Curhatan Pasien Klinik Psikologi: Saya Nggak Gila kok! #HipweeJurnal

Di #hipweejurnal kali ini saya pengin nulis yang agak berat. Nggak mau galau soal jodoh lagi, karena katanya jodoh nggak akan ke mana meski saya nggak tahu juga dia di mana. Sebenarnya saya penginnya curhat mellow saja sih, tapi kata Managing Editor saya: kalau bisa diselipin yang ilmiah ya? Laksanakan, boss!

Advertisement

Berawal dari curhat biasa dengan kawan lama yang hampir setengah tahun tak berjumpa, akhirnya saya tiba di tempat itu. Sebuah rumah biasa, tak ada bedanya dengan rumah-rumah karyawan bergaji di bawah 7 juta yang kemungkinan sulit ikut beli rumah DP nol persen. Namun ada pertentangan hebat baik dalam diri saya, maupun dari orang-orang di sekitar saya sebelum saya sampai di sana.

“Kamu ke psikolog? Ngapain sih? Emangnya kamu gila?”
“Kayak nggak punya Tuhan aja kamu, pakai ke psikolog segala.”

Tapi ada juga yang di posisi sebaliknya. Saat disarankan untuk menemui psikolog atau mungkin sekalian ke psikiater, dia justru tersinggung dan menjawab: “Mbok pikir aku gendheng piye?!”

Advertisement

Nah, itu dia! Kadang saya takjub dengan kecepatan orang dalam mengotak-otakan sesuatu. Sering pulang malam dianggap cewek nggak bener. Mengkritisi program Anies Baswedan, dibilang Ahokers. Kuliah di jurusan filsafat dianggap ateis. Umur 25 ke atas masih jomblo dibilang nggak laku dan kesepian. Di bangku SMA, dia yang mengunjungi ruang BK dianggap anak bermasalah. Dan konsultasi ke psikolog pastinya dianggap ora waras alias stres menjelang gila.

Mungkin karena itu juga orang-orang terlalu takut untuk konsultasi psikologis karena takut dianggap gila. Hingga akhirnya berita-berita orang bunuh diri menghiasi media massa.

Curhat di media sosial di-bully, kepada teman dekat pun tak membuat lega hati. Mengungkapkan kecemasan malah dibilang lebay

Advertisement

Stres dan tekanan via www.sciencedaily.com

Kadang saat mendengar atau membaca berita orang bunuh diri, saya merasa makseerr dalam hati. Dalam pikiran saya, mungkin saja dia yang bunuh diri itu sebelumnya sudah mencoba curhat ke teman, tapi dibilang lebay. Sudah berusaha menjerit di media sosial, tapi malah dibilang alay. Sudah menunjukkan gejala-gejala tertekan dan depresi, tapi dibilang cari perhatian. Saya memang nggak kenal dengan yang bunuh diri, tapi sekali atau dua kali, mungkin saya pernah juga mengabaikan teman yang sedang galau luar biasa.

Permasalahan setiap orang memang berbeda-beda. Ada yang merasa hidupnya selesai setelah putus cinta. Ada yang merasa hidupnya tak berarti saat gagal mendapat pekerjaan impian. Nggak ada standar mutlak untuk menentukan persoalan A lebih berat dari persoalan B kan? Karena kita nggak pernah tahu bagaimana beratnya orang lain menghadapi persoalan itu. Mirip dengan soal jatuh cinta lah. Selera setiap orang berbeda, persoalan setiap orang berbeda.

Terkadang saya memang merasa gila, tapi apakah orang gila tahu bahwa dirinya gila?

Kekacauan saat susah tidur

Jadi apakah saya ini gila? Mungkin saja. Karena ada kalanya saya merasa begitu banyak suara di kepala. Ini itu semua dipikirkan, padahal kalau dipikir-pikir lagi sebenarnya nggak penting juga. Atau mungkin saya hanya stres saja? Bisa jadi. Kaum milenial zaman sekarang yang dibebani banyak tuntutan mulai dari gaya hidup sampai harus setor jodoh di pertemuan keluarga, siapa sih yang nggak stres?

Nah, menurut sumber-sumber yang saya pelajari, stres harus ditangani sebelum menjadi depresi bila:

  1. Moodswing-nya sudah mulai kebangetan
  2. Kehilangan motivasi, bahkan untuk sekadar bangun di pagi hari
  3. Jadi susah tidur dan pola makan pun berubah
  4. Gampang cemas karena hal-hal sepele (yang sebenarnya nggak ada)
  5. Sakit secara fisik
  6. Mulai berpikir soal kematian

Susah tidur itu nggak enak lho. Karena kalau nggak bisa tidur, saya akan cari kegiatan semisal membongkar rak buku tengah malam dan menyusunnya ulang sesuai abjad. Dan kebetulan saya ini orang yang lumayan gampang panik. Jadi ketika tanda-tanda itu mulai saya alami, dan ke dokter jadi kegiatan rutin setidaknya seminggu sekali, saya jadi berpikir satu hal: harus cari bantuan!

Saya memang butuh bantuan untuk terapi jiwa, tapi bukan berarti saya gila. Kami hanya orang-orang yang berusaha mengobati diri sendiri

Terkadang arus terlalu deras

Mungkin benar persoalan saya nggak seberapa dibanding orang-orang di luar sana. Dan mungkin benar juga, sebenarnya saya hanya butuh teman curhat. Tapi karena kecemasan-kecemasan itu, saya juga lebih mengenali diri sendiri. Curhat kepada teman kurang leluasa, sebab terkadang saya masih berpikir soal image diri. Tengsin ‘kan kalau dia tahu kita punya ketakutan-ketakutan tolol nggak masuk akal?

Karena itulah saya memilih untuk bertemu dan bercerita dengan orang asing. Toh, kepada orang asing, saya nggak punya kekhawatiran soal gengsi reputasi apalah-apalah itu. Meski tahu tanggal lahir dan latar belakang dari formulir yang saya isi, dia ‘kan nggak kenal saya. Jadi selain psikolog bisa membantu saya mencari tahu apa yang salah dengan diri saya, segala isi pikiran saya juga bisa keluar mrebes mili tanpa saringan bak tanggul jebol.

Memang sih kecemasan saya nggak langsung lenyap bagai disihir Harry Potter setelah saya konsultasi. Saya masih harus melakukan terapi dan banyak upaya untuk mengembalikan motivasi diri. Tapi seenggaknya saya lega, karena saya tahu apa yang salah dengan diri saya, dan saya sudah berusaha mencari jalan keluarnya.

Jadi apakah saya ini sedang menduakan Tuhan dengan menemui seorang psikolog daripada berkeluh kesah pada-Nya? Kalau memang iya, saya ingin menanyakan hal yang sama kepada mereka yang pernah berobat ke dokter karena masuk angin, pilek, atau penyakit-penyakit lainnya. Toh, selain berserah diri, Tuhan juga menyuruh kita untuk ikhtiar. Gimana saya bisa sembuh kalau saya cuma berdoa tanpa pernah berobat? Gimana saya bisa lolos interview kerja kalau saya hanya berdoa saja tanpa berusaha memperbaiki diri maupun CV? Gimana saya bisa kaya kalau saya cuma berdoa, tanpa pernah berusaha?

Tapi sudahlah. Kuliah di filsafat dibilang ateis, yowes. Konsultasi dengan psikolog dibilang menduakan Tuhan, biarin saja. Toh, soal hubungan saya dengan Tuhan, ya hanya saya dan Tuhan yang tahu. Orang lain ndak perlu tahu tho?

Masih bisa ketawa-tawa bareng teman

Jadi apakah dengan menjadi pasien di klinik psikologi, berminggu-minggu menjalani terapi untuk mengembalikan kesehatan hati, saya otomatis gila? Saya sih merasa masih waras karena masih ingat jobdesc pekerjaan dan lumayan bisa memadu-padankan pakaian. Sama seperti orang yang sedang masuk angin kemudian berobat ke dokter. Saya dan banyak pasien lainnya, hanyalah seseorang yang sedang sakit dan berusaha berobat.

Saya tahu bahwa hidup memang penuh lika-liku. Kalau mulus-mulus saja ‘kan justru kurang seru. Dan berusaha kembali berdiri setelah jatuh berkali-kali adalah bukti bahwa hidup adalah seni. Tapi ada kalanya kita tidak mampu sendiri. Jadi apa salahnya mencari bantuan agar persoalan terselesaikan? Toh, kita juga bukan Tuhan yang bisa melakukan segalanya sendirian.

Jadi tujuan dari curhatan ngalor-ngidul ini apa? Sepele sih. Intinya untuk orang-orang yang butuh bantuan psikologis, nggak usah ragu-ragu. Saya adalah “pasien” klinik psikologi, dan saya masih merasa waras.

#HipweeJurnal adalah ruang dari para penulis Hipwee kesayanganmu untuk berbagi opini, pengalaman, serta kisah pribadinya yang seru dan mungkin kamu perlu tahu 

Baca tulisan #HipweeJurnal dari penulis lainnya di sini!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

Penikmat kopi dan aktivis imajinasi

64 Comments

  1. Psikolog adalah tempat terbaik untuk curhat dan menemukan solusi jalan buntu di pikiran kita. :))

  2. Bbrp waktu lalu, sy putuskan utk bercerita kpd teman terdekat sy kalau sy butuh cerita ke ahlinya. Dan hanya ditanggapi dgn jawaban simpel: “ah ngapain sih? Emang kamu gila? Sama aku aja sini. Paling2 kasusnya sama.” dan dia tertawa setelahnya.

    Tidak, ini tidak sama. Fisik mulai sakit dan menolak utk menerima makanan masuk dlm bentuk apapun, terjaga hingga subuh, dan memutuskan utk bolos kerja berhari2. lantas dibilang “lebay. Udah umur segitu masih aja galau gajelas.”

  3. Nisaul Aulia berkata:

    Tapi ke psikolog membutuhkan biaya yg tidak bisa bilang kecil bukan? Dan tidak semuanya memiliki biaya untuk itu

  4. Kadang ga semua teman bz mjaga rahasia curhatan kita alhasil teman yg mulutnya ember pasti bkal bocorin curhatan kita ke org lain…itulah yg akhirnya membuat kita tetap mmendam uneg” di hati sampai akhirnya penuh dan kita g bisa mnampung semua itu…kdang curhat ke suami pun percuma responnya hanya “ngomong apa sih dek ga penting”

    Kata “ga penting” itu buat org lain…pdhal bagi kita hal tsb penting utk di bahas

  5. Annissa Zahara berkata:

    Artikel yang sungguh membangun. Buat yang lagi ngerasain hal yang sedikit banyak sama, kalian ga sendiri. Ayo cerita ke orang yang bisa dipercaya dan bisa fair lihat masalah, kalau memang tidak bisa ke psikolog karena kendala biaya.

    Karena sebenarnya pun ketidakseimbangan ini bisa kembali seperti semula karena upaya kita sendiri. Berusaha mengevaluasi diri yang mana pikiran yang mana perasaan. Dan apakah semua pikiran dan perasaan buruk yang muncul sebenarnya memang itu faktanya atau bukan.

    Semoga segera menemukan dirinya kembali.

    Terima kasih mba Pradnya!

  6. Tri Hidayati berkata:

    Menurut saya, teman curhat terbaik ialah Allah swt.???
    Karna tak ada respon yg lebih baik dibanding respon Allah swt. Itu menurut saya lho min. Maaf kalau ada yg tak berkenan?

  7. Pake bpjs bisa ke psikolog gak?????

  8. Kebanyakan orang setiap lihat atau tau ada orang lain yg mengalami depresi pasti bilangnya karena si yg depresi ini gak mau cerita dan tertutup. Padahal kadang ya kita mau cerita, mau banget malah, sayangnya gak ada tuh orang2 yg beneran mau mendengarkan dan tanpa ngejudge.

  9. Lebih baik ke psikolog. Bukan krn sy orang psikologi… Tp krn saya tau kadang kalau curhat ke temen cuma didengerin, hearing not listening. Kdg mereka justru membandingkan dgn hidup atau pengalaman mereka. Such as, “Kamu enak sih punya A, aku mah gapunya apa².” malah dicurhatin balik ?

    Kalau psikolog, cuma cerita pun akam dilistening. Minimal kita dpt efek terapeutik dlm prosesnya. Psikolog tidak menghakimi. Diikat sumpah profesi. Dan punya ilmunya.

    Krn terkadang curhat sm temen bisa bikin tambah depresi atau sakit hati.

  10. Sekarang di RSUD atau puskesmas yg punya poli kejiwaan bisa pakai BPJS mnak

CLOSE