Sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah dipusingkan oleh masalah kewarganegaraan. Bahkan sudah kayak nama aja, jadi warga negara Indonesia itu layaknya pemberian sejak lahir. Meski mungkin banyak kesalahan sistem atau typo dalam pencatatan resmi negara kita, tapi pastinya kamu yakin tercatat sebagai warga negara Indonesia. Bagaimana kalau tidak?! Bagaimana kalau kamu ternyata tidak tercatat atau tidak pernah diakui sebagai warga negara mana pun. Tidak bisa buat KTP, paspor, atau dokumen identitas lain, hidupmu jelas bakal sangat menderita.

Secara kolektif, itulah yang terjadi pada minoritas Rohingya. Bencana kemanusiaan yang sedang bergulir di Myanmar itu, bermula karena kelompok Rohingya tidak diakui sebagai warga negara. Selain konflik politik, ternyata tragedi menjadi stateless atau orang tak bernegara ini juga bisa terjadi pada perseorangan. Inilah kisah memilukan seorang gadis asal Suriah bernama Maha Mamo. Ia tidak diakui sebagai warga negara Suriah karena pernikahan orangtuanya tidak diakui oleh pemerintah Suriah. Kenapa? Sebagaimana kisah Mamo ini dilansir dari BBC, ternyata karena perbedaan agama.

Advertisement

Di Indonesia sendiri, pernikahan beda agama juga merupakan isu yang cukup pelik, baik dari perspektif hukum maupun penerimaan sosial. Tapi kisah dari Suriah ini memberi gambaran baru terhadap apa yang ternyata harus dihadapi anak-anak dari pernikahan berbeda agama. Maha Mamo bahkan sampai harus berkelana ‘mencari’ sendiri kewarganegaraan dan negara yang mau menerimanya. Kini ia malah sudah diakui sebagai warga negara Brazil. Kok bisa?! Itulah yang membuat kisah ini tambah unik dan menarik perhatian dunia. Yuk simak selengkapnya bareng Hipwee News & Feature!

Pernikahan beda agama tidak terdaftar di Suriah dan keturunan dari pasangan beda agama pun tidak bisa mendapat kewarnegaraan Suriah

Maha dan kedua orang tuanya via www.bbc.com

Melalui BBC, Maha Mamo bercerita bahwa ibunya merupakan seorang Muslim, sedangkan ayahnya seorang Kristen. Pernikahan diantara mereka berdua tidak sah secara hukum yang berlaku di Suriah. Anak hasil pernikahan yang tidak legal pun tidak bisa mendapatkan identitas sebagai warga negara Suriah. Karena pernikahan kedua orang tuanya tidak diakui, orang tua Maha pun memilih meninggalkan Suriah dan menetap di Lebanon.

Maha sebenarnya lahir di Lebanon, namun sayangnya negara itu juga tidak bisa menerima kewarganegaraan berdasar tempat kelahiran. Apalagi kedua orang tua Maha berkebangsaan Suriah. Naturalisasi di Lebanon juga merupakan hal yang sangat langka. Akibatnya Maha dan saudara-saudaranya pun tidak memiliki kewarganegaraan atau stateless.

Mungkin nggak punya kewarganegaraan terlihat sepele, tapi imbasnya benar-benar terasa ketika menempuh pendidikan dan mencari layanan kesehatan

Cita-citanya menjadi mahasiswa kedokteran harus sirna karena jurusan ini tidak bisa menerimanya via www.unhcr.org

Advertisement

Di Lebanon, Maha Mamo tidak diperbolehkan untuk mengikuti kegiatan sekolah seperti bertamasya atau study tour ke luar Lebanon. Sementara kawan-kawannya bersenang-senang piknik ke Suriah dan Yordania, ia harus tinggal di rumah. Meskipun Maha sangat berbakat dalam olahraga basket, ia pun tidak bisa mengikuti kejuaraan mewakili Lebanon. Apalagi soal hak-hak layanan kesehatan, Maha dan kedua saudaranya tidak pernah bisa mendapatkannya. Semua itu karena status kewarganegaraan yang tidak ia punyai.

Namun Maha tidak tinggal diam. Ia pun mengirim surat kepada seluruh kedutaan besar. Tidak ada yang memberikan respon, kecuali Brazil

Mencari sendiri negara yang mau menampungnya via riscafaca.com.br

Maha memutuskan untuk berjuang dalam mendapatkan kewarganegaraan, Ia pun megirimkan surat permohonan dan menceritakan kisahnya kepada seluruh kedutaan besar. Tidak ada yang memberikan respon kepadanya, kecuali negara Brazil. Brazil dengan lapang dada bersedia menerima Maha dan kedua saudaranya untuk menjadi warga negara Brazil. Pada Mei 2016, dibantu oleh organisasi yang menangani masalah kewarganegaraan yaitu UNHCR, Maha akhirnya bisa mendapatkan visa legal dan mengurus kewarganegaraan secara sah di Brazil.

Bukan tanpa pengorbanan, Maha sebelumnya harus kehilangan kakaknya yang mati dirampok di Brazil karena belum bisa berbahasa Latin

Harga mahal yang harus ia bayar via riscafaca.com.br

Brazil telah memberikan Maha dan kedua saudaranya ‘hadiah’ dan mengakui keberadaan mereka sebagai warga negara naturalisasi. Meskipun naturalisasi membutuhkan waktu hingga 15 tahun tinggal di Brazil untuk mengesahkannya, namun Brazil telah memberikan kelonggaran untuk mengesahkan visa Maha Mamo dan kedua saudaranya. Menetap di Brazil, Maha berusaha berdaptasi dan mempelajari bahasa Latin. Namun sayang, ada harga mahal yang harus ia bayar. Yaitu ketika kakaknya harus tewas tertembak saat dirampok, hanya karena ia tidak tahu bahwa perampok tersebut meminta jam tangan dan dompetnya.

“Aku kehilangan seseorang yang paling berharga dalam hidupku. Dia (kakakku) telah tewas tertembak. Hanya karena beberapa orang meminta jam tangan dan dompetnya, dan ia tidak memahami apa yang mereka katakan. Mereka pun menembaknya.” Maha Mamo.

Saat ini, Maha bekerja di peternakan di Brazil dan menjadi aktivis untuk memperjuangkan orang-orang yang bernasib sama dengannya

Aktivis kewarganegaraan via www.unhcr.org

Meskipun akhirnya terpisah jauh dari orang tuanya, Maha Mamo berusaha menjalani hidup sebaik mungkin di Brazil. Ia bekerja di sebuah peternakan dengan dibantu oleh kawan Facebooknya. Setelah tiga tahun berpisah, ibu Maha menyempatkan diri ke Brazil untuk mengunjungi kedua anaknya. Suasana haru pun menyelimuti pertemuan mereka. Saat ini bahkan Maha Mamo bekerjasama dengan UNHCR, sebuah organisasi di bidang kewarganegaraan, menjadi pembicara di banyak seminar dan workshop serta berbagi cerita soal pengalamannya. Ia berharap suatu saat presiden Brazil akan benar-benar memberikannya kewarganegaraan.

“Ketika nantinya aku mendapat kewarganegaraan, aku akan berteriak, aku akan menangis, aku akan mengunggah status Facebook! Aku akan pergi ke Disney World! Ke Paris! Ke Itali! Dan keliling dunia! Aku akan berteriak sekencang-kencangnya: Aku akhirnya hidup!”

Lalu bagaimanakah status anak yang lahir dari pasangan beda agama di Indonesia? Bersyukur, status mereka ternyata tidak sepelik Maha Mamo

Menikah beda agama di Indonesia via www.muslimah.co.id

Kalau bicara soal menikah beda agama, Indonesia juga merupakan salah satu negara yang tidak mengakomodasi pernikahan berbeda keyakinan. Pernikahan yang tercatat secara sipil adalah pernikahan yang disahkan secara agama, jika tidak maka tidak akan ada legalitas sosal status istri. Akibatnya, perceraian juga nggak ditangani hukum, begitu pula hukum warisnya. Sedangkan anak yang lahir dari pernikahan yang tidak tercatat secara sipil tetap akan jadi WNI, namun berstatus sebagai anak yang lahir diluar kawin. Anak tersebut juga tidak ada bisa menuntut legalitas waris dan status anak yang sah dari ayahnya. Akta kelahiran tetap bisa dibuat, namun hanya akan tercatat nama ibu yang dibuktikan dari rumah sakit dimana sang ibu dirawat ketika melahirkannya.

Sebagai orang yang lahir dengan kewarganegaraan dan memiliki identitas yang sah. Kita patut bersyukur, dapat menikmati fasilitas negara dan juga melaksanakan kewajiban untuk mengharumkan nama bangsa. Di luar sana, banyak orang yang mungkin tengah berjuang seperti Maha Mamo, dan seperti orang-orang Rohingya, yang berusaha mati-matian karena terbentur regulasi kewarganegaraan. Semoga kita bisa lebih bijak memaknai berita ya guys!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya