Di samping banyaknya jumlah korban dan kerusakan yang ada pasca tsunami, satu hal yang membuat kita sedih berkali-kali lipat adalah melihat bagaimana sistem peringatan dini kebencanaan di Indonesia sering gagal menjalankan fungsinya. Dari kabar bahwa banyak buoy tsunami yang rusak, dicuri, dan tidak operasional sejak tahun 2012 pasca tsunami Palu kemarin, sampai tahu kalau BMKG ternyata tidak punya akses ke data aktivitas vulkanik yang ternyata juga bisa memicu tsunami Selat Sunda yang mematikan. Apalagi ada beberapa pejabat pemerintah yang suka bercerita soal betapa mahalnya alat-alat atau instrumen deteksi dini tsunami dan biaya maintanance-nya. Padahal mengingat betapa tingginya risiko bencana di negeri ini, hal tersebut jelas wajib diprioritaskan 🙁

Walaupun memprediksi datangnya bencana memang sangat sulit dan bahkan terkadang mustahil, tapi kita pastinya tidak bisa tidak kecewa ketika mendengar berita-berita seperti di atas. Nah sebenarnya seperti apa sih sistem peringatan dini tsunami yang dimiliki Indonesia? Jika memang buoy-buoy itu sudah tidak beroperasi, terus bagaimana caranya sistemnya berjalan? Tahun depan pemerintah juga berjanji akan membuat sistem baru yang lebih efektif untuk menghadapi bencana. Kali ini Hipwee News & Feature sudah meringkasnya buat kamu, biar lebih mudah dipahami. Yuk, simak!

*Tsunami –> berasal dari bahasa Jepang yang berarti ‘tsu’ itu pelabuhan dan ‘nami‘ ombak atau gelombang.

Indonesia sebenarnya punya InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System). Sistem peringatan dini tsunami ini sudah dipakai sejak 2008 untuk mendeteksi gempa dan tsunami

InaTEWS memanfaatkan seismograph via www.daviddarling.info

Advertisement

InaTEWS dibangun tahun 2006 dan diluncurkan pada 2008. Kalau kata Pak Sutopo, Kepala Pusat Data dan Humas BNPB, walau tanpa buoy, InaTEWS ini tetap bisa berjalan. Caranya dengan memanfaatkan pemodelan yang dibangkitkan dari jaringan seismik gempa yang terdeteksi lewat seismograf. Sekitar 2-5 menit setelah gempa terdeteksi, InaTEWS atau BMKG akan memberikan peringatan dini secara luas kepada masyarakat, apakah gempa itu berpotensi tsunami atau tidak.

Terus setelahnya, Indonesia sempat mendapat hibahan buoy dari Jerman, Amerika, dan Malaysia. Tapi sayang, alat-alat pendukung sistem peringatan dini tsunami ini banyak dicuri dan rusak sejak 2012

Banyak yang dicuri via www.bbc.com

Pada dasarnya, buoy ini semacam alat yang terapung di laut. Fungsinya buat merekam aktivitas gelombang di laut yang tidak biasa. Dilansir BBC, kita dulu pernah punya 22 buoy, tapi sejak 2012 alat-alat itu rusak, sebagian juga ada yang dicuri. Sudah 6 tahun tidak ada perbaikan, pihak terkait berdalih kalau ongkos pemasangan atau pemeliharaan buoy ini terlalu mahal. Melihat bagaimana besarnya kerugian dan tentu saja banyaknya nyawa yang melayang pasca bencana-bencana ini, kita sepertinya tidak perlu lagi deh membicarakan apakah investasi mitigasi dan peringatan dini tsunami itu terlalu mahal atau tidak.

Kalau risiko bencana Indonesia itu termasuk yang tertinggi alias nomor satu di dunia, kita sudah seharusnya memiliki sistem peringatan dini yang wahid juga. Bukan setengah-setengah tanpa buoy dan berdali ‘toh ‘kan masih bisa diprediksi‘.

Dan ternyata, begini lo cara kerja buoy yang sering disebut-sebut belakangan ini

Cara kerja buoy via www.vssyamlal.com

Advertisement
  1. Ketika ada perubahan tekanan di bawah laut atau tinggi air laut berubah, alat pengukur di dasar laut (ocean bottom unit) akan mengirim sinyal ke buoy (yang ada di permukaan laut)
  2. Selanjutnya, buoy akan meneruskan sinyal perubahan itu ke satelit pusat peringatan tsunami di luar angkasa — setiap negara punya pusat peringatan di satelit navigasinya
  3. Setelah itu, giliran satelit yang bertugas mengirim data* ke stasiun pusat di darat. Kalau di Indonesia mungkin kayak BMKG atau BNPB gitu ya
  4. Kalau memang berpotensi tsunami, nantinya badan-badan terkait itu akan mengeluarkan alarm peringatan dini tsunami. Jadi kita yang di darat bisa bersiap sedini mungkin

*Seperti disebutkan CNN, data yang dibaca satelit dan dikirim ke bumi ini lengkap banget, mulai dari kondisi atmosfer dan perairan, temperatur, arus dan tinggi gelombang, sampai salinitas atau tingkat kadar garam. Lewat data ini, badan-badan terkait kebencanaan bisa menyimpulkan apakah gempa itu berpotensi tsunami atau tidak.

Selain InaTEWS tadi, ternyata Indonesia juga punya tide gauge lo. Itu lo perangkat mirip tabung yang biasa terpasang di pesisir pantai. Tugasnya mencatat perubahan permukaan laut waktu tsunami terjadi

Tide gauge station via inatews.bmkg.go.id

Kalau kata Weniza, Kasubdit Peringatan Dini Tsunami BMKG, seperti dilansir dari CNN, Indonesia sebenarnya bisa mendeteksi tsunami tanpa buoy. Caranya ya pakai InaTEWS dengan didukung tide gauge tadi. Sekarang ini kabarnya kita memiliki 137 tide gauge yang tersebar di peissir-pesisir pantai Indonesia. Tapi ya itu, kayaknya alat-alat yang kita punya sekarang belum bisa mendeteksi tsunami yang disebabkan longsor bawah laut dan erupsi vulkanik deh… Belum lagi kabarnya, beberapa tide gauge di Palu malah dilaporkan ‘off’ waktu tsunami bulan September kemarin.

Ya kalau dilihat dari efektivitas dan kualitasnya, kemungkinan Indonesia masih butuh yang namanya buoy. Selain lebih presisi, buoy juga bekerja secara real time

Kita masih butuh buoy via www.bbc.com

Melihat keterangan yang disampaikan Weniza di video CNN di atas, kok kayaknya tide gauge ini baru ‘on’ setelah air laut sampai permukaan alias sudah ada tsunami ya? Melihat kecepatannya deteksinya yang cenderung “lambat” ini, sepertinya sih kita beneran butuh buoy. Soalnya buoy ini bisa mengirimkan sinyal terkini saat ada gelombang yang diduga tsunami muncul. Buoy akan mengirim sinyal ke pusat monitoring secara real time.

Belajar dari Jepang, sebagai sesama negara rawan tsunami, selain buoy, Jepang juga punya teknologi CBT (Cable Based Tsunameter), ini semacam kabel yang ditanam di bawah laut gitu. Dua alat ini saling melengkapi, baik fungsi dan kegunaannya, jadi deteksi dini akan semakin presisi dan akurat. Meskipun pemasangannya mahal, tapi tidak ada salahnya Indonesia berinvestasi pada alat-alat canggih itu.

Di Jepang pada dapat SMS gini via dews.gfz-potsdam.de

Selain itu, di Jepang, sistem komunikasi peringatan dininya lebih personal. Setiap warganya akan menerima pesan di ponsel masing-masing bahwa akan terjadi bencana dalam beberapa menit ke depan. TV, radio, bahkan loudspeaker juga sibuk memberitakan ancaman bahaya ini. Jadi mereka bisa lebih siap menghadapi. Tapi ya mau gimanapun sistemnya, tentu sistem itu tidak bisa bergerak sendiri. Butuh dukungan banyak pihak. Kalau memang suatu daerah ada di zona merah, ya jangan lagi dibangun gedung tinggi~

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya