Pesta olahraga Asian Para Games 2018, akhirnya resmi dibuka minggu lalu. Pembukaannya dihadiri langsung oleh Presiden RI, Joko Widodo. Kompetisi dengan 18 cabang olahraga ini diselenggarakan di Jakarta sampai 13 Oktober 2018 besok. Sedikit berbeda dengan ajang Asian Games 2018 kemarin, para atlet yang bertanding di Asian Para Games ini seluruhnya memang penyandang disabilitas. Meski terlahir dengan ketidaksempurnaan fisik, tapi semangat mereka untuk berlaga di kompetisi se-Asia ini patut diapresiasi.

Namun, harus diakui kalau penonton di Asian Para Games ini memang tidak seramai Asian Games kemarin. Dari pengakuan seorang pengguna Instagram yang diunggah akun Lambe Turah, tribun penonton bahkan hampir kosong. Padahal beberapa cabor sudah menggratiskan tiket masuk lho!

Advertisement

Tentu aja fakta di atas bisa berdampak pada kondisi mental para atlet. Susah-susah berlatih dan berjuang membawa nama Indonesia, eh kok malah nggak ada yang nonton. Mungkin ini 4 alasan kenapa Asian Para Games masih sepi pengunjung, meski tiket sudah gratis. Simak bareng Hipwee News & Feature yuk!

1. Bisa jadi karena promosi acaranya kurang maksimal. Soalnya ada lho yang ternyata baru tahu ada Asian Para Games setelah main-main ke Gelora Bung Karno (GBK)

Banyak yang tidak tahu ada kompetisi Asian Para Games via sport.bisnis.com

Seorang pria bernama Erick Jumanda yang ditemui Tempo, mengaku kalau baru tahu ada perhelatan Asian Para Games justru setelah ia nggak sengaja main-main ke GBK. Saat itu ia mengatakan kalau diajak temannya ke GBK, tapi ternyata pas sampai di sana ada acara pembukaan Asian Para Games. Kurangnya informasi warga soal ajang olahraga ini bisa jadi karena promosi acaranya di awal memang kurang maksimal. Kalau diperhatikan, baik di media massa maupun media sosial, emang jarang sih lihat poster atau counting down Asian Para Games. Ya nggak sih?

2. Selain promosinya kurang heboh, mungkin pemasaran tiketnya juga kurang maksimal. Buktinya tiket yang dijual untuk opening dan festival hari pertama masih sisa banyak

Loket ticketing nggak terlalu ramai via mataram.antaranews.com

Advertisement

Promosi yang kurang maksimal ini ternyata berdampak pada penjualan tiket yang juga tidak cukup memuaskan. Saat pembukaan kemarin, nggak terlihat antrean penonton di loket penjualan tiket. Seorang petugas ticketing, Bram Yurakucho, mengaku kalau penjualan tiket waktu opening hari Sabtu (6/10) kemarin, sejak jam 09.00 sampai sekitar 19.30 baru terjual ratusan. Malah nggak sampai 1.000. Padahal tiket yang ia bawa ada 3.000 lembar. Panitia bahkan sampai meminta tolong calo supaya membantu menjualkan tiket Asian Para Games, dengan sistem bagi hasil.

3. Kemungkinan lain sih bisa jadi euforianya udah tertutup sama antusiasme saat Asian Games 2018 kemarin. Coba pelaksanaannya nggak berdekatan ya?

Masyarakat tampaknya lebih antusias sama Asian Games 2018 kemarin via www.merdeka.com

Ajang Asian Games 2018 memang belum lama berakhir. Bahkan mungkin euforianya masih bisa dirasakan sebagian orang. Belum reda antusiasme orang sama Asian Games, ternyata udah ada kompetisi olahraga lain. Mungkin kondisi ini yang bikin Asian Para Games jadi kurang berasa ‘greget’nya. Saat Asian Games berlangsung kemarin, orang cuma fokus ke sana, dan abai sama promosi yang mungkin sudah dilakukan panitia Asian Para Games. Coba kalau pelaksanaannya nggak terlalu berdekatan, orang mungkin bisa lebih perhatian sama kompetisi olahraga difabel ini ya?

4. Di sisi lain ternyata ada juga klub atau pelatih yang kayak belum siap berlaga di Asian Para Games 2018 ini

Tim renang putra Indonesia gagal bertanding via www.thejakartapost.com

Kompetisi besar sekelas Asian Para Games tentu tidak mentolerir kesalahan atau kecerobohan sekecil apapun. Kemarin, tim renang putra dari Indonesia gagal bertanding hanya gara-gara pelatihnya lupa registrasi. INAPGOC selaku panitia memang memberlakukan peraturan yang cukup ketat pada proses registrasi. Kalau kata pelatihnya, Handoko Purnomo, mereka terlalu fokus meregistrasi perenang yang justru jadwal bertandingnya bukan hari itu.

Kejadian itu menunjukkan kalau ternyata ada klub, khususnya pelatih yang seolah belum siap berkompetisi di Asian Para Games. Kalau ditelusuri, kesalahan simpel macam ini mungkin aja sudah banyak terjadi ya..

5. Ada juga yang bilang kalau sebagian orang justru merasa nggak tega melihat atlet difabel bertanding. Bersimpati boleh, tapi harusnya tetap didukung dong..

Bersimpatik boleh saja, tapi tetap harus didukung dong via www.bbc.com

Alasan lain ada yang berpendapat kalau sebagian orang yang malah nggak tega saat melihat atlet difabel bertanding. Hal ini diperkuat dengan pendapat seorang psikolog, Rena Masri, yang mengatakan kalau masih banyak orang merasa kasihan sama penyandang disabilitas. Mungkin anggapannya kalau difabel itu susah berkegiatan ya. Padahal sebenarnya mereka juga bisa melakukan apa yang kita lakukan lho. Dan kemampuan spesial mereka itu layak banget mendapat dukungan dan apresiasi, salah satunya dengan menonton mereka bertanding.

Melihat masih rendahnya minat masyarakat dalam mendukung atlet difabel, seharusnya INAPGOC, selaku panitia pelaksana Asian Para Games 2018 lebih gencar lagi menyosialisasikan ajang olahraga ini. Karena, justru penampilan para atlet itulah yang bisa jadi daya tarik tersendiri. Selain sosialisasi soal kompetisinya secara umum, mungkin juga perlu mengenalkan cabor-cabor baru yang masih asing di telinga, seperti boccia, lawn bowl, goa ball, dan lain-lain. Bisa juga dengan mengenalkan atlet-atlet difabel berprestasi dari Indonesia. Biar lebih ‘dekat’ gitu~

Jadi, yuk ajak teman, keluarga, atau pacar buat nonton Asian Para Games 2018!

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya