Physical Distancing Mungkin akan Berlangsung Sampai 2022. Ini 5 Alasan Rasionalnya

Physical distancing sampai 2022

Sebagian dari kalian mungkin mulai bertanya-tanya, kapan kira-kira imbauan untuk belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah ini diberlakukan. Karena nggak bisa dimungkiri, perasaan bosan dan capek luar biasa mulai terasa memasuki satu bulan karantina massal ini. Nggak sedikit orang mulai rindu sekolah, bekerja di kantor, atau beribadah di rumah-rumah peribadahan. Ada juga yang kangen nongkrong sama teman-teman di kafe favorit.

Advertisement

Pertanyaan besar di atas rupanya telah dijawab oleh sekelompok peneliti dari Harvard T.H. Chan School of Public Health. Mungkin rada kurang enak didengar, soalnya menurut jurnal yang baru saja mereka terbitkan, kemungkinan physical distancing atau jaga jarak fisik akan berlangsung hingga dua tahun ke depan. Tentu aja argumen mereka itu diperoleh berdasarkan fakta-fakta terkait Covid-19 sejauh ini. Kirain-kira apa saja sih alasannya? Simak uraian lengkapnya bareng Hipwee!

1. Sampai sekarang, masih banyak ketidakpastian terkait virus yang tergolong jenis baru ini. Hasil penelitian hari ini, bisa jadi berbeda dengan esok hari

Banyak ketidakpastian via palu.tribunnews.com

Virus yang menyebabkan Covid-19 ini memang berasal dari “keluarga” yang sama dengan virus penyebab penyakit SARS. Tapi meski begitu, virus corona yang sekarang tergolong jenis baru. Makanya, walau sudah melanda dunia sejak kurang lebih 4 bulanan lalu, masih banyak ketidakpastian terkait virus ini. Peneliti dan ilmuwan di seluruh dunia masih terus melakukan riset yang hasilnya pun bisa berubah-ubah.

2. Hasil penelitian yang berbeda-beda itu juga disebabkan oleh virus Covid-19 yang terus bermutasi. Sifat virus kemarin bisa jadi berbeda dengan sifat virus di masa mendatang

Virus terus bermutasi via jambi-independent.co.id

Masih ingat nggak, dulu waktu awal-awal virus ini merebak di Cina, peneliti bilang kalau pasien yang pernah terinfeksi dan sembuh, kemungkinan nggak akan bisa terjangkit lagi di kemudian hari. Beberapa waktu setelahnya, ternyata argumen itu terbantahkan oleh kasus seorang “mantan” pasien yang kembali terinfeksi virus yang sama. Kondisi itu bisa jadi disebabkan oleh sifat virus yang terus bermutasi. Menurut ahli epidemiologi UI, Pandu Riono, virus Covid-19 memiliki materi genetik berupa RNA. Umumnya, virus sejenis itu punya mutation rate yang tinggi dibandingkan virus DNA, bakteri, atau protozoa.

Advertisement

3. Karena serba nggak pasti, pengembangan obat dan vaksin untuk virus ini juga jadi terhambat. Bikin berabe deh pokoknya!

Pengembangan vaksin terhambat via tirto.id

Meski beberapa jenis vaksin untuk virus corona sedang melalui tahap uji coba, tapi nggak bisa dimungkiri kalau pengembangan obat maupun vaksinnya memang rada terkendala karena virus yang terus bermutasi. Anggap aja virus corona ini adikmu yang bandelnya minta ampun. Ortumu terus mencari cara gimana biar adikmu ini bisa lebih gampang diatur. Awalnya, mungkin dengan cara menerapkan denda, tiap dia melakukan kesalahan, uang sakunya dipotong. Tapi lama kelamaan, adikmu menemukan celah lain untuk mengulang kembali kesalahannya, entah dapet inspirasi dari internet, atau dipengaruhi lingkungannya. Akhirnya, sistem denda tadi nggak mempan lagi. Ortumu kembali harus memutar otak gimana biar adikmu tobat.

Kira-kira, seperti itulah rasanya menghadapi virus yang terus bermutasi.

4. Belum lagi kapasitas medis saat ini masih relatif terbatas. Jumlah rumah sakit dan tenaga medis belum mumpuni buat menampung semua pasien yang terjangkit virus corona

Tenaga medis corona via edition.cnn.com

Physical distancing memang perlu dilakukan lebih lama lagi jika mengingat kapasitas perawatan rumah sakit saat ini masih sangat terbatas. Bahkan di negara yang katanya adidaya kayak Amerika Serikat, rumah sakit dan tenaga medis betul-betul kewalahan menghadapi pasien corona yang terus meningkat. Angka kasus dan kematian karena Covid-19 di sana saat ini jadi yang tertinggi di dunia. Kalau physical distancing berhenti dilakukan, bukan nggak mungkin jumlahnya jauh lebih besar.

Advertisement

5. Sebuah riset yang sudah diterbitkan juga menyebut suatu kemungkinan kalau pandemi ini bakal jadi pandemi musiman. Artinya, mungkin suatu waktu akan mereda, namun setelah itu bisa muncul kembali

Kemungkinan bakal jadi pandemi musiman via www.thejakartapost.com

Riset yang diterbitkan di jurnal Science, menyebutkan kemungkinan pandemi ini akan jadi pandemi musiman. Kalau kata riset itu, ada indikasi Covid-19 ini mirip sama wabah virus corona yang sudah-sudah. Jika benar begitu, pandemi Covid-19 harusnya mereda di musim panas, walau nggak hilang sepenuhnya. Lalu besar kemungkinan kalau pandemi ini akan “kambuh” lagi saat musim dingin datang.

Tapiii…

Kabar kalau physical distancing berlangsung sampai 2022 ini sifatnya masih berupa “kemungkinan”. Tentunya bakal lain cerita kalau vaksin sudah berhasil ditemukan (setidaknya bisa bantu menghambat persebaran virus lebih masif, perkara virusnya bermutasi kayaknya bisa jadi urusan belakang, ya nggak sih?), atau fasilitas kesehatan diperbanyak lagi. Namun, walau masih belum pasti 100%, banyak pakar yang nyuruh kita siap-siap atau setidaknya lebih menerima kalau kondisi kayak gini tuh besar kemungkinan bakal jadi “the new normal“; rajin cuci tangan, selalu pakai masker tiap pergi-pergi, atau menghindari kerumunan yang sangat padat. Pertanyaannya, siapkah kita semua menerapkan gaya hidup seperti itu, sampai batas waktu yang sulit ditentukan? Kayaknya, siap nggak siap kudu siap sih…

Yuk, terus tambah kebaikanmu di bulan ramadan ini bersama Hipwee! Jangan lupa kunjungi halaman #RamadanDirumah ya!

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

Editor

An amateur writer.

CLOSE