Di Balik Seringnya Orang Berbohong meski Nggak Punya Motif Jelas. Mengapa Patut Diwaspadai?

jenis jenis berbohong

Setidaknya sekali dalam seumur hidup nih, kita pasti pernah berbohong. Biasanya, kita terpaksa berbohong demi menghindari perasaan nggak nyaman ketika berkata jujur. Apalagi, bila kejujuran tersebut menyebabkan kita dipandang atau diperlakukan buruk oleh orang sekitar, seperti dimarahi orang tua atau dikucilkan teman.

Namun, pernahkah kamu melihat orang yang suka berbohong meski nggak punya motif yang jelas? Misalnya, dia mengaku punya kekasih dan sering kali berpura-pura sedang meneleponnya. Di hari yang lain, dia bilang sedang di luar negeri, tapi kepergok tengah membeli jajan di dekat rumah. Tak sampai di situ aja, tanpa ada sebab nih, dia tiba-tiba mengatakan bisa melihat hantu.

Bahkan, dia berbohong untuk hal-hal kecil yang sebenarnya nggak berisiko sama sekali bila diungkapkan apa adanya. Eh, dia malah memilih merangkai cerita palsu. Walaupun udah ketahuan, ia tetap percaya diri dan melanjutkan kebohongannya.

Awalnya, kebohongan tersebut tak merugikan, tapi lama-kelamaan orang sekitar pun jengah. Pasalnya, mereka nggak bisa lagi membedakan mana ucapannya yang termasuk kebenaran dan mana yang kebohongan. Nah, punya kenalan atau teman yang kerap berbohong soal hal sepele nyatanya dialami oleh banyak orang nih, SoHip. Bahasan ini juga sempat ramai di Twitter pekan lalu.

Apakah kamu juga punya pengalaman serupa?

Ternyata, perilaku orang yang suka berbohong dan cenderung nggak punya motif sama sekali memang memiliki istilahnya sendiri. Berbeda dengan tipe-tipe pembohong yang lain, tipe ini perlu diwaspadai karena sangat lihai. Kok bisa, ya? Yuk, simak penjelasan dari Hipwee Premium berikut ini!

Kalau dilihat dari kelihaiannya, ada empat jenis pembohong di dunia ini. Pembohong yang nggak punya motif jelas dianggap kasta paling tinggi

Jenis-jenis pembohong | Illustration by Hipwee

Kebohongan sebenarnya hal lumrah. Siapa pun bisa melakukannya. Bahkan, beberapa kebohongan masih dimaklumi bila tujuannya untuk kebaikan, SoHip. Contohnya nih, kamu mengatakan terima kasih setelah mendapatkan hadiah meski sebenarnya kamu nggak suka dengan barang pemberian itu. Demi menjaga perasaan orang lain dan tetap berlaku sopan, kamu pun berbohong.

Kebohongan tersebut umumnya spontan dan nggak merugikan. Orang yang melakukannya termasuk pembohong jenis pertama nih. Jadi, ada empat tipe pembohong berdasarkan kelihaiannya menurut Paul Ekman, psikolog ekspresi wajah, dinukil dari Telegraph.

  • Pembohong kecil-kecilan (little white liars)

Tipe ini tergolong pembohong paling umum yang bertujuan agar hidupnya lebih mudah. Dibandingkan tipe yang lain, tipe pertama ini tidak berbahaya. Soalnya, kebohongan dilakukan saat berinteraksi sosial sehari-hari dan tanpa direncanakan, terkadang untuk menjaga hubungan tetap harmonis.

  • Pembohong hipokrit

Lantaran menghindari situasi yang nggak nyaman, canggung, dan pengin tampil menyenangkan, orang akan berbohong. Jika demikian, maka ia termasuk pembohong hipokrit (dissembler).

  • Pembohong kompulsif

Bagi pembohong tipe ini, kebohongan sudah menjadi kebiasaan. Sering kali motif pembohong didorong oleh perasaan nggak aman dan ingin tampil lebih menawan dibandingkan orang lain. Tipe ini juga termasuk pembohong yang masih nggak merugikan.

  • Pembohong patologis

Menurut Ekman, inilah pembohong yang paling lihai sekaligus berbahaya. Tipe ini tampak dingin dan tentunya penuh perhitungan karena memang merencanakan kebohongannya. Tak ayal, tindakannya sering merugikan orang lain. Melansir Medical News Today, tipe ini mempunyai ciri utama, yakni nggak memiliki motif yang jelas. Kebohongan patologis terjadi tanpa alasan dan terlihat tidak menguntungkan bagi si tukang bohong.

Mengutip Hello Sehat, kebohongan patologis, disebut juga mythomania syndrome atau psedulogia fantastica adalah kondisi penderita yang sudah terbiasa berbohong dan nggak bisa mengendalikannya lagi. Alih-alih menyatakan kebenaran, dia suka berbohong dalam jangka waktu yang lama meski untuk hal-hal yang nggak penting sekalipun.

Selain itu, pembohong jenis ini nggak memiliki motif atau alasan untuk berbohong. Setelah kebenarannya terungkap, ia pun tetap sulit untuk mengakuinya.

Walaupun memulai kebohongan dari sesuatu yang kecil, pembohong patologis patut diwaspadai

Seperti ulasan Medical News Today, pembohong patologis memiliki sifat kompulsif dan kemungkinan besar memulai kebohongan dari hal yang kecil. Awalnya sih, kebohongannya tampak biasa dan nggak merugikan siapa pun. Namun, secara bertahap, kebohongan ini menjadi lebih rumit dan dramatis. Apalagi, bila pelaku ingin menutupi kebohongan sebelumnya.

Tim Dalam Artikel Ini