Dua bulan pasca lulus kuliah dan langsung dapet kerjaan pertama di startup dengan tim yang (baru) berisi lima orang rasanya lega luar biasa. Masalah gaji pas UMR, itu urusan belakangan. Selagi muda, tugas apa pun siap disikat demi membuktikan diri.
Dari sinilah status karyawan palugada resmi menempel. Berhubung cuma ada dua orang tim developer yang sibuk urus kodingan aplikasi, sisa pekerjaan acak di luar itu otomatis ketiban ke sisanya.
Hari ini mendadak pegang sosmed, besok gerilya cari klien door to door, lusa berubah jadi event organizer. Awalnya ada rasa bangga karena merasa punya sense of ownership yang kuat ikut bangun bisnis dari nol.
Tapi antusiasme polos begitu ada tanggal kedaluwarsanya. Peran serba bisa yang dulunya terasa keren, lama-lama berubah jadi beban. Bertahan bertahun-tahun tanpa batasan fungsi yang jelas ini perlahan bikin capek dan fokus utama pelan-pelan hilang.
Niat lepas status karyawan palugada, realitanya makin dituntut serba bisa

Sebagai fresh graduate, kerjaan pertama itu membanggakan | Foto via Getty Images @ERphotographer
Seiring berjalannya waktu, kantor mulai berkembang sampai punya sekitar sepuluh orang karyawan. Harapannya, pembagian tugas bisa makin rapi dan urusan jobdesk tiap orang jadi lebih spesifik. Tapi kenyataan di lapangan berbanding terbalik.
Masalah baru muncul waktu atasan mulai micromanage hampir di semua urusan kecil. Bukannya memberi arah strategis yang jelas mau dibawa ke mana produk ini, keputusan manajemen justru sering berubah dan bikin bingung.
Akhirnya, demi menjaga operasional tetap jalan, kami yang ada di tim harus cari akal dan inisiatif sendiri. Mulai dari merancang ideasi, development aplikasi, menyusun strategi promosi, sampai mencari jalur klien baru, semuanya kami kerjakan sendiri tanpa panduan pasti.
Di sinilah tuntutan multitasking sebagai karyawan palugada bukannya berkurang, malah makin jadi rutinitas wajib. Pola kerja serba bisa ini terus berulang dan bertahan bertahun-tahun, murni karena ketiadaan arah yang jelas dari atas. Lama-lama, batas tanggung jawab profesional pun jadi makin kabur.
Ternyata rasa memiliki saja nggak cukup buat bayar rasa lelah

Jadi karyawan palugada ternyata capek banget | Foto via Pinterest @mariahenriques
Bertahan di posisi yang sama selama hampir delapan tahun tentu bukan waktu yang singkat. Selama itu pula, sense of ownership atau rasa memiliki yang kupelihara sejak awal selalu jadi alasan utama buat bertahan.
Ada kebanggaan tersendiri saat melihat tim yang dulu cuma diisi enam orang kini bisa terus berjalan. Sayangnya makin ke sini, benteng pertahanan itu mulai goyah juga. Momen titik balik itu datang saat kesadaran pahit mulai menampar.
Selama bertahun-tahun berinisiatif mengambil peran apa saja demi kelangsungan produk, ternyata pengorbanan itu dianggap sebagai hal yang biasa. Ketika pekerjaan serba bisa ini sudah dianggap standar kewajiban sehari-hari, apresiasi yang diharapkan nggak pernah benar-benar ada.
Di situlah aku sadar, menjadi karyawan palugada atas dasar loyalitas semata ternyata punya batas kedaluwarsa. Kerja keras melampaui batas tanggung jawab tanpa diimbangi dukungan arah manajemen dan kejelasan karier cuma bakal berujung pada burnout.
Rasa memiliki yang dulu dibangga-banggakan akhirnya habis tergerus rasa lelah yang menumpuk saban hari.
Ketika effort kerjaan terasa makin nggak seimbang

Tentu lingkungan kerja yang baik harus mendukung keseimbangan | Foto via Pinterest @Nature’s Face Markets
Sampai akhirnya ada masa yang bikin membatin, kok bisa jadi begini? Kondisi ini makin terasa waktu memperhatikan hal-hal di kantor. Tim lain kelihatan makin berkembang, dapat arahan jelas dan didukung penuh. Sementara tim kami justru dibiarkan kelimpungan sendirian tanpa pendampingan dari atasan.
Padahal posisi kami waktu itu sebenarnya butuh bantuan tim business development buat mengarahkan jalur bisnis produk ini. Sayangnya, peran penting itu nggak kunjung ditambahkan. Alih-alih melengkapi tim agar fokus kerjaan lebih teratur, kami kembali diminta memaksimalkan yang ada.
Di situ ada rasa janggal yang bikin heran. Produk yang dibangun dari masa awal merintis dengan segala beban multitasking yang ngerjain segalanya sendiri, justru terkesan dikesampingkan.
Bukannya dapat bimbingan strategi buat melangkah lebih jauh, kami malah kayak dilepas begitu saja tanpa arah. Momen menyadari kenyataan ini yang benar-benar bikin sadar ada yang salah.
Pelajaran penting setelah bertahun-tahun merangkap semua peran

Pelajaran yang bisa diambil ketika terjebak jadi karyawan palugada | Foto via Pinterest @Rutuja Satoskar
Kalau ditarik garis lurus, pengalaman ini sebenarnya nggak sepenuhnya buruk. Ada sisi positif yang bisa dipetik, seperti kesempatan belajar banyak hal baru dan mengasah berbagai kemampuan dalam waktu singkat.
Hanya saja, sudut pandang tentang sense of ownership memang harus ditata ulang. Rasa memiliki terhadap pekerjaan tentu perlu ada agar kita bekerja nggak sekadar gugur kewajiban. Porsinya saja yang harus pas dan tahu batas, jangan sampai rasa memiliki tersebut membuat kita terus menanggung hal di luar tanggung jawab yang seharusnya.
Belajar banyak hal itu bagus kok, tapi kalau berjalan bertahun-tahun tanpa jobdesk jelas dan tanpa arah manajemen, fokus karier malah bisa kabur. Penting untuk tetap objektif menilai apakah pertumbuhan diri dan apresiasi yang didapat sudah seimbang dengan energi yang keluar.
Buat kamu yang lagi di posisi serupa, lelahmu itu valid
Kalau saat ini kamu sedang menjalani ritme kerja yang sama, mengurus segala hal sendirian tanpa kepastian batas tanggung jawab, rasa capek yang kamu rasakan itu wajar banget. Bingung dan kewalahan di tengah tuntutan serba bisa bukan tanda bahwa kamu gagal atau kurang berusaha.
Nggak ada salahnya sih buat pelan-pelan ambil jeda dan melihat kembali kondisi kerja yang sedang dijalani. Kamu berhak atas ruang tumbuh yang tertata dan menghargai peranmu secara utuh, bukan cuma memanfaatkan kesiapanmu buat merangkul semua tugas. Semangat ya!
Oh, ya, kamu bisa terapkan beberapa tips atasi burnout berikut ini supaya harimu bisa lebih baik.