Angkutan bersama adalah lokasi yang rentan terjadi pelecehan seksual. Berdalih kondisi penuh dan harus berdesak-desakan, masih banyak saja tangan-tangan jahil yang ambil kesempatan. Karena itulah banyak sarana transportasi yang dikhususkan untuk perempuan, seperti gerbong wanita pada KRL ataupun transjakarta bagian perempuan.

Pelecehan seksual di kendaraan umum ini nggak hanya terjadi di Indonesia saja. Sebagai kota yang tingkat pelecehan seksualnya tinggi, Mexico City baru-baru ini digemparkan oleh video kampanye tentang Kursi Penis. Yup, kursi ini sengaja diletakan di kereta api sebagai transportasi publik dalam rangka pemberantasan pelecehan seksual. Kursi penis bagaimana sih maksudnya? Penasaran? Yuk simak ulasan Hipwee News & Feature!

Sebagaimana namanya, kursi ini dilengkapi dengan alat vital pria. Lengkap dengan sebadan-badannya, membuat siapa pun tak nyaman mendudukinya

Kursi khusus untuk pria untuk merasakan simulasi pelecehan seksual via flipboard.com

Nama ‘Penis Seat’ atau ‘Kursi Penis’ ternyata mengandung makna harafiah. Kursi itu terlihat ada di antara kursi-kursi kereta lainnya dan dikhususkan untuk penumpang pria. Didesain seperti tubuh pria bagian depan, lengkap dengan dada dan organ genital. Sudah pasti kamu iyuh melihatnya. Apalagi mendudukinya? Lalu di bagian bawah kursi tersebut, ada tulisan yang lumayan jleb dan menyentuh perasaan:

“Tidak nyaman diduduki, tapi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan pelecehan seksual yang dialami perempuan dalam perjalanan mereka.”

Biar pria juga mengerti dan bisa langsung merasakan betapa tidak nyamannya pelecehan seksual yang sering dialami perempuan-perempuan Mexico City ketika berkendara pakai transportasi umum.

Kursi ini memang baru eksperimen dan belum jadi solusi permanen. Tapi beragam ekspresi orang yang melihat terekam dalam video campaign yang penontonnya sudah ribuan

Provokatif? Yup. Kursi ini memang sengaja dibuat sebagai sarana provokasi untuk mengundang kesadaran bersama atas bahaya pelecehan seksual. Kursi ini memang tidak benar-benar ada dipasang di semua kereta komuter Mexico City, cuma eksperimen semata. Tapi ekspresi-ekspresi penumpang kereta saat mendapati kursi dengan hiasan yang seronok itu sudah terekam sempurna dalam sebuah video yang berjudul “Experimento Asiento” atau “Experiment with a seat”.

Kaget, heran, awkward, hingga malu, semuanya terekam di sana. Yang paling lucu tentu saat ada pria yang menutupi kursi itu dengan jaket. Saat ini, video yang merupakan bagian dari kampanye #NoEsDeHombres oleh UN Women Mexico itu sudah ditonton lebih dari 800.000 penonton.

Tak hanya itu, UN Women Mexico berkolaborasi dengan pemerintah juga berencana merilis video-video serupa. Kampanye anti pelecehan seksual ini masih panjang jalannya

Video “Experimento Asiento” ini hanya salah satunya. Ada juga video “Experimento Pantallas” atau “Experiment Screens“. Dalam video ini, sebuah kamera dihubungkan ke sebuah layar yang diletakan di tempat umum seperti stasiun. Nah, kamera ini akan dengan sengaja menyoroti pantat para pria dan menampilkannya di layar sehingga bisa dilihat semua orang. Seperti di video sebelumnya, beragam ekspresi terekam kamera. Ada yang menutupi celananya, ada yang salah tingkah dan buru-buru masuk kereta.

Hmm, dengan format kampanye semacam ini, kira-kira pesannya apa ya?

Dibanding yang lain, kampanye ini unik. Intinya, supaya pria dapat merasakan sendiri pelecehan seksual yang sering dialami perempuan Mexico City

Sosialisasi pemberantasan pelecehan seksual via www.volunteertravels.com

Kebanyakan pencegahan pelecehan seksual ditujukan untuk perempuan. Mulai dari gerbong wanita, sampai anjuran untuk berpakaian lebih tertutup. Jelas ini kebijakan yang berat sebelah karena seolah-olah pelecehan seksual terjadi karena salah perempuan sendiri. Kepada NY Times, Yelis Osman, koordinator progam di Mexican UN Women menuturkan:

“Kami ingin mengubahnya karena kami tidak berpikir bahwa yang bermasalah bukanlah perempuannya.”

Lebih lanjut lagi Osman juga menyatakan bahwa membuat pria “merasa dilecehkan” itu penting untuk menciptakan kesadaran akan bahayanya pelecehan seksual. Melihat organ genital di kursi dan dipandangi dengan cara yang tidak senonoh jelas membuat tidak nyaman.

“Untuk membuat perubahan, kamu harus menciptakan empati. Konsepnya adalah bagaimana pria bisa tau rasanya (hal-hal yang menjurus ke pelecehan seksual). Dengan menciptakan empati, kami berharap hal ini akan mengubah sikap mereka.”

Mexico City memang lumayan gawat soal kasus pelecehan seksual. Berbagai cara telah dicoba sampai akhirnya kampanye ekstrem ini harus dicoba

Angka pelecehan seksual tinggi via www.theodysseyonline.com

Angka pelecehan seksual di Mexico City memang lumayan tinggi. Masih dikutip dari NY Times, survei nasional menunjukan bahwa di tahun 2016, 9 dari 10 perempuan merasa tidak aman saat memakai transportasi publik. Bahkan Mexico City menjadi salah satu kota yang transportasi publiknya paling tidak aman untuk perempuan. Setelah mencoba berbagai cara termasuk membuat tiga gerbong khusus untuk wanita, akhirnya kampanye yang sedikit berbeda ini mulai dicoba.

Apa itu cuma di Meksiko? Jelas nggak. Di sekitar kita, hal yang sama banyak terjadi juga. Perempuan merasa nggak aman berjalan sendiri saat malam, karena ada saja pria-pria yang iseng bersuit-suit ria. Terkadang pelecehan itu dibuat sedikit lebih islami seperti “Assalamu’alaikum, cantik…” padahal intinya sama. Apa mungkin kita harus mensuit-suiti balik supaya mereka tahu kalau dipanggil-panggil dan disuit-suitin itu nggak enak?

Seperti isu-isu sensitif lainnya, kampanye ini pun menuai pro dan kontra. Ada yang sadar diri, ada juga yang marah karena merasa digeneralisasi

Pelecehan seksual jadi tanggung jawab bersama via www.redbookmag.com

Isu pelecehan seksual memang termasuk isu sensitif. Di Indonesia sendiri masih bahkan masih dianggap tabu. Ironisnya, karena anggapan itulah yang membuat banyak korban pelecehan seksual memilih bungkam. Padahal mereka jelas-jelas dirampas hak asasinya dan berhak untuk mendapatkan keadilan. Kampanye kursi penis ini juga tak lepas dari kontroversi. Seperti yang diliput oleh BBC, ada yang memuji dan mendukung. Ada juga yang bilang itu seksis dan tidak adil untuk pria karena digeneralisir sebagai pelaku pelecehan seksual.

Mencari solusi untuk pelecehan seksual memang jadi tanggung jawab kita bersama. Sebab meski sebagian besar korbannya wanita, pelecehan seksual bisa juga terjadi pada pria

Pelecehan seksual juga bisa terjadi pada pria via universityissue.com

Pelecehan seksual memang jadi persoalan besar yang menuntut penyelesaian. Tentu kurang tepat bila menganggap perempuan selalu korban dan pria sebagai pelaku kejahatan. Karena pada dasarnya pelecehan seksual bisa terjadi kepada baik perempuan ataupun pria. Pemerkosaan ataupun seks yang tidak diinginkan juga bisa terjadi kepada pria, dan hal ini jelas tidak bisa disepelekan.

Seperti yang diulas oleh Vice, pada tahun 2014 di US ada jutaan pria yang mengalami pelecehan seksual. Tapi justru karena pelecehan seksual bisa terjadi oleh dan kepada siapa saja, maka pelecehan seksual wajib menjadi ‘pe-er’ kita bersama.

Terlepas dari kontroversinya, mungkin kampanye ini bisa kita ambil hikmahnya dan dijadikan bahan pemikiran untuk masalah pecelahan seksual di Indonesia sendiri. Terutama untuk menumbuhkan kesadaran bersama bahwa ini bukanlah masalah perempuan atau salah satu gender saja, tapi semua lapisan masyarakat. Baik pria ataupun perempuan, layak untuk naik kereta ataupun pulang malam dengan perasaan aman dan tenang, bukan?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya