat dengan Yeseo di drama SKy Castle? Dari pagi sampai malam dia belajar di sekolah lalu dilanjutkan dengan mengikuti tutor khusus setelahnya. Sebelumnya, Yeseo bahkan mengikuti klub buku untuk menunjang pengetahuannya demi bisa masuk perguruan tinggi negeri yang ia inginkan. Ternyata kisah Yeseo ini bukan imajinasi sang writernim, tapi memang benar-benar terjadi.

Seperti yang diraskaan Jackie Yoo yang dilansir dari Washington Post. Ia mengaku telah diikutkan berbagai macam les seperti matematika, piano, serta balet sejak duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar. Hm…cukup “padat” ya untuk seorang anak sekolah dasar~

Advertisement

2. Tekanan yang diemban anak-anak sekolah di Korea Selatan juga makin lama makin berat. Soalnya para orangtua sering memaksa mereka untuk belajar, biar nggak ketinggalan dengan teman-teman

Tekanan dari orangtua juga jadi salah satu faktor bikin stres via www.kapanlagi.com

Lain Yeseo lain pula si kembar Cha Kijoon & Cha Sujoon. Mereka berdua selalu saja dipaksa belajar oleh sang ayah, Prof. Cha setiap harinya. Bahkan mereka sampai dibuatkan ruangan belajar yang kedap suara. Salah satu alasannya ya biar mereka berdua nggak kalah dengan teman-temannya yang lain. Makanya Prof. Cha bilang kalau mereka harus berada di puncak piramida biar nggak ketinggalan.

Nah hal ini pun di dunia nyata juga benar-benar terjadi. Seperti mendaftarkan secara suka rela anak-anak mereka untuk mengikuti les selama beberapa tahun. Meskipun anak-anak mereka cukup pintar, tapi ikut les tetap wajib dilakukan biar mereka nggak ketinggalan dengan teman-teman lainnya.

3. Selain tekanan dari orangtua, anak-anak sekolah di Korea sana juga sadar bahwa masa depan bergantung dengan apa yang mereka lakukan sekarang. Sebagian dari mereka bahkan menghabiskan waktunya hanya untuk belajar

Sebagian dari mereka sadar bahwa mati-matian belajar adalah kebutuhan via www.instagram.com

Advertisement

Bagi anak-anak sekolahan di Korea, belajar seakan udah jadi nafas yang harus tiap saat mereka lakukan. Ya kayak anak-anak di Sky Castle lah contohnya. Segala usaha mereka lakukan dan didukung oleh para orangtuanya. Seperti contohnya Yeseo, yang belajar mati-matian bahkan sampai nyleding temannya agar kelak bisa masuk fakultas kedokteran di Universitas Seoul. Soalnya ia sadar bahwa masa depannya ditentukan sama apa yang ia lakukan sekarang. Di kehidupan nyata, apa yang dilakukan seperti Yeseo ini juga menjadi hal yang wajar.

Seperti yang dilansir dari BBC, seorang siswa bernama Park Yemin mengaku ia harus belajar dari jam 06.30 sampai 11.00 malam karena ingin menjadi seorang guru di masa depan. Soal jam tidur, ia jelas kekurangan, tapi demi mengejar mimpi, semua hal ini rela ia lakoni.

4. Tapi ada juga yang “nggak kuat” dengan tekanan kayak gini. Inilah yang menjadi salah satu pemicu banyaknya kasus depresi bahkan sampai bunuh diri di kalangan anak-anak sekolahan

Banyak juga yang nggakuat dan berakhr depresi bahkan bunuh diri via www.worldofbuzz.com

Ingat dengan Park Yongjae? Siswa yang di awal cerita diterima di Universitas Seoul tapi jadi seseorang yang depresi dan menjadikan kelulusannya ini sebagai upaya balas dendam. Setelah diterima, Yongjae justru kabur tanpa kabar untuk sengaja mematahkan hati orangtuanya. Sampai-sampai kemudian ibunya bunuh diri. Nah sejalan dengan apa yang dialami Park Yongjae ini, ternyata di dunia nyata juga nggak kalah “ngerinya”! Tekanan untuk terus belajar di Korea Selatan, banyak yang berakhir dengan kasus bunuh diri.

Dilansir dari Worldofbuzz, banyak dari anak-anak sekolah ini yang nggak kuat dan berakhir mengambil jalan pintas dengan bunuh diri. Inilah salah satu alasan mengapa Negara Ginseng tersebut dikenal memiliki tingkat bunuh diri yang tinggi.

5. Hidup jadi anak sekolahan di Korea Selatan memang berat (banget), makanya beberapa orangtua di sana “mengungsikan” anak-anak mereka ke luar negeri biar punya kehidupan yang lebih baik

Cha Seri, merupakan contoh anak-anak yang diungsikan ke luar negeri via www.instagram.com

Setiap anak di drama Sky Castle memang punya kisahnya sendiri-sendiri. Nah kalau Cha Seri, putri Prof. Cha yang pura-pura diterima di Universitas Harvard lain lagi. Sejak usia 13 tahun ia diungsikan ke Amerika Serikat agar punya kesempatan lebih besar mengecap kehidupan yang lebih layak. Kasus anak-anak yang diungsikan ke luar negeri oleh orangtuanya ini ternyata juga terjadi di dunia nyata lho. Bahkan sebagian dari penduduk Korea sendiri memimpikan untuk pindah ke negara lain saking mencekiknya sistem pendidikan sana.

6. Trus nasib anak-anak sekolahan yang nggak mampu gimana? Contohnya kayak Kim Hyena di dunia nyata gitu lah~

PR nih buat anak-anak sekolahan yang kurang mampu di Korea sana via www.instagram.com

Biaya les di Korea memang terkenal mahal. Bahkan para orangtua harus mengeluarkan sekitar 25% dari penghasilan mereka untuk membayar biaya les atau pelajaran tambahan sepulang sekolah. Nah untuk mereka yang kurang mampu, biaya semahal ini jelas menjadi salah satu masalah utama. Padahal baik anak-anak sekolahan yang mampu maupun yang tidak mampu sama-sama ingin masuk ke perguruan tinggi favorit mereka.  Karena keterbatasan di bisang biaya ini anak-anak kurang mampu sering kali bekerja paruh waktu. Tapi ada juga yang disewakan ruang belajar oleh orangtua mereka untuk meningkatkan konsentrasi dalam belajar. Sama kan kayak Kim Hyena yang jadi tutor privat bagi anak-anak lain, seperti Yebin.

Kehidupan anak-anak sekolahan yang digambarkan lewat drama Sky Castle ini seakan menjadi gambaran bahwa persaingan di sana memang benar-benar gila. Saking “beratnya” kehidupan anak-anak sekolahan di Korea ini, sampai ada beberapa pasangan yang nggak mau punya anak lho. Mereka berpikiran bahwa membesarkan anak di zaman sekarang itu semakin nggak masuk akal baik dari segi pembiayaan sampai pengasuhan. Jadinya ya angka kelahiran di negara ini makin menurun saja.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Not that millennial in digital era.

CLOSE