Meskipun diskriminasi perempuan di ranah publik atau domestik masih sering terjadi hingga sekarang, tapi setidaknya kita para perempuan nggak lagi merasa kesulitan untuk bisa berpartisipasi dalam berpolitik. Kalau dibandingkan zaman dulu, perempuan di berbagai negara demokrasi nggak bisa secara bebas memilih kayak sekarang. Untuk bisa memperoleh haknya pun mereka harus berjuang mati-matian, dan prosesnya juga nggak sebentar.

Jadi miris ya, apalagi kalau sadar di Indonesia sekarang angka golongan putih (golput)-nya cukup tinggi. Dari data yang dilansir Rappler, secara umum golput di Indonesia memang mengalami peningkatan kalau dilihat dari tahun 1970-an. Pada 2015 saat pilkada serentak kemarin, angka partisipasinya makin menurun, jadi cuma 70%. Sisanya golput. Nah, buat kamu yang sering golput tiap ada pemilihan cuma karena malas, mending simak dulu rangkuman Hipwee News & Feature tentang perjuangan perempuan masa lalu demi mendapatkan hak pilih-nya ini. Biar ngerasain tuh gimana sengsaranya…

Jangan bayangkan semua perempuan zaman dulu bisa bebas nyoblos kayak kita sekarang. Dulu mereka harus berjuang dulu menuntut kesetaraan hak berpolitik

Perjuangan via www.bfi.org.uk

Advertisement

Zaman dulu dimana sistem patriarki masih kuat diberlakukan, para wanita nggak punya banyak pilihan dalam berkarir. Mayoritas pekerjaan, termasuk yang bergerak di pemerintahan, ya cuma diisi oleh laki-laki aja. Ini juga berimbas ke kebebasan mereka dalam memilih calon pemimpinnya, yang mana sangat amat terbatas. Sejalan dengan gerakan feminis yang memang sedang gencar-gencarnya, merekapun berontak dan menuntut kesetaraan hak pilih. Kebanyakan melakukannya dengan demo, tapi ada juga yang pakai cara lain kayak mogok makan, pembakaran, atau bom api.

Di Inggris gerakan itu disebut ‘suffrage’, yang dipicu dari kesadaran berpolitik di kalangan perempuan. Kini sudah 100 tahun lamanya sejak perempuan Inggris memenangkan hak bersuara

Para pelaku suffrage disebut suffragettes. Setelah melakukan demo disana-sini, para suffragettes ini akhirnya memenangkan hak pilihnya pada Februari 1918. Dilansir CNN, pemerintah mengeluarkan peraturan “1918 Representation of the People Act” yang mengatur tentang siapa-siapa aja yang boleh ikut pemilu. Iya sih, perempuan udah boleh milih, tapi dalam aturan itu yang boleh milih cuma perempuan di atas 30 tahun yang udah punya tanah sendiri, atau yang udah menikah dengan pria yang juga punya properti. Jadi sama aja, hak pilihnya belum merata.

Tahun-tahun berikutnya para suffragettes ini menuntut kesetaraan hak pilih dengan laki-laki. Akhirnya tahun 1928, dibawah peraturan ‘The Equal Franchise Act’, perempuan Inggris mendapatkan kesetaraan hak voting dan otomatis meningkatkan jumlah pemilih perempuan yang awalnya 8 juta orang jadi 15 juta orang.

Kejadian serupa ternyata pernah juga dilalui Indonesia. Tahun 1930, pembahasan soal hak pilih perempuan pertama kali muncul di Kongres Perikatan Perempuan Istri Indonesia (PPII) I

Organisasi perempuan di Indonesia via historia.id

Advertisement

Dilansir Historia, perjalanan perjuangan hak pilih perempuan di Indonesia dibawa oleh organisasi-organisasi perempuan tahun 1930-an. Ini berawal dari kesadaran hak pilih perempuan Belanda yang lebih dulu muncul tahun 1908. Tak hanya menuntut hak pilih, mereka juga mendesak petinggi negara agar diberikan kedudukan di Dewan Rakyat. Untuk perempuan Indonesia sendiri, pembahasan hak pilih pertama kali muncul di Kongres Perikatan Perempuan Istri Indonesia (PPII) I yang digelar di Surabaya, 13-18 Desember 1930. Dari kongres itu dibentuklah Badan Perantara (BP) yang bertugas mempelajari hak pilih.

Singkat cerita, setelah mendapat desakan sana-sini, tanggal 20 September 1941 akhirnya pemerintah mengeluarkan keputusan tentang hak pilih penuh untuk Dewan Kota. Jadi ya yang disasar sebenarnya cuma perempuan-perempuan berpendidikan yang mendaftarkan diri aja. Lagi lagi hak pilih belum merata. Tapi sebelum keputusan itu terlaksana, Indonesia udah keburu diduduki Jepang. Setelah kemerdekaan barulah perempuan punya hak memilih sama kayak laki-laki, meski angka partisipasinya masih minim.

Ya meski secara umum perempuan kini udah jauh lebih leluasa ikut bersuara, tapi kedudukannya di parlemen masih jauh lebih sedikit dibanding laki-laki

Wanita di parlemen via egyptianstreets.com

Hak pilih boleh setara, tapi kedudukan di pemerintahan masih banyak didominasi laki-laki. Dilansir dari International Organization of Parliaments, Inggris sendiri menduduki peringkat 39 dilihat dari jumlah partisipasi wanitanya di parlemen. Amerika Serikat jauh di bawahnya, yaitu peringkat 99, dengan pejabat publik wanitanya kurang dari 20%. Rwanda memimpin dengan jumlah wanita di parlemennya mencapai 61%, disusul Bolivia, Kuba, Nicaragua, dan Swedia.

Kalau dipikir-pikir sebenarnya enak juga ya buat kita karena nggak perlu berjuang keras buat bisa mendapat hak pilih, nggak seperti sesepuh kita zaman dulu. Lha sekarang, udah dapat hak bebas, tapi justru banyak yang nggak memanfaatkannya dengan baik… Gimana nih?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya