Sempat marak di berbagai  media, kejadian mengenai pilot Citilink yang diduga mabuk saat akan menerbangkan pesawat dengan nomor penerbangan QG 800 jurusan Surabaya-Jakarta pada 28 Desember 2016 lalu. Setelah pemeriksaan dan penyelidikan dilakukan, tes alkohol dinyatakan negatif oleh pihak medis. Namun, para netizen memiliki dugaan dan spekulasinya sendiri yang mengarah pada psikotropika jenis baru bernama tembakau gorila. Jangan kaget dengan namanya, Hipwee telah merangkum apa yang perlu kamu ketahui tentang ‘obat’ yang diduga jadi dalang kasus Citilink sampai CEO-nya harus mundur.

1. Yuk kenalan dulu sama tembakau Gorila, sejenis tembakau atau rokok biasa yang terdapat ganja tiruan di dalamnya. Harusnya sih masuk dalam golongan narkotika

kalau kamu pernah ketiban gorila, mungkin kamu tahu rasanya

Kreatif banget bisa bikin obat yang efeknya ‘ketiban gorila’ via malesbanget.com

Tembakau ini bisa dinamakan tembakau gorila lantaran efek yang dihasilkannya bisa seperti ‘ketiban gorila’, alias membuat sang pengguna tak sadarkan diri. Dilansir dari Detik, Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebut bahwa jenis tembakau ini merupakan campuran antara tembakau atau rokok dengan ganja sintetis atau tiruan di dalamnya.

Ganja sintetis sendiri bisa dipahami sebagai produk yang sengaja dibuat untuk memberi efek menyerupai penggunaan ganja. Jadi, senyawa ganja sintetis yang berbentuk ramuan herbal ini dilarutkan dulu, kemudian diberi aseton dan disemprotkan pada herbal kering berupa tembakau tadi. Nah fenomena ganja sintetis inipun dianggap sebagai ganja versi murah atau bahkan ‘versi legal’. Ngeri ya?

2. BNN telah mengklasifikasikan tembakau gorila sebagai narkotika golongan I. Nah, ini bisa jadi jawaban pula kenapa si mantan pilot citilink itu sampai nge-fly dan kehilangan pekerjaannya

spekulasi yang cukup masuk akal sih, pasalnya si pilot ini memang senyum-senyum sendiri

Spekulasi yang cukup masuk akal sih, pasalnya si pilot ini memang senyum-senyum sendiri via angkasa.co.id

Advertisement

Setelah tembakau gorila ini ramai diperbincangkan, pihak BNN pun melakukan pemeriksaan di laboratoriumnya. Hasil yang didapat cukup mencengangkan, terdapat kandungan zat AB-CHMINACA yang merupakan salah satu jenis synthetic cannabinoid (SC) atau ganja sintetis yang dapat memberi efek kecanduan.

Karena termasuk narkotika jenis baru dan ditetapkan sebagai golongan I, tembakau ini pun masuk dalam tahap finalisasi undang-undang narkotika berdasar aturan Kementerian Kesehatan Nomor 13 tahun 2014 tentang Perubahan Penggolongan Narkotika. Kalau memang benar si mantan pilot Citilink menggunakan tembakau gorila, ya jelas saja tanda negatif muncul pada tes alkoholnya. Hingga kini serangkaian uji laboratorium masih diikutinya. Kita tunggu bersama ya, bagaimana hasil akhirnya.

3. Kata beberapa kalangan, efek yang ditimbulkan tembakau gorila bisa lebih dari penggunaan ganja. Efeknya adalah badan limbung dan berhalusinasi

siapa tahu kalau kebanyakan bisa berubah jadi gorila

Siapa tahu kalau kebanyakan bisa berubah jadi gorila via kaskus.co.id

Asal tembakau gorila belum diketahui hingga saat ini. Pemakaian pada tubuh seseorang hanya bisa diketahui melalui uji laboratorium, bisa melalui urine ataupun rambut, termasuk untuk mengetahui berapa jumlah yang telah ‘dikonsumsi’. Tentang efeknya, karena ini ganja tiruan, tentu nyaris serupa dengan pemakaian ganja aslinya.

Halusinogen akan dirasakan oleh para pengguna. Seperti rasa senang yang berlebihan, ditambah efek samping berupa rasa kaku pada sekujur tubuh seperti halnya tertimpa gorila. Hingga tubuh menjadi limbung, seolah keseimbangan berkurang dan jalan jadi sempoyongan. Pemakaian zat-zat yang menyebabkan euforia berlebih macam ini akan sangat berbahaya bagi otak dan jiwa manusia. Efek delusi juga akan muncul, yaitu ketakutan dan kecurigaan berlebih pada setiap orang di sekelilingnya. Jika sudah kecanduan, gangguan jiwa skizofrenia paranoid bahkan bisa diderita penggunanya. Gila karena mengonsumsi tembakau apa cukup keren di kalangan anak muda?

4. Mirisnya, bahkan sejak 2015 lalu, tembakau ini marak dipasarkan di sosial media. Beragam harga dan ‘variasi’ pun tersedia. Hati-hati buat kamu yang nggak bisa lepas dari dunia maya

karena apapun bisa dijual bebas di sosial media

Karena apapun bisa dijual bebas di sosial media via koranmerapi.blogspot.com

Sebelum dinyatakan positif mengandung ganja sintetis, tembakau gorila ini sudah marak dipasarkan melalui sosial media. Banyak orang terang-terangan menjualnya melalui Twitter, Facebook, dan Instagram. Ukuran penjualannya pun beragam. Bisa seperti ganja yang dihitung per gram atau seperti rokok yang dijual per batang. Harganya berkisar Rp 25 ribu/batang dan Rp 300-400 ribu per 10 gram. Dikatakan terang-terangan, karena sebagian besar penjual menggunakan akun dengan yang tak jauh dari kata tembakau dan gorila. Yaiyalah berani, kan belum ada undang-undangnya.

Teruntuk remaja pengguna gadget dan aktif di sosial media, yang selektif ya follow akun-akunnya. Betapa makin maraknya varian narkotika yang hadir di Indonesia saat ini. Bahkan di kota Yogyakarta, ada juga penjual yang mengirimkan tembakau gorila melalui jasa go-jek lho.

5. Yang kamu perlu tahu, ternyata larangan tentang narkotika ini berbeda-beda di setiap negara. Ini alasan mereka yang melegalkan dan Indonesia yang melarang

karena setiap negara punya alasan untuk melegalkan dan melarang

Setiap negara punya alasan untuk melegalkan dan melarang via indowarta.com

Sebutlah di Belanda dan Meksiko sana, dua negara ini begitu terkenal dalam legalisasi ganjanya. Tepatnya di Amsterdam, kamu akan menemui warga yang menghisap ganja dengan bebas dan tenang di kafe-kafe. Bahkan di Meksiko, psikotropika termasuk heroin dan kokain juga dilegakan. Alasannya karena terlalu banyak pasar gelap yang meningkatkan angka kriminalitas.

Karena itulah di dua negara ini kamu bisa mendapat narkoba dengan harga yang relatif murah. Tapi kepemilikin ganja atau narkotika untuk setiap individunya juga dibatasi. Menjadi menarik ketika ternyata data menunjukkan bahwa tidak ada peningkatan kecanduaan para pengguna di sana. Yang ada justru berkurangnnya kekerasan dan kematian karena overdosis.

Sementara di Indonesia, penggunaan narkotika jelas dilarang karena efek samping dinilai membahayakan bagi kesehatan manusia. Selain dapat berujung pada kerusakan mental, penggunaan zat ini juga dapat berujung kematian. Tentu saja kemudian penggunaannya dianggap pembodohan dan merusak generasi bangsa. Sekali lagi yang selektif ya dalam bersosial media. Jangan asal belanja online aja, teliti dulu apa kandungan produknya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya