Drama politik di Indonesia terus bergulir layaknya bola api panas. Belum tuntas kasus korupsi pengadaan E-KTP, kini Setya Novanto kembali jadi sorotan publik karena melaporkan warganet yang dengan sengaja menyebar meme foto dirinya. Tak hanya satu atau dua akun saja, jumlah akun sosial media yang diduga menyebarkan meme Setnov berjumlah 32 akun. Tapi kalau melihat bagaimana beberapa waktu lalu meme Setya Novanto itu jadi fenomena nasional, pastinya yang menyebarkan lebih dari 32 akun itu.

Langkah yang dilakukan politisi partai Golkar ini langsung menuai pro dan kontra. Sebagaimana dilansir Kompasproses hukum ternyata kini sudah berjalan. Dyan Kemala Arrizqi, salah seorang kader PSI (Partai Solidaritas Indonesia) yang juga dilaporkan Setnov, saat ini tengah menjalani proses hukum dan ditetapkan sebagai tersangka. Yuk simak selengkapnya di Hipwee News and Feature berikut!

Ini 32 akun yang sudah dilaporkan ke meja hijau. Beberapa bahkan sudah dinonaktifkan, hmmm… gimana dong melacaknya?

Seluruh akun sosmed yang dilaporkan via tirto.id

Advertisement

Akun sosial media yang menyebar meme Setnov dilaporkan, baik akun Twitter, Instagram, maupun Facebook. Menurut Fredrich Yunadi selaku kuasa hukum Setya Novanto, ia sebenarnya tidak mencoba menargetkan tokoh atau kader partai tertentu. Banyak diantaranya merupakan akun pribadi dan ada juga akun guyonan atau akun yang memang biasanya mengunggah konten humor. Fredrich Yunadi bahkan sudah menambahkan jumlah akun-akun lain sehingga keseluruhan akun yang dilaporkan berjumlah 69. Wow banyak banget ya guys.

Menyusul perkembangan kasus kontroversial ini, beberapa akun langsung dinonaktifkan. Wajar sih, pasti pemilik akun juga ketakutan dan khawatir bakal diproses hukum. Tapi kalau banyak yang langsung menonaktifkan begini, kira-kira kelanjutan kasusnya bakal gimana ya?!

Semua akun ini dituntut atas penghinaan dan pencemaran nama baik. Kalau yang ketawa gara-gara meme kemarin, kira-kira bakal dituntut juga nggak ya?!

Meme Setya Novanto diperkarakan via tirto.id

Beberapa waktu lalu, Setya Novanto gagal memenuhi panggilan KPK sebagai tersangka e-KTP karena jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Foto yang harusnya membuktikan alibinya tersebut justru ramai disindir warganet karena berbagai kejanggalan yang terlihat. Hal inilah yang dianggap pihak Setya Novanto yang diwakili kuasa hukumnya sebagai penghinaan dan pencemaran nama baik. Menurut Fredrich, kasus ini nantinya akan diselidiki oleh ahli bahasa dan ahli UU ITE. Kayaknya susah juga ya menentukan mana yang menyindir dan mana yang menghina…

Banyak yang menilai langkah Setya Novanto ini berlebihan. Demokrasi di dunia maya juga makin dipertanyakan

Tanggapan netizen via twitter.com

Advertisement

Ingat nggak betapa ramainya sosial media ketika kasus Setya Novanto bergulir? Mulai dari hashtag #ThePowerofSetnov hingga meme-meme soal dirinya di rumah sakit beredar, netizen ramai-ramai memberikan sindiran pada politikus yang kemudian dibatalkan status tersangkanya. Seperti dilansir dari Kompas, Aktivis Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Isnur mengatakan bahwa langkah yang dilakukan Setya Novanto berlebihan sebagai pejabat publik. Penangkapan Dyann Kemala Arrizqi juga dikhawatirkan akan membuat rakyat takut untuk mengkritik dan mengawai kinerja penguasa, padahal ya itulah inti dari semangat demokrasi.

“Melalui meme, kekecewaan ditunjukkan secara humor sehingga menjadi satir.” Pengamat media sosial, Nukman Luthfie.

Senada dengan yang disampaikan Isnur, Nukman menilai bahwa tidak pantas jika masalah ini dibawa ke ranah hukum. Sebagai negara demokrasi, meme menjadi bagian dari kultur pop untuk mengkritisi dan mempertanyakan kebenaran. Dalam hal ini tentu saja masyarakat mempertanyakan, bener nggak sih Setya Novanto memang sakit atau hanya mangkir dari proses hukum?

Terlepas dari itu semua, peristiwa ini membuat sebagian besar netizen geram sekaligus takut. Banyak yang menilai proses hukum di Indonesia seperti mata pisau yang tajam ke bawah, namun tumpul ke atas. Rakyat yang ‘bukan siapa-siapa’ dengan mudahnya terjerat proses hukum dan menanggungnya, tanpa kuasa apa-apa. Sedangkan mereka yang berada di atas dengan mudah bisa melewatinya dan terbebas dengan kuasanya. Hal ini membuat rakyat makin bungkam dan tidak akan peka dengan dinamika politik di Indonesia. Bagaimana pendapatmu guys?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya