“Woi fokus dong, dasar autis!”

Adakah yang pernah mendengar seseorang dengan mudahnya melontarkan ungkapan tersebut sebagai sebuah candaan? Pasti ada. Saya sendiri pernah mendengar penggunaan kata autis sebagai candaan waktu masih SMA. Waktu itu, saya mendengar candaan semacam itu langsung dari mulut seorang guru PKN di tengah jam pelajaran. Dengannya, suasana kelas kerap tegang karena dikenal sebagai seorang guru killer. Tapi karena candaannya itu, hampir semua teman-teman sekelas saya tertawa. Entah karena lucu, entah terpaksa.

Saya salah satu orang yang tidak tertawa. Kebetulan teman saya punya keponakan yang tak seberuntung orang kebanyakan. Rumahnya masih satu komplek dengan saya. Dan hampir setiap hari, setiap hendak keluar atau masuk komplek, saya pasti lewat depan rumah. Tak jarang pula saya menemukan ia sedang mengasuh keponakannya yang memang mengalami autisme di depan rumahnya. Itulah alasan mengapa saya memilih untuk tak tertawa.

1. Tolong mulailah peka. Tak semua dilahirkan seberuntung kita, siapa tahu orang di sekitar kita punya rekan atau keluarga yang mengidap autisme.

Hati-hati dalam bercanda. via www.autism.org.uk

Saya gak habis pikir, kenapa bisa dijadikan bahan candaan. Apakah orang-orang yang menggunakan kata autis dalam bercanda pernah mikir soal efeknya? Kita ngga pernah tahu perasaan mereka yang memiliki anggota keluarga yang mengidap autisme. Jadi sebaiknya sebisa mungkin menjaga sikap agar tak membuat mereka tersinggung.

Advertisement

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan lembaga kesehatan masyarakat nasional terkemuka Amerika Serikat, Centers for Disease Control and Prevention (CDC), jumlah penderita autis adalah satu persen dari jumlah populasi manusia di bumi. Jika pada September 2014 jumlah populasi di bumi ada 9,6 milyar, maka ada 96 juta orang yang mengidap autis.

Hati-hatilah dalam berucap. Maksudnya mungkin bercanda, tapi orang yang punya kedekatan dengan pengidap autis pasti berharap candaanmu tak seperti itu.

2. Kalau emang mau mencari istilah untuk mereka yang ngga peka sama lingkungan sekitar, pakai kata zombie aja. Jangan pake kata autis lagi buat candaan!

People nowadays. via static1.squarespace.com

Canda itu ada batasnya. Hati-hati dengan apa yang kita lontarkan lewat mulut. Seorang komika terkenal Indonesia, Pandji Pragiwaksono, dalam blognya bahkan pernah menyinggung penggunaan kata ‘autis’ sebagai sebuah candaan. Ia bilang orang yang becanda seperti itu adalah orang yang sangat tidak sensitif.

Bila keadaan seorang asik sendiri dengan gadgetnya, sampe gak peduli sama lingkungannya, hanya bisa mementingkan diri sendiri daripada orang sekitar, gak etis kalo disamakan dengan kata autis. Orang itu cuek, beda dengan autis. Saya akan lebih setuju menyebut orang itu dengan sebutan zombie, yang ngga peduli sama lingkungan sekitar.

 

3. Autisme bukan penyakit, justru autis sangat unik. Mereka mempunyai cara sendiri dalam melihat dunia. Ngga selamanya yang berbeda itu buruk kan?

Kreator Pokemon, Satoshi Tajiri, yang juga seorang penyandang autis.

Gejala utama autis adalah adanya gangguan kemampuan interaksi sosial dan emosional, kemampuan komunikasi, dan keterbatasan pola tingkah laku disertai gerakan–gerakan berulang tanpa tujuan. Namun, tahukah kamu bahwa di balik kekurangan tersebut, seorang seorang autis memiliki cara pandang berbeda dengan orang-orang biasa? Banyak dari mereka punya kemampuan luar biasa dalam keterampilan visual, musik dan keterampilan akademik. Makanya individu dengan autisme sering disebut unik.

“Saya tidak nakal, saya autis. And I just get too much information.”

4. Dan kamu juga perlu tahu, sekitar 40 persen penyandang autis memiliki kemampuan intelektual yang berada di atas rata-rata.

Pria yang berjuluk Brainman ini juga penyandang autis. via www.principiacreativa.es

Buat orang yang sering menggunakan kata autis sebagai candaan, tolong mulai sekarang hentikan kebiasaan itu. Sebuah penelitian yang dilakukan Autism Speak menyebut 40 persen penyandang autis memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata orang biasa.

Salah satu contohnya adalah Daniel Tammet. Penulis, linguist, sekaligus pendidik tersebut dinobatkan sebagai salah satu dari 100 orang jenius yang masih hidup di dunia. Julukan ‘Brainman’ pun tak tanggung-tanggung disematkan pada Tammet.

5. Tonton film ini deh. Kamu pasti bakal lebih menghargai kata autis dan gak bakal pakai buat candaan lagi.

“I think in pictures and I connect them.” via media.salon.com

Untuk siapa saja yang masih atau pernah menggunakan kata autis sebagai candaan, mending tonton film berjudul Temple Grandin deh. Belum lama ini, saya menonton film yang menceritakan kisah seorang wanita autis yang menjadi salah satu ilmuwan top di industri peternakan.

Dalam sekali tayangan, kesan saya terhadap film tersebut langsung baik. Bahkan lebih. Saya gak ragu buat bilang kalau film itu salah satu film terbaik yang pernah saya tonton. Teknik pengambilan gambarnya pun bakal membuat kamu kagum.

My name is Temple Grandin. I’m not like other people. I think in pictures and I connect them.

Film yang mengangkat tentang autis memang banyak. Salah satunya, My Name is Khan. Namun soal film yang bisa membuat kita lebih dan lebih menghargai tentang autis, Temple Grandin adalah jawabannya.

Saya tidak sedang berkhotbah atau apalah sejenisnya, tapi ingin mengajak kita semua lebih peka terhadap perasaan mereka yang tak sama dengan kita. Berbeda bukan berarti buruk, justru itu yang mengajarkan kita untuk terus saling menghargai. Bukan cuma penggunaan kata autis, kata cacat atau idiot sebagai candaan adalah hal yang sangat haram bagi saya. Ingatlah kalau ucapan adalah doa.