Jarang Dapat Sorotan, Petugas Cleaning Service Juga Layak Diapresiasi di Tengah Pandemi

Petugas cleaning service di tengah pandemi

Di tengah pandemi corona seperti ini, perhatian publik banyak tertuju pada profesi-profesi yang ada di garda terdepan, seperti dokter, perawat, petugas laboratorium, dan mereka yang bekerja langsung menangani pasien Covid-19. Mereka memang layak diapresiasi setinggi-tingginya, karena setiap harinya harus bertaruh nyawa demi bisa menyembuhkan pasien corona. Seringkali mereka juga bertugas hingga lewat dari jam kerja. Tak heran kalau masyarakat banyak yang iba, terlebih pada tenaga medis yang gugur akibat ikut terjangkit virus corona.

Advertisement

Namun selain para pekerja medis di atas, ada profesi lain yang juga sama-sama berisiko terjangkit karena bertugas di lingkungan ā€œzona merahā€, yakni cleaning serviceĀ atau petugas kebersihan di rumah sakit. Setiap hari, mereka lah yang membersihkan ruangan isolasi, tempat tidur pasien, atau kamar mandi di rumah sakit. Mereka juga mau nggak mau harus melakukan kontak fisik dengan pasien Covid-19. Sayang, para cleaning service ini seringkali dilupakan, padahal mereka sama-sama berjasanya dengan dokter atau perawat.

ProfesiĀ cleaning serviceĀ sering luput dari pemberitaan. Sejak wabah corona merebak, perhatian publik memang lebih banyak tertuju pada dokter atau tenaga medis

Jarang disorot via www.idntimes.com

Petugas kebersihan di rumah sakit jarang banget jadi pemberitaan di media. Selama ini publik kebanyakan hanya menyoroti jasa para tenaga medis seperti dokter dan perawat aja. Tak jarang mereka sampai jadiĀ headlineĀ di media massa, dibikin ilustrasinya dan viral di medsos, sampai mendapat bantuan makanan dari para donatur. PadahalĀ cleaning serviceĀ juga termasuk profesi yang layak diapresiasi di tengah pandemi ini. Risiko pekerjaannya sama kayak para tenaga medis. Mereka pun rentan terinfeksi karena sehari-hari terjun langsung membersihkan rumah sakit dan ruang-ruang perawatan.

Tak hanya para tenaga medis aja yang butuh Alat Pelindung Diri (APD), petugas kebersihan pun juga sangat membutuhkannya. Mereka perlu dilindungi!

Mereka juga butuh APD via www.antarafoto.com

Beberapa waktu lalu tenaga medis se-Indonesia sempat kekurangan APD dan masker. Nggak sedikit yang akhirnya bertugas tanpa mengenakan pelindung diri. Bahkan beberapa di antaranya sampai turut terinfeksi. Kurangnya APD itu sebenarnya nggak cuma dirasakan tenaga medis aja, tapi juga petugas kebersihan di rumah sakit. Selain para dokter dan perawat,Ā cleaning serviceĀ pun juga wajib pakai APD, masker, hingga sarung tangan. Apalagi mengingat kalau virus corona juga bisa bertahan di permukaan benda selama beberapa waktu.

Advertisement

Meledaknya jumlah pasien di rumah sakit, membuat banyak petugas kebersihan terpaksa harus mengalami kelebihan jam kerja. Mungkin nggak sedikit juga yang mesti merelakan jam istirahatnya juga

Banyak yang sampai lembur via infopublik.id

Kepala Bidang Pelayanan PenunjangĀ RSUD Wates, Kulonprogo, Yogyakarta Sulalita Saraswati, mengatakan kalau petugasĀ cleaning serviceĀ di rumah sakit tersebut bisa bekerja dari pukul 08.00 sampai 22.00. Kalau ditotal dalam sebulan, mereka bisa kelebihan jam kerja sampai 52 jam! Jarang sekali orang peduli sama profesi ini, padahal kontribusinya luar biasa dan patut diapresiasi. Kata Sulalita, kemungkinan besar para tenaga kebersihan ini bakal mendapat kompensasi dari Pemda. Semoga aja beneran deh, soalnya masih banyak lo petugas kebersihan yang berstatus kontrak dengan gaji minim. Kebanyakan mereka ini adalah tenagaĀ outsourcing.Ā 

Nggak cuma itu aja,Ā cleaning serviceĀ pun juga rentan mendapat perlakuan diskriminatif dari warga sekitar rumahnya. Sudah ada kejadiannya lo ini

Rentan dikucilkan via www.nytimes.com

Syaiful dan keluarganya dikucilkan warga sekitar hanya karena Syaiful ditetapkan sebagai PDP. Pria itu merupakanĀ petugas cleaning serviceĀ di sebuah rumah sakit di Porong, Sidoarjo. Padahal sebelumnya, Syaiful nggak merasakan gejala apapun dan sudah melakukan isolasi mandiri. Tapi karena masyarakat minim edukasi, mereka takut tertular. Orang tua Syaiful juga terpaksa harus kehilangan pekerjaan sebagai kuli batu karena diskriminasi warga. Beruntung, ada sejumlah sukarelawan yang membantu keluarga Syaiful memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka pun juga mengedukasi warga soal wabah Covid-19 ini supaya kejadian serupa nggak terulang.

Duh, sedih banget ya, padahal para petugasĀ cleaning serviceĀ ini juga punya risiko yang sama dengan petugas medis di rumah sakit, sama-sama rentan tertular. Semoga aja dengan ini kita bisa lebih menghargai mereka lagi ya!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE