6 Hal Menarik Perihal Menemukan Cinta di Era Pandemi. Masih Ada kok yang Bisa Ketemu Jodohnya

Mencari cinta di era pandemi

Pandemi Covid-19 secara telak telah menghantam segala lini kehidupan, termasuk mungkin urusan cinta dan asmara. Untuk yang sedang pacaran, mungkin cuma hilangnya waktu bertemu yang jadi persoalan paling bikin rindu. Tapi bagi yang masih PDKT, situasi pandemi ini lebih mengerikan untuk masa depan asmaranya. Ada banyak kegiatan yang biasanya jadi jalan ampuh pendekatan, namun hari ini nggak bisa dilakukan. Lobi-lobi seperti ngajak nonton atau ngopi misalnya.

Advertisement

Meski begitu, antropolog sekaligus peneliti perilaku manusia Helen Fisher, justru berpendapat kalau pandemi ini bisa jadi berkah terselubung dalam persoalan asmara. Helen yang 15 tahun terakhir jadi kepala penasihat sains di situs kencan Match.com, mengungkapkan bahwa pandemi telah mengubah proses pacaran orang-orang dengan beberapa hal positif. Misalnya, orang yang lagi pdkt saat swakarantina jadi punya waktu lebih untuk mengenal gebetannya demi mendapatkan pasangan yang benar-benar cocok. Nah, melansir The New York Times, berikut 6 hal menarik seputar menemukan cinta dan perubahan gaya PDKT selama pandemi.

1. Sebelum pandemi, video call-an untuk pdkt mungkin dianggap creepy tapi sekarang itu dianggap kenormalan baru. Banyak orang beralih ke metode ini untuk menggantikan komunikasi tatap muka

Photo by Edward Jenner from Pexels via www.pexels.com

Selama pandemi, perkembangan teknologi telah memungkinkan komunikasi bisa lancar meski aktivitas harus dilakukan dari rumah masing-masing. Dari sekian banyak teknologi yang bermanfaat di masa pandemi, obrolan video jadi salah satu primadona. Hari ini orang-orang memilih obrolan video sebagai perantara untuk urusan kerjaan hingga bahkan mencari pasangan. Yang sebelumnya cenderung memilih bertukar pesan lalu kemudian bertemu, sekarang jadi lebih terbuka dengan obrolan video meski belum pernah bertatap muka.

Fakta tersebut dapat disimpulkan dari hasil survei yang dilakukan situs Match.com. Seperti dikutip Helen, sebanyak 6.004 pria dan wanita selama pandemi mengaku mencoba banyak hal baru dalam urusan mencari pasangan, termasuk dengan menggunakan obrolan video yang sebelumnya cenderung dihindari. Helen mengatakan jumlah tersebut berarti sebanyak 69 persen pengguna Match yang sebelumnya lebih nyaman untuk melakukan pertemuan langsung, sekarang jadi lebih terbuka dengan medium baru seperti obrolan video.

2. Berdasarkan pengamatan, ini adalah dua hal besar dalam PDKT yang hilang karena pandemi

Photo by Josh Willink from Pexels via www.pexels.com

Dalam kondisi pandemi, ada dua hal dalam pacaran masa kini yang paling terpengaruh. Pertama, kedekatan fisik seperti bersentuhan atau bergandengan tangan yang mungkin didamba setiap pasangan, sayangnya nggak bisa didapatkan.

Dan yang kedua adalah keuangan. Meski nggak berlaku untuk setiap orang, uang adalah satu persoalan yang kadang kala pelik bagi yang lagi pdkt terutama para anak kost. Mau ngajak nonton tapi lagi akhir bulan. Mau ngajak ngopi, risikonya nggak makan malam. Nah, menurut Helen, negosiasi perkara uang ini di masa pandemi hanya tinggal sejarah. Kamu nggak perlu bingung mikirin uang jajan bulanan yang harus dipotong untuk ngajak si dia jalan. Tinggal ajak video call dan siapkan paket data aja~

3. Swakarantina membuat pasangan yang lagi PDKT punya lebih banyak waktu untuk pembicaraan bermakna

Photo by Andrea Piacquadio from Pexels via www.pexels.com

Memiliki banyak waktu adalah kemewahan dalam hidup yang singkat ini. Hal itu setidaknya bisa kamu dapatkan selama pandemi. Helen mengatakan, alih-alih menggunakan waktu untuk obrolan ringan, mereka yang PDKT di masa pandemi punya kecenderungan menggunakan waktunya untuk obrolan yang jauh lebih bermakna seperti tentang ketakutan dan harapan, serta mengenal hal-hal penting tentang calon pasangan. Menurut para psikolog, pengungkapan diri lewat obrolan bermakna ini bisa memicu kedekatan, cinta, dan bahkan komitmen. Coba diingat, kamu yang lagi PDKT banyak ngobrolin apa nih?

Advertisement

4. Proses mencari pasangan selama pandemi harus lebih kenal batas

Photo by Yogas Design on Unsplash via unsplash.com

Sebelum pandemi merebak, banyak dari kita yang bablas memanfaatkan teknologi seperti aplikasi kencan daring. Bablas artinya adalah terlalu banyak dan bersemangat untuk swipe dan stalking medsos calon gebetan demi mencari pasangan yang sempurna. Padahal menurut Helen, otak manusia nggak didesain untuk mencerna begitu banyak pilihan. Ada yang namanya paradoks pilihan yakni kondisi di mana sistem memori jangka pendek kita nggak bisa menerima lebih dari lima hingga sembilan rangsangan sekaligus.

Jadi untuk kamu yang lagi berusaha menemukan cinta di tengah corona dengan memanfaatkan media sosial, Helen menyarankan untuk berhenti di hitungan sembilan. Maksudnya, kalau kamu sudah ngobrol dengan sembilan orang yang dianggap cocok, hentikan kegiatan mencari-cari, lalu kenali lebih baik satu di antara sembilan orang tersebut.

5. Cinta yang muncul pada masa pandemi cenderung berjalan lebih lambat. Ternyata ini merupakan hal yang positif lo untuk sebuah hubungan

Photo by Retha Ferguson from Pexels via www.pexels.com

Lambat di sini maknanya sangat positif loh. Dari perspektif evolusi, Helen menjelaskan kalau cinta yang lambat itu bersifat adaptif karena otak dan perasaan manusia secara lembut akan terpaut dengan calon pasangan. Jadi secara sederhana, respon yang cepat dan buru-buru dalam pdkt pada akhirnya hanya akan membawamu pada cinta romantis belaka. Sementara pendekatan yang dilakukan secara lambat dan bertahap akan membawamu pada ikatan perasaan yang lebih erat. Kabar baiknya, kesempatan untuk meresapi cinta yang lambat bisa kamu dapatkan selama pandemi ini.

6. Pernikahan yang tertunda pun dinilai bisa berdampak baik bagi kelanggenggan rumah tangga

Photo by Sandro Crepulja from Pexels via www.pexels.com

Nggak dimungkiri, pandemi telah bikin banyak pernikahan batal. Kalau kamu juga mengalaminya, nggak perlu berkecil hati dan tetap nikmati masa pacaranmu sampai situasi stabil untuk melangsungkan pernikahan. Karena menurut data yang dikumpulkan Helen dari Buku Tahunan Demografis PBB antara tahun 1947 hingga 2011, semakin lama seseorang berada dalam tahap pacaran sebelum akhirnya menikah, semakin besar pula kemungkinannya langgeng dalam pernikahan. Memang, jalannya hubungan nggak ada yang tahu. Tapi data tersebut setidaknya bisa jadi acuan. Helen juga mengungkap data yang membandingkan pasangan yang pacaran selama satu atau dua tahun sebelum menikah, punya kemungkinan 20 persen lebih kecil untuk bercerai daripada mereka yang pacaran kurang dari satu tahun lalu menikah.

Pertemuan fisik memang punya kesan tersendiri dalam sebuah hubungan. Dan alternatif virtual tentunya juga telah memangkas indahnya kasmaran dalam proses pendekatan. Meski begitu, sekarang kita sedang berada dalam tahapan baru dalam upaya menemukan tambatan hati. Nggak ada salahnya dinikmati, kan? Perlu diingat, hubungan yang lebih bahagia dan langgeng akan menanti ketika pandemi ini mereda. Semangatmu melewati rintangan demi cinta sejati lagi diuji, nih!

Sudah waktunya kita lebih peduli, kenal, dan memahami virus corona yang sudah hidup di antara kita. Dapatkan E-book Panduan Normal yang Baru di sini.
Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

colour my life with the chaos of trouble

Editor

Learn to love everything there is about life, love to learn a bit more every passing day

CLOSE