Pengalaman Mistis Praktikum di Alas Purwo, Harus Tidur di Tempat Penampakan Muncul

Tika yang mata batinnya ditutup saat kecil sampai terbuka lagi setelah kejadian-kejadian di tempat ini

*Kamis Mistis kembali membawakan cerita seram untukmu. Kali ini cerita datang dari pengalaman seorang mahasiswa yang melakukan kegiatan praktikum lapangan di kawasan hutan konservasi di ujung timur Pulau Jawa, yakni Alas Purwo yang terkenal angker. Demi kenyamanan, nama dan desa tempat kejadian sengaja disamarkan, tapi cerita yang disajikan real.

Ketika menginjakkan kaki pertama kali di Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Rahma memang sudah merasakan aura-aura aneh, dingin dan membuat bulu kuduknya merinding. Sebenarnya, sebelum berangkat sendiri ke hutan yang terkenal angker tersebut, Rahma memang banyak mendengar soal kejadian ganjil yang dialami banyak orang yang berkunjung ke sini.  Namun, mau nggak mau ia harus tetap mengikuti kegiatan praktikum lapangan di sana.

Cerita soal betapa angkernya Alas Purwo memang sudah menjadi buah bibir nggak hanya di kalangan masyarakat Banyuwangi saja. Banyak sekali cerita soal kejadian mistis yang dialami para pengunjung hutan tersebut. Mendengar banyak cerita mistis soal hutan konservasi tersebut, nggak membuat Rahma dan teman-temannya yang tergabung dalam kelompok praktikum lapangan mahasiswa biologi mengundurkan diri dari program yang diadakan oleh kampus mereka.

Konon, Taman Nasional yang berada di Jawa Timur ini merupakan hutan tertua di Jawa yang menjadi pusat kerajaan gaib, sering untuk bertapa bagi yang ingin memiliki ilmu hitam, hingga tempat pesugihan. Banyak pula cerita tentang arwah-arwah penasaran yang kerap mengganggu pengunjung, nggak terkecuali Rahma dan rombongan. Suasana angker yang menyambut kedatangan mereka ternyata menjadi awal pengalaman mistis yang mau nggak mau harus mereka temui sepanjang kegiatan praktikum, mulai dari bisikan arwah hingga wujud makhluk berlidah panjang. Begini ceritanya…

Beberapa kejadian ganjil menimpa teman-teman Rahma. Mereka dibisiki arwah-arwah penasaran yang meminta pertolongan

Bisikan makhluk gaib | Illustration by Hipwee

Cerita Rahma diawali dengan kejadian ganjil yang dirasakan teman-temannya, sebagian besar mereka yang memiliki kemampuan indigo atau bisa berinteraksi dengan makhluk gaib. Banyak cerita bahwa keberadaan orang indigo memang kerap dimanfaatkan oleh makhluk gaib sebagai mediasi atau perantara untuk berkomunikasi dengan manusia.

Suatu ketika, salah satu teman kelompok Rahma yang indigo, sebut saja Andi, sedang berjalan kaki untuk meneliti beberapa tanaman di kawasan Alas Purwo. Awalnya suasana seperti sebelumnya, tetap dingin dan ada aura aneh yang sulit dijelaskan, tapi beberapa saat ketika Andi semakin tenggelam dalam kegiatannya, tiba-tiba ada bisikan halus yang sontak membuat bulu kuduknya merinding. Andi merasa ada orang yang membisikinya dengan suara-suara aneh, lama-lama seperti permintaan tolong. Hal ini nggak hanya sekali dua kali Andi alami, bahkan hal serupa juga dialami teman-teman indigo lainnya.

Dari cerita Andi dan beberapa teman yang lain, sepertinya dapat disimpulkan bahwa makhluk gaib tersebut merupakan arwah-arwah penasaran yang belum bisa meninggal dengan tenang. Apalagi, Andi mengaku ada makhluk-makhluk gaib yang secara terang-terangan ingin memanfaatkannya dan teman-teman indigo lain supaya dibantu melakukan berbagai hal yang belum terlaksana semasa hidup. Ada yang meminta disampaikan pesannya kepada seseorang, ada yang ingin dibayarkan hutangnya, bahkan ada pula yang ingin balas dendam. Namun, mereka berusaha bersikap cuek dan nggak menanggapi bisikan tersebut.

Suasana sore jadi mencekam ketika beberapa mahasiswa harus dirukiah karena…

Sore yang mencekam di penginapan | Credit by Lucas on Pexels

Sejak kejadian bisikan-bisikan makhluk gaib hari itu, beberapa mahasiswa melapor pada dosen pendamping mereka. Akhirnya, Andi dan beberapa teman lainnya dikumpulkan untuk ditutup mata batinnya sementara, dibantu oleh salah seorang dosen yang religius supaya nggak diganggu para penghuni Alas Purwo selama kegiatan. Sayangnya, ada sekitar 5 mahasiswa mengaku keberatan dan menolak untuk ditutup mata batinnya.

Nah, kejadian mencekam pun dimulai ketika hari menjelang sore di mana seluruh peserta praktikum sudah kembali ke penginapan. Sore itu, Rahma dan teman-teman kelompoknya sedang menyelesaikan praktikum di suatu ruangan terbuka, mirip pendopo yang masih satu lokasi dengan penginapan mereka. Di penginapan tersebut terdapat 4 bangunan untuk tidur, yang terdiri dari 3 bangunan berbentuk panggung dan 1 rumah utama yang cukup besar.

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis