“Antara perempuan dan laki-laki tidak mungkin terjalin hubungan persahabatan. Yang ada hanya nafsu, kebencian, saling memuja, cinta, tapi tidak untuk persahabatan.” – Oscar Wilde

Mungkin kamu termasuk orang yang mengamini kutipan pernyataan di atas. Tapi bisa jadi kamu justru nggak percaya karena kamu merasa bisa-bisa aja menjalin hubungan persahabatan sama lawan jenis, tanpa terlibat asmara. Perdebatan itu ternyata nggak cuma sering kita lakukan lho, bahkan banyak peneliti dengan rasa penasaran yang sama kayak kita, menjadikannya sebagai topik penelitian.

Advertisement

Pun dengan para seniman, yang sering terinspirasi dari asumsi di atas. Kalau kamu penggemar film-film lawas, kamu tentu tahu film ‘When Harry Met Sally’ tahun 1989. Atau serial TV Friends yang fenomenal itu. Ada juga film ‘Friends with Benefits’ yang dibintangi Mila Kunis dan Justin Timberlake. Semua buah karya itu berangkat dari pertanyaan: Apakah persahabatan lelaki dan perempuan bisa benar-benar terjadi? Hipwee News & Feature sudah merangkum pendapat beberapa ahli yang angkat bicara soal ini. Yuk, simak!

Segitu banyaknya dibahas, sampai-sampai para ahli psikologi dan gender benar-benar meneliti keabsahannya lewat sederet riset

Romantic vs queerplatonic vs platonic relationship via teacakeandsherlock.wordpress.com

Hubungan ‘misterius’ cowok dan cewek ini sebenarnya bukan hal yang baru lagi di dunia penelitian. Dari dulu hingga kini, sudah banyak dilakukan riset yang mencoba menjawab statement yang diperdebatkan tersebut. Keyakinan kalau laki-laki dan perempuan nggak bisa benar-benar bersahabat ini sebenarnya lahir dari era dimana cewek itu di rumah dan cowok itu bekerja. Mereka hanya mungkin dipertemukan kalau memang ada keterkaitan asmara satu sama lain, yang dilanjutkan dengan hubungan berumah tangga. Dengan kata lain, mereka cuma bisa ketemu ya kalau udah serumah.

April Bleske-Rechek, peneliti di bidang hubungan pria-wanita, termasuk yang setuju kalau cowok cewek memang nggak bisa bersahabat

Nggak bisa sahabatan via www.express.co.uk

April Bleske-Rechek, seorang ahli psikologi di University of Wisconsin-Eau Claire, termasuk golongan yang meyakini bahwa pria dan wanita yang bersahabat pasti ujung-ujungnya akan saling tertarik satu sama lain. Apalagi kalau salah satu atau keduanya menarik secara fisik. Dari hasil risetnya, ia juga menemukan bahwa pria lebih cenderung memandang wanita dari sisi seksualnya. Jadi kalau perempuan melakukan sesuatu padanya, ia sering menanggapnya berbeda. Padahal bisa jadi si perempuan nggak bermaksud apapun. Kalau zaman sekarang sih namanya baper (bawa perasaan).

Advertisement

Tapi di sisi lain April juga nggak menampik kemungkinan mereka memang bisa berteman, dengan catatan, keduanya sama-sama jujur dan terbuka tentang tujuan hubungannya.

Begitupun dengan survei yang dilakukan MeetMe. Dari risetnya, lebih dari 50% responden menyatakan pernah berfantasi secara seksual dengan sahabat beda kelaminnya

Fantasi seksual via www.thehealthsite.com

Senada dengan riset yang pernah dilakukan MeetMe, sebuah perusahaan jejaring sosial, yang melakukan polling terhadap 6.500 penggunanya. Temuannya itu menyatakan kalau lebih dari 50 persen responden mengaku pernah berfantasi secara seksual dengan sahabat beda kelaminnya. Menariknya lagi, 4 dari 10 respondennya mengatakan pernah berkencan dengan sahabatnya lho! Sedangkan 2/3-nya mengaku akan melakukannya juga jika ada kesempatan.

Profesor Robin Dunbar, dari Oxford University, juga berpendapat kalau cewek sebenarnya bisa aja punya sahabat cowok, yang benar-benar dianggap layaknya saudara. Tapi sayangnya, cowok cenderung nggak bisa melakukannya. Pasti ujung-ujungnya suka.

Tapi lain halnya dengan profesor di bidang gender dan seksualitas bernama Sandra Faulkner, yang menyebut kalau cowok dan cewek nggak bisa sahabatan itu cuma omong kosong

Bisa bersahabat doang kok via thoughtcatalog.com

Kontradiktif dengan beberapa ahli yang sudah disebut di atas. Sandra Faulkner, profesor di bidang gender dan seksualitas dari Bowling Green State University, menyebut istilah “heteronormative script“. Dimana kalau pola pikir kita menganut skrip tersebut, kita akan memandang setiap pria dan wanita yang bersama pasti punya hubungan asmara. Tapi menurut Faulkner, tentu nggak semua orang berpikir memakai ‘skrip’ tersebut. Intinya, semua tetap berdasarkan sama asumsi dan pola pikir manusia itu sendiri.

Ya pada akhirnya semua kembali lagi ke dua orang yang menjalani sih. Kalau memang dari awal sepakat buat berteman aja, ya pasti bisa mau gimanapun dekatnya. Apalagi kalau masing-masing udah punya pasangan sendiri-sendiri. Tapi kalau intensinya dari awal nggak jelas, kalau dikodein suka nangkep, bukan nggak mungkin suatu hari malah saling jatuh cinta~

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya